hitamputih blog kita | hitamputih blog kita | hitamputih blog kita | hitamputih blog kita | Gubuk Jupiter | Gubuk Jupiter |
Google
 
BERBAGI KISAH... KISAHMU, KISAHKU & KISAH KITA
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 November 2007

Sebuah Dialog Dalam Diri oleh Naomi

Pengalaman Spiritualku
(Sebuah Dialog Dalam Diri)
Ditulis oleh : Naomi Firenzee
Pada tanggal : 14 November 2007


Sepasang makhluk itu sedang duduk disamping kanan dan kiriku, mereka tengah berbincang;
“Kamu pernah ke Surga?” Berkata lah makhluk yang ada disebelah kananku. Aku menoleh kepadanya.

“Hah?”
“Aku pernah.”
“Kamu ini bicara apa?”
“Ya! Aku bilang aku pernah. Walau tak sampai mengitari keseluruhannya,” ulang makhluk yang berada disebelah kananku. Makhluk disebelah kiriku memandangnya dengan tatapan melecehkan. Aku menjadi bingung mengikuti percakapan mereka dan menoleh ke kanan dan ke kiri.

“Mengapa kamu menatapku seperti itu? Apa kamu tak percaya pada perkataanku?”
“Kamu menghayal, kan!” Mahkluk sebelah kiriku tersenyum sinis.
“Kamu sama saja seperti mereka, tak percaya pada ucapanku...”
“Hahaha... hari gini, gitu loh!”


“Tahukah kamu, Surga itu indah?”
“Tahu!”
“Apa kamu pernah ke Surga?” Makhluk sebelah kananku kembali mengulang pertanyaannya. Kulihat makhluk sebelah kiriku terkekeh parau.

“Memang kamu pernah? Bicaramu tidak masuk akal!”
“Tapi itulah yang terjadi...”
“Maaf, apa kamu sedang sakit? Atau terganggu otaknya?”
“Tidak, aku tidak sakit. Aku dalam keadaan baik-baik saja.”
“Sinting!”
“Tadinya aku juga berpikir kamu akan bilang seperti itu,” makhluk sebelah kananku tersenyum tulus.

“Aku tidak percaya!”
“Aku tahu...”
“Tapi itu tidak masuk akal!”
“Tidak ada yang mustahil bagi Dia kan?”
“Hmm… Dia menciptakan semuanya serba sepasang, kan? Alam nyata dan alam gaib.”
“Ya... itu benar,”
“Jangan-jangan itu tipu daya setan!”
“Seperti kamu, begitu? Makhluk sebelah kananku kelihatan mengerutkan alisnya, ia tercenung.

Aku mengangguk-angguk sendiri, menimpali perkataan makhluk sebelah kiriku.
“Coba ceritakan bagaimana kronologisnya. Aku ingin mendengar bualanmu!” Makhluk sebelah kiri menyeringai lebar.
“Itu bukan bualanku. Tidakkah kamu pahami bahwa aku tidak sedang bercanda?”
“Yeah—yeah... whatever! Lanjutkan saja, aku sedang ingin mendengarkannya.”
“Baiklah...” makhluk sebelah kananku menghela nafas panjang. Kemudian ia mulai bercerita.

“Malam itu, aku tengah terbaring. Aku ingin tidur, tapi mataku tak mau terpejam. Kupanjatkan doa sebelum tidur kepadaNya, berharap aku segera terlelap. Kutatap langit-langit kamar. Tiba-tiba saja kurasakan tubuhku ringan melayang. Aku terheran, ada apa gerangan. Anehnya, aku melihat tubuhku sedang terbaring dibawah sana…”
“Kamu mimpi, ya?” Makhluk sebelah kiriku kembali tersenyum mengejek.
Aku tergugu mendengar cerita makhluk yang berada disebelah kiriku, mengapa aku merasa ia tengah membicarakan tentang diriku, ya? Aku juga pernah mengalami hal seperti itu. Penasaran, aku menunggu lanjutannya.

“Tidak, aku tidak sedang mimpi. Bahkan saat itu aku sama sekali belum sempat memejamkan mata.” Bantah makhluk di sebelah kananku.
“Lalu?” Makhluk sebelah kiriku menyilangkan tangannya didada, ia menatap tidak percaya.

“Aku terbang melayang, memasuki satu ruang berkabut putih tebal. Aku tak bisa melihat apa-apa. Kubuka mataku ketika kurasakan kabut itu mulai menipis. Dan aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat.”
“Apa yang kamu lihat?” desak makhluk sebelah kiriku, penasaran.
“Taman dipinggir hutan. Sangat indah...”
“Ah, masa! Jangan-jangan kamu dibawa temanku, hahaha…!”
“Apa temanmu tinggal di negeri seindah itu? Bahkan ‘Dia’ pun tak mengijinkan kamu dan kerabatmu menginjakkan kaki di tanah itu kan? Tahukah kamu akan hal itu?”
“Ya! Aku tahu!” Ia mendengus, kesal. “Lanjutkan!”

“Aku mengapung di udara, menghirup aroma bunga. Bagaikan musim semi, semua bunga bermekaran...”
“Kamu mati suri kali, tuh?”
“Tidak, aku tidak mati suri. Aku juga bingung, aku tidak tahu pasti apa yang tengah terjadi. Satu yang pasti, taman itu benar-benar sangat indah. Seumur hidup baru kali itu aku melihat keindahan terpampang dengan sangat jelas di depan mataku.”
“Bukankah hal itu sudah kamu ceritakan berulang-ulang dari tadi!”
“Ya, aku tahu... hanya saja aku tidak dapat menemukan kata-kata yang tepat untuk menjelaskannya. Tempat itu begitu indah. Tanahnya seperti gurun di padang pasir, tetapi bunga-bunga tumbuh begitu subur diatasnya. Cuacanya terang, namun tidak panas, malah sejuk yang diiringi hembusan angin yang sepoi-sepoi. Taman itu terletak di pinggir hutan. Hutan yang begitu hijau, dengan pohon yang besar-besar menjulang tinggi seakan-akan hendak mencakar cakrawala. Tapi aku tidak tahu, apa di sana ada cakrawala?”

“Terus ? cuma segitu saja, ceritamu?”
“Tidak. Aku terus mengapung, melayang-layang entah kemana. Kemudian aku melihat satu perkampungan yang terletak di atas tebing. Aku hanya menengadah menatap bangunan di sana tanpa bisa mencapai tempatnya. Bangunan itu seperti komplek perumahan. Bangunan yang begitu megah, terbuat dari emas murni berkilau dan berbentuk seperti mesjid Nabawi. Subhanallah...”

“Apa yang terjadi!”
“Aku mendengar suara nenekku tengah melantunkan ayat suci Al-Qur’an dengan begitu indahnya.”
“Nenekmu? Dari mana kamu tahu itu suara nenekmu!” Makhluk sebelah kiriku menyeringai sinis.
“Ya, aku tahu itu beliau. Bahkan beliau sempat bercakap-cakap denganku.”
“Apa katanya?”
“Ia belum bisa tenang. Tanteku, anak bungsunya yang paling kecil selalu saja ditindas mereka.”
“Mereka?”
“Iya. Mak Tuo-ku dan tanteku yang satu lagi. Mereka memperlakukan tante bungsuku dengan kejam...”

“Hahaha... Itu dia temanku!” Makhluk sebelah kiriku kembali terkekeh parau.
“Ya... aku juga merasa ia salah satu temanmu...”
“Lalu, apa yang terjadi?”
“Aku melayang menjauh. Tak dapat lagi mendengar suara nenekku dengan jelas. Sepertinya ada yang mengontrol diriku… seketika aku berputar dengan begitu cepatnya, menuju pada satu pusaran. Kupejamkan mataku karena rasa mual yang mulai melanda.
Tiba-tiba saja aku merasakan diriku jatuh terhempas, kembali pada tubuhku. Aku tersentak, dan langsung terduduk.”

“Cerita bohong!”
“Tidak, aku tidak mengabarkan berita bohong seperti dirimu!”
“Dusta!” Makhluk sebelah kiriku tersenyum dingin.
“Tidak... aku sudah menanyakan perihal yang menimpa diriku itu.”
“Bertanya pada siapa? Kakek tua penunggu Surau itu?” Ejek makhluk sebelah kiriku.
“Kakek tua itu, dia seorang Kyai…”
“Apa penjelasannya?”
“ Semua itu benar...”
“Bahwa kamu ke Surga?”
“Ya, benar!”
“Benar? HAHAHA... Narsis!”
“Tapi beliau seorang ahli ibadah.”

“Bodoh! Kakek tua juga manusia, kan? Coba tanyakan, apa dia pernah mati dan pergi ke Surga?”
“... ...”
“Hey! Mengapa diam!”
“Kamu tak percaya pada ceritaku, kan?” Desah makhluk sebelah kananku.
“Tentu saja tidak!”
“Baiklah... hanya ada satu yang tak bisa bohong selain Dia…”
“Siapa?”
“Nurani.”
“Maka, tanyalah pada nurani!” Serentak mereka berdiri dan menoleh kearahku.

Aku terkesiap! Mengapa tiba-tiba saja mereka mengikutsertakan aku dalam argumen mereka? Ahh, sepertinya aku lebih senang diwaktu menjadi pendengar!

“Bukan kau! Tetapi dia yang ada dalam dirimu.” Mereka menunjuk tepat di dadaku.

Akupun menunduk, memperhatikan arah telunjuk mereka. Terlihat mahkluk yang tadinya duduk di sebelah kananku tengah berkonsentrasi menatap diriku. Akupun bertambah bingung. Namun, sepertinya aku mendengar suara-suara yang melintasi alam bawah sadarku. Kemudian makhluk yang berdiri di sebelah kananku itu tersenyum menatapku.

“Hey! Mengapa tersenyum! Apa katanya!” Tiba-tiba saja makhluk sebelah kiriku berteriak.

Aku hanya terpekur menatap lantai.

“Hey! Jawab!” Teriaknya lagi.

“Diam!” Bentakku.

“Si Nurani itu bilang apa, huh!”

“Apa kau benar-benar ingin tahu!” Aku mendelik marah.

“Ya!"

“Lahawlawalaquata illabillahil‘aliul adziiim...” Desisku pelan.

“Arrrghhh...!” Blass! Serta merta mahkluk yang berada disebelah kirikupun menghilang.

“Berwudhu’ lah, pujilah dan panjatkanlah do’a pada Yang Maha Kuasa... dengarkan kata nuranimu.” Makhluk sebelah kananku menasehatiku.
Aku mengangguk, lalu beranjak mengambil 'wudhu'.

***
Lama aku duduk termenung memikirkan pengalaman spiritual yang telah menimpaku beberapa tahun yang lalu. Sampai sekarang kejadian itu masih saja berputar-putar dalam pikiranku, seakan-akan baru terjadi kemarin malam. Selanjutnya aku duduk bersimpuh diatas sajadah. Menangis, berdzikir dan memanjatkan do’a.

Ya Rabbi, ya Illahi... adakah tempat di surga bagi seorang pendosa sepertiku...?

***

Read more.....

Selasa, 09 Oktober 2007

PENANTIAN_Oleh Regina Mae




PENANTIAN
Ditulis oleh : Regina Mae
Pada tanggal : 09 Oktober 2007

Januari 2004, kubiarkan gelombang yang datang dan pergi membasuh kakiku yang mulai penat menyusuri pantai. Dua jam sudah aku menunggu kedatangan kapal-kapal mungil dari Nias. Dengan harapan satu diantaranya membawa sosok yang sudah beberapa bulan ini meninggalkan aku. Beberapa mata memandangku dengan tatapan yang tak bisa aku mengerti, entah bosan, atau mungkin heran karena aku tak bisa diam, duduk tenang seperti mereka. Menunggu, bukan kah aku dan mereka sama-sama menunggu. Tapi mereka menunggu kepastian, sementara aku, entahlah.


Satu lagi, kapal berlabuh. Jantungku kembali berdegup. Sepasang suami istri melintas di hadapanku. Disongsong teriakan haru seorang gadis seusiaku.

“Semua habis nak, tak ada lagi yang tersisa, cuma badan ini yang bisa bertahan”. Samar ku dengar pembicaraan mereka.

Tiba-tiba aku teringat kembali ucapan kepala sekolah beberapa jam yang lalu,

“Bu Tia, sampai saat ini belum juga ada kabar dari Pak Anton,” “Padahal masa cutinya sudah habis sejak seminggu yang lalu, mudah-mudahan beliau tidak ikut jadi korban.”

Persendianku terasa lemah, rasanya sia-sia aku menunggu karena sejak gempa meluluhlantakkan Aceh dan Nias, tak satupun kabar yang aku terima dari Anton. Pihak sekolah pun telah mengupayakan berbagai cara untuk mendapatkan kabar dari Anton, namun sampai detik ini tak jua kunjung ada kabar dari tunanganku itu.

Sebuah tepukan di pundak membuyarkan lamunanku. Pak Umar, kepala sekolah tempat aku dan Anton mengabdi telah bediri di belakangku. Rupanya beliau menangkap keresahanku tadi, hingga menyusulku ke sini. Berdua kami membisu, menunggu lagi dengan harapan yang tersisa.

Senja hampir datang, kapal terakhir berlabuh. Tapi tak ada lagi harapan di hati kami. Anton takkan kembali, ia mungkin telah terkubur bersama orang-orang yang dikasihinya di kampung halamannya. Dengan langkah gontai, Aku dan Pak Umar melangkah meninggalkan tepian dengan perasaan yang tak lagi menentu.

“Pak Umar!”, “Bu Tia!”. Teriakan itu reflek membuat kami berbalik. Sungguhkah yang berdiri di depanku ini adalah dia yang tadi kutunggu dengan harap-harap cemas. Terimakasih Tuhan, engkau kembalikan ia padaku utuh tanpa kurang apapun.

Ketika sosok itu mendekat, oh... harapan itu kembali buyar,

“ada apa pak Fery?“ suara pak Umar.

“Pak Anton dirujuk ke rumah sakit pusat di sini, beliau masih koma, kemungkinan untuk hidup normal sangat tipis, kemungkinan lumpuh, kemungkinan... “ Entah kemungkinan apalagi yang diucapkan Ferry, yang aku tahu langit tiba-tiba berputar dan semua gelap.

Sebentuk cincin melingkar di jari manisku. Cincin tunangan yang di pasang Anton seminggu sebelum keberangkatannya.“ Janji nunggu aku ya, awas klo bandel“, terngiang kembali ucapannya sebelum ia meninggalkan aku menemui keluarga yang dicintainya untuk di boyong ke kota ini meminang aku.

“Tia...,“ sebuah suara menyentakkan lamunanku.“Jadi kita berangkat?“ aku mengangguk lemah seakan aku tak mampu memutar kepalaku lagi.

Ku pandangi sosok yang sangat aku kagumi itu, terbaring tak berdaya dengan bantuan alat-alat medis untuk menopang hidupnya. Bila alat itu di lepas aku tak mampu membayangkan hal terburuk yang mungkin terjadi. Aku hampir tak bisa mengenali wajahnya, nyaris dibalut perban keseluruhannya. Hanya pertolongan Tuhan yang mampu membuatnya bertahan dihimpit puing-puing bangunan selama hampir duapuluh empat jam.

Ku pandangi lagi tubuh lemah itu sambil memohon dalam hati agar ia dikembalikan padaku, biarkan ia temani langkahku walau mungkin tak seperti dulu. Aku akan menanti dan menerima seperti apa pun keadaannya.

***

Read more.....

Selasa, 02 Oktober 2007

ARTI SEBUAH TOGA_oleh Regina Mae



ARTI SEBUAH TOGA
Ditulis oleh : Regina Mae
Pad tanggal : 02 Oktober 2007

Sendiri ku telusuri jalanan kota, panas terik membakar kulitku yang kecoklatan. Anganku melayang terbang, seakan aku hanya bayang-bayang dan tak satupun yang mampu memahami kegundahanku, kebingunganku dan rasa ketidak mengertianku tentang perjalanan hidup yang begitu berliku menyeret langkah kecilku hingga terseok-seok tak menentu. Mimpi, apa mungkin aku bermimpi, ah… mimpi apa yang tak pernah terjaga, mimpinya orang mati, tapi apakah orang mati masih bisa bermimpi. Hah…, hanya hempasan nafas berat yang sanggup aku keluarkan, ditengah kebimbangan akan jalan mana yang harus aku tempuh. Bertahan di tengah kerasnya kehidupan kota sambil bermimpi tuk jadi orang dengan modal selembar ijazah dan titel atau kembali pulang turun ke ladang dan melupakan impian jadi orang.



Perlahan sesal muncul di hatiku, andai dulu aku tak bermimpi ingin jadi orang mungkin saat ini aku sudah jadi orang. Empat tahun aku habiskan waktu, tenaga, fikiran dan harta orang tua yang tak seberapa hanya untuk sebentuk titel sarjana yang begitu aku dambakan. Namun aku baru terjaga saat menyadari bahwa titel yang aku banggakan tak mampu membuatku jadi orang. Sementara teman-temanku yang memutuskan bekerja selepas SMU ke berbagai penjuru daerah sudah menjadi orang. Mereka sudah memiliki segalanya dan yang terpenting mereka sudah mampu membahagiakan orang tuanya dengan materi, walaupun mereka tak bergelar sarjana. Sementara aku entah sampai kapan ayah dan ibuku akan bergelimang lumpur di sawah milik orang lain, mengharap upah untuk makan dan biaya kuliah adikku. Tak jarang pertengahan bulan masih harus mencari pinjaman pada tetangga yang mampu. Entah mengapa orang tuaku begitu ingin semua anaknya jadi sarjana. Biar gampang jadi orang, punya banyak uang dan yang paling penting tak bernasib seperti mereka. Walau tak jarang ejekan kiri kanan mencibirkan keinginan itu. Keinginan yang sebenarnya sangat mulia. Dan pasti atas ijin NYA anakmu pasti jadi sarjana, karena mereka cukup tau di untung, bisa hidup dan kuliah dari tetes keringatmu. Tapi apa hendak dikata, sampai saat ini anakmu tak jua jadi orang. Sementara kerut-kerut di wajahmu telah bertambah dimakan usia, menunggu impian jadi kenyataan.
Andai saja dulu aku memilih ikut dengan Titin ke Batam mungkin saat ini aku sudah punya rumah layaknya istana. Kalau saja aku ikut dengan Ani ke Pekan Baru mungkin kedua orang tuaku sudah menjadi haji. Bila saja aku ikut dengan Marni ke Jakarta mungkin sudah ada sedan di rumahku. Apalagi kalau ku ikuti saran Tuti untuk bekerja di Singapura mungkin saat ini aku sudah jadi konglomerat di kampung. Tak habis jari sebelah tangan mereka sudah mendulang sukses dan mampu jadi orang. Ah…, tapi apa perlu kusesali walau tak dapat aku pungkiri ada kebanggaan di hatiku bisa sekolah tinggi. Paling tidak aku punya prestise bila ada yang bertanya, tapi apa itu penting dibandingkan materi yang justru merupakan satu prestasi bukti kesuksesan
Mentari semakin ganas menyengat kulitku, di sebuah kedai minuman aku berhenti. Segelas es campur mungkin mampu melepaskan dahagaku sambil melepas penat. Sudah puluhan kantor aku masuki untuk mencari pekerjaan, tapi begitu banyak alasan untuk menolakku, tanpa memberi kesempatan mencoba. Ah…, aku sudah mulai lelah, mungkin lebih baik aku pulang saja cari uang di ladang atau aku merantau saja setahun dua, biar aku bisa cari uang dan jadi orang. Yah…,keputusanku sudah bulat, aku pulang kampung saja. Minta restu ibu dan bapak, aku mau pergi mencari materi biar aku jadi orang. Biar titel yang ku punya aku kantongi saja, asalkan aku bisa jadi orang.
“Laris, mbak” seorang tamu yang baru datang menyapa penjaga warung yang sedang membuat minuman pesananku.
“lumayan, bu.” Si tamu duduk disebelah ku,
“gimana kabar si Anton” tanyanya lagi.
“Alhamdulillah, bulan depan mau wisuda”.
“Wah…,syukur lah mbak biar usaha begini anaknya bisa jadi sarjana, bentar lagi pasti jadi orang”.
Aku tersedak, minumanku tersembur keluar. Dua orang yang sedang bercakap-cakap tersebut memandang heran ke arahku.

*****

(Cerita ini aku tulis berdasarkan pengalaman dan cerita teman-teman yang masih pada bingung mencari pekerjaan. Gelar sarjana yang sudah di dapat, sama sekali tidak bisa di andalkan untuk menopang kebutuhan sehari-hari)

Read more.....

ONE DAY IN SCHOOL_oleh Naomi Firenzee



ONE DAY IN SCHOOL
Ditulis oleh : Naomi Firenzee
Tanggal : 26 Sep 2007
------------------------------

"Hoy! Lagi ngapain lo disini!?!" bentak seseorang dari belakang.

Reflek Jimmy langsung menolehkan kepala kearah pemilik suara berat tersebut. Masih dengan raut muka kaget, Jimmy menatap sosok orang yang membentaknya tersebut. Seorang laki-laki dengan tubuh gempal, tinggi besar, sedang menimang-nimang sebuah balok kayu. Dengan gaya mengancam, laki-laki tersebut menatap tajam kearahnya.


"Apa urusan lo, nanya-nanya? Lo pengen nyari gara-gara ama gue, huh!" Jimmy balas mengancam.

"Gue tanya apa kerja lo, disini! Lo mau gue gebukin ama ni balok, apa? Kalau nggak, cepat lo jawab gue, lalu angkat kaki lo dari sini!" bentak laki-laki tersebut sambil mengulangi kembali pertanyaannya tadi.

Dengan wajah merah padam, karena menahan amarah. Jimmy mengedarkan pandangannya ke sekitar tempat mereka berada.

“Sepi...,” pikirnya.

"Heh! Lo kalau berani, buang tu balok! Ayo duel!" Jimmy balik menantang dengan mengepalkan tangannya.

"Oke!" Laki-laki tersebut membuang balok yang ada ditangannya, dan segera melangkah mendekati Jimmy yang sudah siaga.

Perkelahian pun terjadi, tanpa ada seorangpun yang berada disekitar belakang pasar tersebut mengetahuinya. Perkelahian yang sama sekali tidak seimbang. Perkelahian antara remaja yang berpostur tubuh tinggi kurus, melawan laki-laki yang berbadan tinggi besar dengan otot-otot lengannya yang nampak sangat kekar. Dengan sekedipan mata, sudah jelas kalau laki-laki yang ternyata seorang petugas keamanan pasar tersebut berada diatas angin.

Meski sudah melakukan perlawanan dengan sekuat tenaga, namun pada akhirnya Jimmy kewalahan juga. Semua yang dilakukannya sia-sia, laki-laki penjaga pasar tersebut memang bukan tandingannya.

Sesaat sebelum di pergoki oleh laki-laki tersebut. Sebetulnya Jimmy sedang duduk santai dengan aktivitas 'kecil' nya. Dia berpikir, ditempat sepi seperti di belakang pasar ini, tidak mungkin ada orang yang akan memergoki perbuatannya. Akan tetapi dugaannya keliru. Ketika segala perhatiaannya sedang tercurah terhadap kesibukan aktivitasnya, tiba-tiba dia dihardik oleh laki-laki yang saat ini sedang baku hantam dengannya. Karena kaget, spontan semua daun ganja yang hampir berhasil dilintingnya jatuh berserakan.

Tentu saja dia langsung naik darah!

Sekarang, tubuhnya tergeletak lemah tak berdaya di bawah kaki laki-laki penjaga pasar tersebut. Sambil berusaha menyeka darah yang meleleh dari hidungnya, laki-laki itu dengan bengis menginjak kepalanya.

"Lo beruntung, kali ini gue biarin hidup! Dasar tengik!" Bentak laki-laki penjaga pasar tersebut, kemudian beranjak pergi meninggalkan Jimmy yang tergeletak tak berdaya.

*****

"Fon, lo ngeliat GG, nggak?"

"Nggak, emangnya kenapa, Sha?" cewek yang bernama Fony balik bertanya.

"Ah, nggak…. nggak ada apa-apa kok. Gue cuma mau nanyain Jimmy doang, mana Billy nggak masuk lagi, hari ini". Nisha menghela nafas panjang.

"Ah udah deh, Sha... Nggak usah worry gitu, lah! Cowok lo itu nggak bakalan kenapa-kenapa kok... Lagian, dia kan udah gede!"

"Ya... mudah-mudahan aja dia nggak kenapa-kenapa. Tapi, dia kok bolos lagi, ya?" tanya Nisha, bingung. Tanpa menunggu jawaban, dengan segera Nisha meninggalkan Fony, menuju kelas 3 IPA 4.

"GG! Sini, G!" cowok yang merasa namanya dipanggil menoleh.

"Bentar, ya...," pamit GG, kepada teman sekelasnya. Kemudian dia menghampiri orang yang memanggilnya tersebut.

"Ada apa?" GG menggaruk-garuk kepala yang sebenarnya sama sekali nggak gatal.

"Jimmy! lo tau dia kemana?" Nisha memandang GG dengan tatapan memelas, meminta jawaban.

"Sha... Jimmy itu udah gede, udah bisa jagain dirinya sendiri. Lagian, gue mana tau dia kemana," Jawab GG, seraya mengarahkan pandangan herannya kearah wakil kepala sekolah yang sedang menghampiri mereka berdua. Di lihatnya, bapak wakil Kepala sekolah menatap ke arahnya dengan beringas.

"SINI KAMU!" tanpa basa basi, bapak wakil kepala sekolah langsung menghardik GG.

Dengan raut wajah yang kebingungan, GG melangkah meninggalkan Nisha yang menatapnya keheranan. GG hanya mengangkat kedua bahunya, pertanda dia juga tidak mengerti.

"Ikut saya, ke kantor!" Setibanya dikantor GG disuruh duduk, sementara bapak Wakasek tersebut berdiri dibelakangnya.

"Kamu memang bandel! Makin hari kelakuanmu, makin tidak karuan! Baju tidak pernah dimasukin, celana dicorat-coret, tampang kayak preman. Kamu masih mau sekolah disini atau tidak, hah!!!" hardik bapak Wakasek.

"Yaa... Jelas mau, Pak" GG menjawab dengan tenang.

"Berkelahi, ngancam adik-adik kelas, kamu mau jadi jagoan, ya!" bentaknya lagi.

"Tidak, Pak," GG menjawab singkat, sambil menatap tajam kemata bapak Wakasek, terkesan menantang.

"Apanya yang TIDAK!" seru bapak Wakasek sambil menempeleng kepala GG.

"Eh, BANGSAT, Lo!,” “kalau mau marah, silahkan saja! Tapi jangan pake kekerasan kayak gini, dong!" GG serta merta berdiri, sorot matanya mulai gusar dan tersirat penuh dendam.

"Kamu berani melawan saya, ya!" hardiknya lagi, sambil mendorong tubuh GG kebelakang. "Saya keluarkan kamu dari sekolah ini!."

Gubrakkk!!! Meja dibalikkan GG, yang sudah kalap. "Awas, ya! Kalau lo, sampai berhentiin gue, sekolah ini bakalan hancur! Ngerti, lo!."

"Kamu pikir saya takut, apa!" wajah Bapak Wakasek merah padam. Baru saja Wakasek tersebut selesai bicara, tinju GG sudah melayang tepat di hidung Wakasek tersebut. Belum puas, ditendangnya kepala Bapak itu.

"Lo kira semua murid di sini, takut ama lo! Hah! Lo belum tau siapa gue! Awas kalau sampai gue dikeluarkan dari sekolah ini, lo nggak bakalan selamat!", ancamnya sengit, sambil melangkah keluar.

Mendengar keributan yang terjadi di ruang guru, serentak semua murid yang kebetulan sedang jam istirahat, berhamburan menghampiri ruang guru tersebut. Mereka berebut mencoba mencari tahu, kejadian heboh yang sedang berlangsung. Sementara para guru menyaksikan kejadian tersebut, dengan ketakutan yang terpancar di raut wajah mereka .

"Pak, bapak tidak apa-apa?" salah seorang guru bertanya seraya mengulurkan tangannya mencoba memberikan pertolongan.

"Diam, kau! Biarkan saja! Saya bisa berdiri sendiri!" ujarnya ketus, sambil menepiskan tangan salah seorang guru yang bermaksud membantunya tadi. Namun, dia terjatuh kembali ketika berusaha berdiri sendiri.

Di luar kantor, Nisha mendekati GG, "GG, ada apa, sih? Kok, lo bisa ribut-ribut gitu, ama wakepsek?" tanya Nisha seraya setengah berlari, berusaha mensejajarkan langkahnya dengan GG yang melangkah tergesa-gesa.

"Akh! nggak apa-apa! nggak ada apa-apa!" jawabnya sambil bergegas masuk kedalam kelasnya. Sesaat kemudian, GG keluar lagi dengan tas ransel di bahunya.

"Gue mau pulang, Sha! Gue mau nyari Jimmy dulu!"

"GG, tunggu!" Nisha berusaha menahannya, tapi GG sudah berlalu.

***

Disebuah rumah mungil nan asri...

"Jimmy? Apa yang terjadi dengan dirimu, Nak?" seorang wanita keibuan berusia sekitar empat puluh tahunan menyapa, khawatir. Ketika melihat keadaan anak semata wayangnya, pulang dengan muka babak belur.

"Nggak ada apa-apa kok, Ma...," jawab Jimmy, sambil membuka pintu kamarnya. Tanpa menghiraukan kekhawatiran mamanya, dia langsung masuk ke dalam kamar.

"Sial!" gerutunya.

"Apes banget, gue hari ini,” “Di hajar orang sampai benjut begini, kirain preman biasa, ehh... nggak taunya, ternyata jagoan disana!" Jimmy terus mengumpat, sambil mengernyitkan kening, menahan rasa sakit di sekujur tubuh dan kepalanya. Setelah menyalakan tape recorder keras-keras, dia segera melangkah ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Melalui cermin, di amati wajah tirusnya, yang penuh dengan lebam kebiru-biruan.

"Jim... ada GG, nih!" mama berteriak dari luar kamarnya.

"Suruh masuk aja, Ma!" seru Jimmy tanpa beranjak dari cermin.

Sedetik kemudian, GG sudah menampakkan batang hidungnya di kamar Jimmy.

"Tumben, lo pulang cepat?" tanya Jimmy, begitu keluar dari kamar mandi. Di lihatnya GG tengah tiduran di atas kasurnya.

"Eh, Jim! Muka lo, kenapa?" seru GG sambil beringsut duduk, begitu melihat muka sahabatnya babak belur.

"Gue habis di hajar orang pasar,”sahut Jimmy dengan raut muka kesal, “Tadinya gue pikir, dia preman biasa yang sengaja nyari gara-gara, nggak taunya dia jagoan disana. Nyesel deh, gue nantangin dia!" Jimmy meringis ketika tanpa sengaja dia menepuk pelipisnya yang robek.

"Hahaha… emang dasar lo nya aja kali, yang lagi apes!” timpal GG sambil tertawa. Kalo gue lain lagi, barusan gue habis ngasih bogem mentah sama Wakasek!" Ujar GG, sambil membusungkan dadanya, bangga.

"Kok bisa?" tanya Jimmy sambil menyalakan sebatang rokok.

"Dia ngancam gue! Mau ngeluarin gue dari sekolah, pake acara nampol kepala gue segala, lagi! Huh!" GG mendengus kesal, sambil mengecilkan suara tape.

"Gila! Nekad banget, lo!" sahut Jimmy, antusias.

"Habis dia yang mulai duluan, sih!" ujar GG, nampak masih kesal.

"Huebat!" Jimmy menatap takjub. Tiba-tiba pintu kamar diketok lagi dari luar.

"Masuk!" jawab GG, santai.

Seraut wajah manis, muncul dari balik pintu yang terbuka.

"Nah, loh...? Ama siapa lo kesini, Sha?" tanya Jimmy, begitu melihat orang yang datang.

"Ama Erick, Fony, dan Vanka," jawab Nisha, datar.

"Hah?!? Vanka ngikut kesini juga?" teriak GG, panik. Dengan spontan dia langsung mengacak-acak rambutnya sendiri.

"Iya! Kenapa? Nggak suka ya!" wajah cantik Vanka nongol dari belakang punggung Nisha, yang kemudian langsung duduk disebelah GG. Disusul oleh Erick dan Fony.

"Jim, kok lo nggak masuk, sih? Kasian Nisha tuh, dari tadi ribut nyariin elo terus!" Tanya Erick, membuka percakapan yang sempat terhenti.

"Eh, Jim… lo... Wajah lo, kenapa?" Tanya Nisha, kaget begitu menangkap ada yang gak beres di wajah kekasihnya.

"Ooh... Ini... Ah nggak apa-apa kok, cuma benjut dikit, jatoh dari motor. Biasalah, namanya juga anak laki...," ujar Jimmy santai, sambil menghembuskan asap rokoknya.

"Jimmy, please... Jangan bohongin gue, Jim...," suara Nisha terdengar bergetar, menahan getir melihat kondisi kekasihnya.

"Eh, bener kok! Suer deh! Biar dimarahin juga, emang kayak gitu keadaan yang sebenarnya kok!" Jimmy mencoba mengelak kekhawatiran Nisha.

"Eh Jim, mana rokoknya? Bagi gue, dong!" bisik GG di telinga Jimmy.

"Boleh nggak Van, kalo GG merokok?" Jimmy malah balik bertanya ke Vanka. Vanka mendelik jengkel, ke arah GG. Di tatap begitu, GG cuma cengengesan.

"Boleh ya, Van...," rayu GG, memohon.

"Hmm…iya deh, boleh... tapi, janji… cuma sebatang aja, ya!" ujar Vanka, nyerah.

Waktu menunjukkan jam 5 sore. Ketika Nisha, Fony, GG, Erick dan Vanka pamit pulang. Sepeninggal mereka, Jimmy kembali duduk termenung di dalam kamarnya. Diambilnya bungkusan morfin yang disimpan di bawah kasur. Setelah menghirupnya cepat-cepat, gak lama kemudian, Jimmy pun jatuh tertidur.

Hari-hari berlalu seperti biasanya. Sampai tibalah hari yang tak akan pernah bisa di lupakan oleh Jimmy seumur hidupnya.

Siang itu, seusai jam pelajaran sekolah. Seperti biasa Jimmy dan Nisha berjalan pulang beriringan. Entah ada kejadian apa, tiba-tiba di depan gerbang sekolah sudah bergerombol puluhan anak-anak STM. Guru-guru sibuk menginstruksikan, agar murid-murid SMU ADABIAH tetap berada di dalam pekarangan sekolah.

Karena ketakutan, anak-anak pun mematuhinya.

"Siapa sih yang udah nyari masalah ama anak-anak STM ini?" Tanya GG, entah ditujukan pada siapa.

"Ah, sial! Acara nggak bakalan jadi, nih!" Erick ikut menimpali, sedang Jimmy hanya diam saja dengan pandangan mata yang sedang mengawasi mangsa.

Seperti dikomando, beberapa detik kemudian. Anak-anak STM tersebut, bergerak maju serempak, memanjati pagar sekolah.

Laksana pahlawan yang mencoba mempertahankan daerah kekuasaannya, Secara serempak pula, semua murid laki-laki SMU ADABIAH mencoba menghalau mereka.

Beberapa detik kemudian, tawuran pun tak bisa terelakan lagi. Murid-murid perempuan berlarian panik, masuk ke dalam kelas-kelas terdekat. Mencoba menyelamatkan diri masing-masing.

Dalam sekejap, hujan batu pun terjadi. Bongkahan kaca mobil dan sekolah pecah berserakan. Melihat hal tersebut, Jimmy tidak bisa lagi menahan emosinya. Dengan beringas dia mulai melakukan perlawanan ke arah gerombolan anak-anak STM tersebut. Amarahnya sudah terpancing. Dengan membabi buta, dia mulai mengamuk, ke arah anak-anak STM yang sudah memporak porandakan ketenangan sekolahnya. Dia sama sekali sudah tidak bisa berpikiran jernih lagi. Semangat ingin membela sekolahnya, membuat dia lupa akan keselamatan dirinya sendiri.

Sampai tiba-tiba, salah seorang anak STM yang memegang solder, mencoba hendak mempecundanginya dengan menusuk Jimmy dari belakang. Nisha yang melihat hal tersebut, tidak tinggal diam. Secara spontan dia berlari dan langsung mendorong kuat tubuh Jimmy. Jimmy terlempar ke samping. Dan akibatnya sungguh fatal. Solder yang tadinya di arahkan untuk menikam punggung Jimmy, tak bisa di hindarkan lagi, langsung menembus perutnya. Sekejap Nisha ternganga kesakitan, tanpa mengeluarkan suara, ketika benda tajam itu merobek isi perutnya. Beberapa detik kemudian, dia pun terjatuh luruh di tengah kancah tawuran tersebut. Dari balik seragam sekolahnya menyembur cairan berwarna merah membanjiri pekarangan sekolah.

"Jim…my...", erangnya lemah. Jimmy yang masih kaget, karena terjatuh akibat dorongan keras Nisha tadi, spontan langsung menghambur ke arah Nisha. Dengan panik, di rengkuhnya kepala Nisha ke atas pangkuannya. Kekhawatiran tak bisa lagi di sembunyikan dari raut wajahnya, ketika menyaksikan darah yang sudah membanjiri tubuh Nisha. Didekapnya erat tubuh kekasih yang sudah menyelamatkan nyawanya tersebut. Ketegarannya sebagi laki-laki luruh, sesaat buliran air mata menggenangi pipinya.

"Nisha, bertahanlah...!" Jimmy mencoba menguatkan Nisha, namun dari suara dan wajahnya jelas memancarkan ketakutan.

"Jim... Ber--jan--jilah... Untuk ti-dak... Mennyen--tuh obat... Terla--rang itu la--gi, ya...", desisnya lirih dan terputus-putus. Tubuh Nisha semakin melemah.

"Iya sha... Gue janji! Sha... Bertahanlah! Ambulance akan segera datang!"

"Jim...," tangan Nisha yang berlumuran darah, perlahan membelai pipi Jimmy yang sudah berlinangan air mata. Jimmy pun menahan tangan tersebut agar tetap berada di pipinya. Nisha tersenyum lemah menatap Jimmy, kemudian pandangannya meredup. Tangannya yang berada di pipi Jimmy tergantung lemas. Beberapa detik kemudian, Nisha pun menutup mata, teriring barisan lafaz illahi yang keluar lirih dari bibir tipisnya. Sampai akhirnya Nisha menghembusan nafas terakhir dalam pelukkan kekasihnya. Kepalanya terkulai lemas di pangkuan Jimmy.

"Nishaaaa...!!!" Jimmy berteriak histeris! Di guncang-guncangkan tubuh Nisha, berharap dengan begitu, kelopak mata kekasihnya bisa terbuka lagi. Namun sia-sia, Nisha tidak pernah kembali lagi. Sambil terus mengerang, di dekapnya tubuh kekasihnya yang sudah bersimbah darah tersebut. Air mata mengalir deras di pipinya.

Beberapa menit kemudian, dari kejauhan terdengar raungan sirine ambulance dan mobil polisi. Jimmy terus memeluk tubuh kekasihnya yang sudah tidak bernyawa tersebut. Matanya nanar, menatap tajam tak percaya pada sosok lemah dan berdarah yang ada di pangkuannya. Penuh kelembutan, ditepuk-tepuknya pipi kekasihnya, seraya berkata ;

"Sha... bangun... dengar, tuh… ambulance udah datang... Aku gak pernah boong kan… buka matanya, sha… ."

Namun segala usaha Jimmy sudah terlambat, tubuh yang ada di pelukannya sudah mulai dingin dan membeku. Tak akan pernah lagi tubuh itu bernyawa kembali...

***

THE END

Padang, 1999
In Memoriam, J. Arlen, my best friend. It's urs, Bro...

Read more.....

Sign by Dealighted

Sign by Dealighted