hitamputih blog kita | hitamputih blog kita | hitamputih blog kita | hitamputih blog kita | Gubuk Jupiter | Gubuk Jupiter |
Google
 
BERBAGI KISAH... KISAHMU, KISAHKU & KISAH KITA
Tampilkan postingan dengan label Myth Stories. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Myth Stories. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Januari 2008

Kisah Dewi Bulan dan Dewi Pajar

Luna (Selene)

Luna, dewi bulan yang pucat, tiap malam melintasi angkasa dari istana emasnya di timur dengan mengendarai keretanya yang dihela dua ekor sapi jantan bertanduk sabit. Dia memberikan cahayanya yang lembut keperakan bagi bumi di malam hari. Dalam perjalanan dia selalu disertai bintang-bintang yang dipimpin oleh Vesper, Bintang Senja. Kala fajar menyingsing, bersama mereka dia akan menuju ke Sungai Ocean di sebelah barat dan kembali ke istananya di timur dengan mengendarai perahu.

Di wajah Luna yang cantik dan murni selalu membayang kabut duka. Konon suatu malam, saat dia sedang menjalankan tugasnya menerangi bumi, dia berjumpa seorang pemuda gembala yang tampan bernama Endymion di Gunung Latmos. Luna jatuh cinta pada Endymion. Namun sayang Endymion yang dianugerahi keabadian oleh Jupiter juga memohon agar diizinkan tidur selamanya. Maka dia tak akan pernah terbangun oleh sentuhan lembut jemari Luna yang membelai wajahnya untuk mengatakan pada Luna bahwa dia juga mencintainya.

Luna dilukiskan sebagai wanita cantik bergaun dan berkerudung keperakan, wajahnya pucat oleh duka.


Aurora (Eos)

Aurora adalah dewi fajar keemasan yang berjari-jari merah bagai mawar.

Tiap pagi, saat Luna hampir menuntaskan perjalanannya, Aurora akan membuka gerbang istana emasnya di timur lalu terbang dengan sayap-sayapnya yang bercahaya redup namun makin lama makin terang, diikuti oleh Lucifer, Bintang Fajar, melintasi angkasa dari timur ke barat sambil menghalau bintang-bintang memasuki Sungai Ocean, kecuali rasi Ursa Mayor dan Minor yang tak pernah tenggelam dan terbit di ufuk saat fajar menyingsing maupun senja menjelang. Aurora membawa sekendi air dingin dalam perjalanannya dan memercikkan air tersebut ke atas permukaan rerumputan, dedaunan, dan bunga-bunga sebagai embun pagi.

Meski menikah dengan Aeolus, dewa angin, Aurora juga menjalin cinta dengan Orion. Orion adalah seorang pemburu bangsa Boetia yang tampan dan perkasa. Ketika menjalin cinta dengan Aurora, Orion pernah sesumbar akan memusnahkan semua hewan buas di muka bumi dan mempersembahkannya bagi Aurora.

Apollo yang mendengar hal tersebut kemudian mengirim seekor kalajengking raksasa untuk membunuh Orion. Aurora memohon bantuan Diana agar menyelamatkan Orion. Diana yang menyanyangi Orion sebagai sesama pemburu bersedia menyelamatkan Orion. Pada saat Orion sedang dikejar-kejar oleh kalajengking raksasa tersebut, Diana bersiap-siap membidikkan panahnya untuk membunuh kalajengking tersebut. Tiba-tiba Apollo muncul dan mengaburkan pandangan Diana sehingga anak panahnya meleset, justru mengenai Orion yang tewas seketika.

Diana yang berduka karena tak dapat menepati janjinya pada Aurora kemudian menempatkan Orion di angkasa sebagai rasi bintang Orion, sedangkan kalajengking rakasasa tersebut oleh Apollo juga ditempatkan di angkasa sebagai rasi bintang Scorpio dalam posisi sedang memburu Orion.

Selain Orion, Aurora juga pernah menjalin cinta dengan Tithonus, putra Raja Laomedon dari Troy. Tithonus yang mencintai Aurora selalu bangun saat fajar merekah untuk menyaksikan kekasihnya tersebut menjalankan tugasnya mengumumkan kepada bumi bahwa sebentar lagi matahari akan kembali memberikan cahaya dan kehangatan bagi bumi.

Dari hasil hubungan mereka lahirlah seorang putra bernama Memnon. Sayang sekali saat Jupiter menganugerahkan keabadian bagi Tithonus, Aurora lupa memohon kemudaan abadi bagi kekasihnya tersebut, sehingga seiring berjalannya waktu Tithonus menjadi renta sementara ajalnya tak kunjung tiba. Akhirnya karena iba melihat Tithonus yang telah semakin lemah dalam kerentaannya, Aurora mengubahnya menjadi belalang, makhluk yang selalu bangun di saat fajar menyingsing.

Aurora dilukiskan sebagai wanita jelita berambut keemasan dengan jari-jari yang berwarna kemerahan bagai mawar serta bersayap.

(Sumber; The Golden Age of Classical Myths/hpk doc/Jan/08)

Read more.....

Sabtu, 05 Januari 2008

The Golden Age of Classical Myths - Part. 6

Ceres (Demeter)
Ceres adalah dewi pertanian, putri Saturn dan Cybele, dan istri Jupiter. Ketika Jupiter naik tahta Olympus, kehancuran akibat perang melawan para titan selama sepuluh tahun terjadi di mana-mana. Bumi tak lagi ditumbuhi tanaman sehingga kelaparan merajalela.

Tersentuh oleh penderitaan umat manusia, Ceres kemudian mohon pada Jupiter agar diizinkan menumbuhkan lagi tanaman yang memberi pangan kepada umat manusia dan memeliharanya. Jupiter mengizinkannya, maka sejak saat itu Ceres menjadi dewi pertanian.

Perkawinannya dengan Jupiter memberinya seorang putri, yaitu Proserpine yang diculik oleh Pluto menjadi permaisurinya di Hades.

Ceres sangat berduka kehilangan putrinya sehingga menolak menumbuhkan tanaman pangan lagi. Akibatnya sekali lagi bencana kelaparan mengancam. Akhirnya Jupiter memutuskan agar Proserpine kembali pada ibunya dengan syarat Proserpine belum memakan sesuatu yang berasal dari Hades. Ternyata Proserpine telah memakan enam butir delima, maka dia hanya boleh kembali pada ibunya selama enam bulan dalam setahun.


Pada saat Proserpine kembali padanya, Ceres bersukacita sehingga bersedia menumbuhkan tanaman pangan bagi umat manusia (yaitu musim semi dan panas). Tetapi pada saat Proserpine harus kembali ke Hades, Ceres berduka sehingga tanaman pangan tidak tumbuh (saat inilah musim gugur dan dingin menjelang). Konon upacara pemberkatan lilin yang diadakan Gereja Katolik berasal dari kebiasaan Romawi Kuno yang memasang lilin selama musim dingin untuk memperingati Ceres mencari putrinya yang diculik oleh Pluto.

Tugas Ceres berat namun mulia, yakni memelihara kelangsungan hidup umat manusia di dunia. Oleh karena itu hukuman berat akan menimpa barang siapa yang berani menghina dan menentangnya. Erisichthon, seorang raja yang meremehkan Ceres dengan menebang pohon oak kesayangannya dihukumnya dengan mengirimkan Kelaparan, putri Nox, pada Erisichthon, sehingga dia menderita kelaparan selalu sampai akhirnya mati karena memakan tubuhnya sendiri.

Ceres dilukiskan sebagai seorang wanita keibuan yang bermahkotakan rangkaian bulir-bulir gandum keemasan di atas kepalanya dan menggenggam setangkai padi di tangannya. Jali dan tanaman pangan lainnya dipersembahkan baginya dalam upacara-upacara di kota sucinya, Eleusis. Konon dalam pengembaraannya mencari Proserpine, Ceres pernah singgah di kota yang diperintah oleh Celeus beserta istrinya, Metaneira, tersebut dan diterima dengan ramah. Oleh karena itu dia mengajarkan cara bercocok tanam yang baik pada Triptolemus, putra Celeus, agar diajarkan pada seluruh umat manusia.


Vesta (Hestia)


Vesta adalah putri Saturn dan Cybele, saudari sulung Jupiter, Juno, Ceres, Neptune, dan Pluto. Dia adalah dewi perapian dan kehangatan keluarga.

Tak ada kisah menakjubkan mengenai dirinya. Tak ada pengalaman mengesankan yang dialaminya tercatat dalam mitologi. Namun demikian dia menjadi dewi yang paling dicintai umat manusia. Keinginannya sederhana, yaitu menjaga dan memelihara kehangatan hati dalam keluarga. Altarnya yang disebut pritaneion selalu ada dalam tiap rumah, yaitu perapian keluarga. Apabila manusia mempersembahkan korban pada dewa-dewi namanyalah yang pertama kali terucap di bibir. Apabila suatu keluarga meninggalkan pemukiman yang lama untuk menetap di tempat yang baru, maka api dari pritaneion yang lama akan dinyalakan di pritaneion yang baru.

Seperti Minerva dan Diana, Vesta juga merupakan dewi yang tetap perawan. Oleh karena itu pendeta wanita yang melayani di kuilnya juga harus perawan seperti pendeta wanita Minerva dan Diana. Mereka disebut vestalia. Seorang vestalia harus menjaga keperawanannya sampai masa pelayanannya selesai. Konon karena hal inilah Rhea Sylvia yang melahirkan Remus dan Romulus, pendiri Roma, dihukum bakar karena mengandung anak dari Mars. (hpk/doc)

to be continued...

The Greek names of the classical deities:
Jupiter: Zeus
Juno: Hera
Minerva: Pallas Athena
Mars: Ares
Venus: Aphrodite
Vulcan: Hephaestus
Mercury: Hermes
Diana: Artemis
Latona: Leto
Aesculapius: Asclepius
Meditrina: Epione
Juventus: Ivy/Hebe
Lucina: Eileithyia
Ceres: Demeter
Vesta: Hestia
Neptune: Poseidon
Pluto/Dis: Hades
Proserpine: Persephone/Kore
Mors: Thanatos
Somnus: Hypnos
Morpheus: Oneiros
Cupid: Eros
Hermione: Harmonia
Discordia: Eris
Sol: Helios
Luna: Selene
Aurora: Eos
Lucifer: Phosphor
Vesper: Hesperus
Bacchus: Dionysus
Saturn: Chronos
Cybele: Rhea
Caelus: Uranus
Terra/Tellus: Gaia/Gea
Amor: Agape
Dia: Emera
Justitia: Themis
Pax: Irene
Victoria: Nike
Fortis: Bia
Fury: Eumenides/Erinnies
Parcae/Fata: Moirae
Grace: Charites
Felicitas/Fortuna: Tyche
Ver: Thallo (Tunas)
Aestas: Auxo (Tumbuh)
Autumna: Karpo (Masak)
Hyem: Chionia (Salju)
Aquilo: Boreas
Favonius: Zephyr
Eurus: Argestes
Auster: Notus
Catamite: Ganymede
Hercules: Heracles/Alcides
Arianna: Ariadne


(Sumber:Forum KG/Legenda Dewa&Dewi Yunani/Hansel/hpk doc/Dec/07)

Read more.....

Kamis, 27 Desember 2007

The Golden Age of Classical Myths - Part. 5

Mercury (Hermes) and Iris


Mercury adalah duta dewata, dewa pelindung perdagangan, penggembala, bahkan pencuri, putra Jupiter dari Maia, putri Atlas, dewi padang-padang bunga. Bagaimana kisahnya sampai dia menjadi dewa pelindung pencuri adalah sebagai berikut:

Konon saat berada dalam buaiannya setelah dilahirkan, Mercury telah memikirkan bagaimana mencuri ternak ayahnya yang digembalakan oleh Apollo, dewa terang dan musik, di Pyrrhea.

Niatnya tersebut kemudian memang dilaksanakannya dan sempat membuat Apollo kebingungan mencari ternak yang dipercayakan kepadanya karena Mercury memasang sepatu-sepatu ternak tersebut secara terbalik sehingga berlawanan arah dengan tempatnya menyembunyikan hasil curiannya di Peloponnesus.

Akhirnya Apollo tahu bahwa pencurinya adalah dewa kecil yang baru saja dilahirkan itu. Segera dia membawa Mercury ke hadapan Jupiter dan melaporkan ulahnya kepada Bapa Semesta Alam tersebut. Di hadapan ayahnya Mercury tidak berani menyangkali perbuatannya. Dia menunjukkan tempat persembunyian hasil curiannya kepada Apollo.


Hampir saja Apollo murka ketika mengetahui dirinya telah tertipu oleh seorang bayi yang baru lahir, namun Mercury kemudian memberikan lira ciptaannya kepada Apollo untuk meredakan amarahnya karena dia tahu betapa Apollo mencintai musik. Apollo begitu gembira menerima hadiah tersebut. Amarahnya pada Mercury langsung mereda berganti rasa sayang. Sejak saat itu jarang sekali orang melihat Apollo tanpa lira pemberian Mercury tersebut.

Namun demikian Mercury tidak jera-jeranya melakukan pencurian. Pernah dia mencuri tombak Mars, trisula Neptune, bahkan petir ayahnya. Untung saja Mercury segera mengembalikannya begitu melihat murka ayahnya, kalau tidak tentu dia menjadi sasaran amarah Jupiter.

Meskipun begitu kebiasaan Mercury tersebut tidak selamanya merugikan. Pernah dia menyelamatkan ayahnya yang urat-uratnya dipotong oleh monster Typhoon dengan mencuri dan menyerahkannya kembali pada Jupiter.

Setelah dewasa Mercury diangkat menjadi duta dewata karena kefasihannya berbicara dan bersilat lidah. Apollo memberikan tongkat berujung ular berkepala dua yang disebut caduceus yang menambah kemampuannya tersebut.

Untuk memperlancar tugasnya, para dewa memberinya helm dan sandal bersayap agar dapat bergerak cepat melaksanakan perintah-perintah para dewa. Mercurylah yang bertugas menyampaikan amanat para dewa kepada umat manusia. Dia jugalah yang bertugas menghantar jiwa-jiwa menuju ke Hades.

Bila para dewa mempunyai Mercury sebagai duta, maka para dewi pun memiliki seorang duta, yaitu Iris, dewi pelangi.

Iris adalah putri Thaumas dan Electra dan cucu Terra dan Pontus. Iris menjadi duta para dewi, khususnya Juno, karena memiliki sayap sehingga dapat terbang secepat kilat dan tak seorangpun yang menyadari bahwa Iris telah lewat jika tidak meninggalkan jejak berupa cahaya berwarna-warni di udara.

Konon Iris pulalah yang ditugasi menjaga harta benda dewa-dewi Olympus, sehingga orang sering mengatakan ada guci emas di ujung pelangi. Iris dicintai oleh segenap penghuni Olympus karena dia begitu cermat dalam melaksanakan tugasnya melayani mereka.

Iris dilukiskan sebagai wanita muda jelita berambut keemasan, bermata biru, pipinya berseri bagaikan mahkota bunga mawar merah muda, mengenakan gaun putih serta bersayap, seperti bidadari dalam seni Kristen. (hpk/doc)

to be continued...

The Greek names of the classical deities:
Jupiter: Zeus
Juno: Hera
Minerva: Pallas Athena
Mars: Ares
Venus: Aphrodite
Vulcan: Hephaestus
Mercury: Hermes
Diana: Artemis
Latona: Leto
Aesculapius: Asclepius
Meditrina: Epione
Juventus: Ivy/Hebe
Lucina: Eileithyia
Ceres: Demeter
Vesta: Hestia
Neptune: Poseidon
Pluto/Dis: Hades
Proserpine: Persephone/Kore
Mors: Thanatos
Somnus: Hypnos
Morpheus: Oneiros
Cupid: Eros
Hermione: Harmonia
Discordia: Eris
Sol: Helios
Luna: Selene
Aurora: Eos
Lucifer: Phosphor
Vesper: Hesperus
Bacchus: Dionysus
Saturn: Chronos
Cybele: Rhea
Caelus: Uranus
Terra/Tellus: Gaia/Gea
Amor: Agape
Dia: Emera
Justitia: Themis
Pax: Irene
Victoria: Nike
Fortis: Bia
Fury: Eumenides/Erinnies
Parcae/Fata: Moirae
Grace: Charites
Felicitas/Fortuna: Tyche
Ver: Thallo (Tunas)
Aestas: Auxo (Tumbuh)
Autumna: Karpo (Masak)
Hyem: Chionia (Salju)
Aquilo: Boreas
Favonius: Zephyr
Eurus: Argestes
Auster: Notus
Catamite: Ganymede
Hercules: Heracles/Alcides
Arianna: Ariadne


(Sumber:Forum KG/Legenda Dewa&Dewi Yunani/Hansel/hpk doc/Dec/07)


Read more.....

Minggu, 02 Desember 2007

Orpheus & Eurydice - Part 5 (The End)

Orpheus menyanggupi syarat yang tampaknya ringan tersebut. Kemudian pasangan kekasih tersebut meninggalkan Hades.

Gerbang Hades yang dijaga Cerberus telah mereka lewati, demikian pula Sungai Styx telah mereka seberangi. Sejauh itu Orpheus sanggup menahan diri untuk tidak menengok ke belakang.

Namun semakin jauh mereka meninggalkan kegelapan di belakang, semakin gelisahlah hati Orpheus diusik keragu-raguan. Apakah jiwa Eurydice mengikutinya? Apakah raungan Cerberus tidak membuat gentar jiwa Eurydice melangkah keluar dari gerbang Hades? Apakah Charon tidak menolak menyeberangkan jiwa Eurydice? Oh dewa! Kalau saja dia boleh yakin bahwa Eurydice ada bersamanya.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mengusik batin Orpheus. Semakin jauh langkahnya menuju terang, semakin gelaplah pikirannya.

Akhirnya, tak tahan oleh keragu-raguan yang mengusik hatinya, Orpheus melanggar syarat yang diberikan oleh penguasa Hades. Dia menoleh ke belakang untuk melihat jiwa Eurydice.


"...pantang bagimu menengok ke belakang, ke arahnya, selama kau berada dalam kegelapan Hades...."

Maka...

"Orpheus, ah, Orpheus! Ketidaksabaranmukah? Keragu-raguanmukah? Atau takdir kejamkah yang mengkhianati cinta kita dan membuatmu melanggar syarat yang telah diberikan padamu atas kesempatan bagi kita untuk bersatu kembali? Kuulurkan tanganku padamu namun kutahu aku tak mungkin lagi menjadi milikmu di dunia atas sana?" desah jiwa Eurydice memilukan.

Dan Orpheus melihat bayangan Eurydice memudar dalam kegelapan Hades. Sia-sia lengannya terulur mencoba menggapai jiwa Eurydice. Bayangan Eurydice telah sirna.

Dia berlari kembali mencoba mengejarnya. Sampai di tepian Sungai Styx dia memohon dengan ratapan, pada Charon agar bersedia menyeberangkannya. Namun kesempatan kedua tak pernah ada bagi Orpheus. Charon menulikan telinganya terhadap permohonan Orpheus.

Akhirnya karena lelah meratap dan memohon Orpheus kembali ke tempatnya kehilangan Eurydice untuk kedua kalinya. Sungguh kehilangan yang sekali ini lebih berat dirasanya daripada kehilangan yang pertama. Dan sungguh ironis! Ditemukannya liranya menggeletak hanya dua langkah dari tempat yang disinari matahari.

Orpheus kembali ke dunianya. Hari-harinya dijalaninya dengan murung dan penuh duka. Tak ada lagi yang mampu mengembalikan gairah hidupnya. Bahkan bayangan Eurydice pun tak mampu membuatnya bersemangat kembali, karena dia tahu betapa sia-sia mengharapkan kemurahan dewata agar Eurydice kembali ke sisinya.

Dia memutuskan untuk tidak kembali ke Thrace melainkan mengembara membawa luka di hatinya. Seolah ingin disuarakannya kepedihan hatinya dan ketidakadilan dewata terhadapnya ke seluruh pelosok dunia. Dan dawai-dawai liranya pun tak pernah lagi mengalunkan lagu suka.

Suatu ketika tibalah Orpheus di suatu desa yang sedang merayakan festival untuk menghormati Bacchus, dewa anggur dan keriangan. Para wanita yang hadir dalam festival tersebut membujuk Orpheus agar memainkan liranya untuk mengiringi hymne suci bagi Bacchus. Dalam dukanya Orpheus menolak. Rupanya penolakan tersebut menimbulkan amarah bagi wanita-wanita pemuja Bacchus. Dalam keadaan mabuk oleh anggur yang mereka minum dalam festival, mereka menyerang Orpheus dengan golok dan sabit dan mencabik-cabiknya beramai-ramai. Terlalu berat dibebani duka di hatinya Orpheus tidak berusaha melawan.

Ketika sadar para wanita tersebut terkejut dengan apa yang telah mereka perbuat. Namun terlambat! Orpheus telah mereka bunuh, kepalanya hanyut dibawa arus Sungai Hebrus sementara bibirnya masih terus menggumamkan sebuah nama. Nama yang hidup abadi dalam hatinya, Eurydice. Para peri yang menemukan kepala Orpheus kemudian menguburkannya di Libethra di lereng Olympus Di sana burung-burung penyanyi berkicau lebih merdu daripada burung-burung di tempat lain sejak saat itu.

Jiwa Orpheus yang meninggalkan tubuhnya meluncur ke kegelapan Hades. Di sana jiwanya bertemu dan bersatu dengan jiwa Eurydice. Meskipun kegembiraan dan keceriaan tak dikenal di Hades yang suram, namun jiwa Orpheus berbahagia dengan jiwa Eurydice, sebab cinta mereka telah mengalahkan maut itu sendiri.

Dan lira Orpheus? Lira tersebut terbawa ombak sampai ke Pulau Lesbos dan terdampar di pantainya. Berhari-hari bahkan berbulan-bulan alat musik itu tergeletak di sana. Ketika debur ombak terus menyentuh dawai-dawainya dengan berirama, terciptalah melodi-melodi indah yang mengalun sampai ke telinga Apollo yang lalu memungut lira putranya tersebut dan meletakkannya di angkasa, di antara bintang-bintang, menjadi rasi bintang Lira.(hpk doc)

(Sumber:Forum KG/Legenda Dew&/Dewi Yunani/Hansel)

The End

Read more.....

Minggu, 18 November 2007

The Golden Age of Classical Myths - Part. 3

Mars (Ares)
Mars, dewa perang yang haus darah adalah putra Jupiter dengan Juno. Sosoknya tampak gagah, jantan, dan berwibawa di balik balutan busana perang yang gemerlapan. Namun sayangnya hanya hal itulah yang dapat dibanggakan dari dirinya.

Tak ada satupun kisah yang menyanjung kehebatannya, karena sebagai dewa perang kegemarannya hanyalah menyaksikan kekerasan, pertumpahan darah, korban yang berjatuhan, dan peradaban yang dihancurkan. Bila umumnya dewa-dewi menghendaki kebahagiaan bagi umat manusia, sebaliknya yang dia kehendaki hanyalah penderitaan dan kehancuran.

Bahkan orang tuanya pun tidak menyukainya. Pernah dalam suatu kesempatan Juno, menghadap Jupiter, memohon agar Mars diseret dari medan perang dalam keadaan memalukan. Jupiter setuju. Dia memerintahkan Minerva melakukan hal tersebut. Hal itu terjadi pada saat Perang Troya berlangsung. Juno yang memihak Yunani mendapat kesulitan dari Mars yang membantai pasukan Yunani hanya karena tampaknya pasukan Yunani berada di pihak yang akan kalah.


Mars membenci Pax dan Ceres karena dewi-dewi tersebut mencintai perdamaian. Namun begitu dia harus berhati-hati terhadap mereka karena Minerva yang juga mencintai perdamaian selalu membela mereka. Meski Mars adalah dewa perang, dia selalu berada di pihak yang kalah bila harus berhadapan dengan Minerva yang tak hanya mengandalkan kekuatan fisik belaka namun juga taktik dan akal sehat terlebih dilandasi tekad yang kuat untuk membela perdamaian.

Meski begitu toh ada juga yang menjadi sahabat dan pengagumnya, yaitu Discordia, dewi kebencian yang senang dengan perpecahan, dan Venus, dewi cinta dan kecantikan yang terpesona oleh sosoknya yang gagah.

Perkawinan Mars dan Venus melahirkan anak-anak yang seperti selalu dikatakan bahwa batas antara cinta dan kebencian amatlah tipis, yaitu Cupid, dewa asmara; Anteros, dewa nafsu birahi; Hymen, dewa perjodohan; Hermione, pembawa harmoni; Phobos dan Deimos, ketakutan dan teror; serta Bellona, dewi perang yang menjadi kusir kereta ayahnya.

Konon bangsa Romawi yang suka berperang adalah keturunan Mars dari seorang vestalia (gadis-gadis pelayan di kuil Dewi Vesta), yaitu Rhea Sylvia, yang kemudian melahirkan Remus dan Romulus yang mendirikan kota Roma.

Venus (Aphrodite)
Venus adalah dewi cinta dan kecantikan, putri Jupiter dengan Dione, dewi kelembaban, putri Epimetheus.

Dia dilahirkan berupa buih di tengah lautan. Buih tersebut makin lama makin membesar dan tiba-tiba dari dalamnya muncullah Venus dalam wujud wanita muda jelita. Ikan-ikan dari dalam lautan berloncatan riang menyambut kelahiran dewi baru tersebut, burung-burung laut girang sambil mengepak-ngepakkan sayap mengelilinginya, peri-peri laut membawakannya kulit kerang yang terbesar dan terbagus untuk dinaikinya, Favonius, Angin Barat yang berhembus sepoi-sepoi, membawa perahu kulit kerang tersebut ke pantai pulau terdekat, Cyprus. Flora, kekasih Favonius yang merupakan dewi bunga menghujaninya dengan berbagai macam bunga yang semerbak.

Segera sesampainya di pantai, peri-peri di hutan Cyprus bertindak sebagai nona-nona rumah mendandani dewi baru tersebut. Dewi-dewi musim turun dari Olympus membawakannya gaun yang indah serta berbagai macam perhiasan yang menambah pesona sang dewi baru tersebut.

Jupiter kemudian mengirimkan awan untuk mengangkat putrinya tersebut ke balai para dewa di Olympus. Semua yang hadir terpikat oleh kejelitaannya dan berlomba-lomba menarik perhatiannya mencoba menjalin hubungan yang lebih akrab. Kemudian Jupiter memberinya wewenang untuk mengurus masalah kecantikan, keindahan, dan berbagai macam emosi manusia, khususnya yang berhubungan dengan asmara. Jadilah Venus dewi cinta dan kecantikan.

Dalam menjalankan tugasnya Venus selalu dibantu oleh putranya, Cupid yang bersayap dan membawa panah bermata berlian yang mampu menembus hati yang sekeras baja. Cupid dilukiskan sebagai anak kecil yang montok dan menggemaskan. Konon Venus pernah mengeluh kepada Justitia, dewi keadilan, karena Cupid tidak pernah tumbuh menjadi dewasa. Justitia kemudian memberikan jawaban bahwa Cupid akan tumbuh menjadi dewasa bila beserta saudaranya Anteros, dewa nafsu birahi. Kemudian Venus melahirkan Anteros dan Cupid pun tumbuh dewasa menjadi seorang pemuda yang cakap.

Venus memiliki ikat pinggang bernama cestus yang selalu memberinya ilham dalam percintaan dan membuat siapa saja yang terkena pengaruh kekuatannya sulit terhindar dari masalah asmara. Meski demikian ada tiga orang dewi yang tak terpengaruh oleh kekuatan gaib ikat pinggangnya dan tetap perawan, yaitu Minerva, yang menolak mencintai pria manapun karena hanya mencintai kemanusiaan; Diana, dewi malam purnama dan perburuan yang angkuh; serta Vesta, dewi perapian dan kehangatan keluarga yang keinginannya sederhana, yaitu menjaga dan memelihara kehangatan hati dalam keluarga.

Meski selalu menyombongkan diri dalam masalah asmara, Venus tak luput pernah jatuh cinta serta mengalami kekecewaan, bahkan dengan makhluk fana. Pria-pria yang pernah dicintainya antara lain Anchises, ayah Aeneas yang menjadi leluhur bangsa Romawi, serta Adonis yang tampan rupawan. Konon kematian Adonis akibat diterkam hutan membuat Venus begitu berduka sehinga dia berjalan jauh meninggalkan Olympus untuk menguburkan kekasihnya itu tanpa mengenakan alas kaki, sehingga kakinya luka tertusuk oleh bebatuan tajam. Darah yang mengalir dari lukanya mewarnai mawar yang semula seputih salju menjadi merah, lambang hati yang membara oleh cinta, sedangkan darah yang menetes dari tubuh Adonis berubah menjadi bunga anemone.

Venus dilukiskan sebagai wanita jelita berambut keemasan dan bermata violet yang selalu bercermin mengagumi kecantikannya sendiri. Bunga mawar dan pohon cypress menjadi persembahan bagi Venus. Sedangkan burung merpati yang selalu berpasangan dan angsa putih yang anggun menjadi hewan kesayangannya.

Vulcan (Hephaestus)
Vulcan adalah dewa api dan pandai logam, putra sulung Jupiter dengan Juno. Dia dilahirkan sebagai bayi yang cacat kakinya, sehingga Juno yang merasa malu melahirkannya kemudian melemparkannya dari puncak Olympus ke dalam lautan. Kalau saja bukan seorang dewa, bayi tersebut pastilah sudah binasa. Bayi tersebut terus tenggelam sampai ke dasar samudra sampai ditemukan oleh dua orang dewi laut, yaitu Thetis dan Eurynome, yang kemudian merawatnya.

Vulcan tumbuh dewasa dan akan menjadi seorang dewa laut pula bila tidak tanpa sengaja suatu hari dia melihat gunung berapi meletus. Lavanya melelehkan semua benda yang dilaluinya. Kagum oleh fenomena alam yang demikian hebat membuat Vulcan berpikir bahwa api dapat dimanfaatkan untuk mengolah benda-benda keras seperti logam dan membentuknya sesuai keinginan. Maka lahirlah penempaan logam.

Untuk menyatakan rasa terima kasihnya kepada Thetis dan Eurynome, Vulcan membuat seuntai kalung emas bertatahkan permata bagi mereka. Dalam suatu kesempatan Juno berjumpa dengan Thetis. Terkagum-kagum oleh kalung yang dikenakan Thetis, Juno menanyakan siapakah yang begitu ahli merancang kalung yang sedemikian indah kepada Thetis. Thetis menjawab bahwa Vulcan, putra Juno sendiri yang telah membuatnya. Sejenak Juno merasa ragu namun kemudian dia berkata kepada Thetis agar menyampaikan perintahnya kepada Vulcan untuk membuatkan singgasana emas yang indah baginya.

Vulcan yang mendengar dari Thetis bahwa ibunya memerintahkannya membuat singgasana emas menyanggupi hal tersebut. Tangan-tangannya yang terampil segera bekerja dan setelah beberapa saat singgasana emas yang penuh ukir-ukiran indah dan dihiasi pula dengan permata itu pun jadilah. Namun dia belum selesai bekerja. Rupanya dia menyiapkan suatu jebakan bagi Juno. Ia menciptakan rantai-rantai dari sejenis logam ajaib yang tak terlihat mata kemudian memasangnya pada singgasana tersebut. Setelah selesai barulah singgasana tersebut dikirim ke Olympus untuk dipersembahkan pada Juno.

Betapa girangnya Juno melihat singgasana emas yang begitu indah dipersembahkan baginya. Segera dia duduk di atas singgasana tersebut. Tetapi hanya sejenak kemudian senyumnya berubah menjadi kegusaran saat dia merasa ada rantai tak terlihat yang membelenggunya di atas singgasana tersebut. Para dewa-dewi mencoba melepaskan rantai tersebut namun tak berhasil.

Akhirnya Jupiter memerintahkan Mercury untuk membujuk Vulcan ke Olympus dan membebaskan ibunya. Namun Mercury gagal. Kemudian Mars diutus untuk menyeret Vulcan ke Olympus dan membebaskan Juno. Namun juga gagal. Akhirnya Bacchus, dewa anggur dan keriangan, disertai para pengikutnya yang riang gembira, berangkat ke bengkel kerja Vulcan sambil membawa bergentong-gentong anggur. Bacchus menawarkan secawan anggur pada Vulcan yang segera mereguknya dengan nikmat. Kemudian Bacchus terus mengisi cawan Vulcan sehingga akhirnya Vulcan menjadi mabuk. Pada saat itulah Bacchus berhasil membawa Vulcan ke Olympus.

Sesampainya di Olympus, Vulcan tersadar dari mabuknya. Ketika dilihatnya Juno menderita karena ulahnya, dia merasa menyesal dan segera membebaskannya. Juno yang terharu oleh cinta dan bakti putra sulungnya memeluknya. Sejak saat itu ibu dan anak berdamai.

Jupiter begitu bersukacita melihat hal tersebut sehingga dia memerintahkan Venus untuk menjadi istri Vulcan. Begitulah yang terjadi, yang terburuk di antara para dewa menikahi dewi tercantik! Akan tetapi Venus yang tidak mencintai suaminya kemudian meninggalkannya untuk menikahi saudaranya, Mars.

Vulcanlah yang membuat perisai dan perlengkapan perang untuk Achilles yang sangat mengagumkan dalam Perang Troya atas permintaan Thetis. Vulcan memang sangat menyayangi Thetis yang telah merawatnya ketika bayi sampai dewasa. (hpk/doc)

to be continued….

The Greek names of the classical deities:
Jupiter: Zeus
Juno: Hera
Minerva: Pallas Athena
Mars: Ares
Venus: Aphrodite
Vulcan: Hephaestus
Mercury: Hermes
Diana: Artemis
Latona: Leto
Aesculapius: Asclepius
Meditrina: Epione
Juventus: Ivy/Hebe
Lucina: Eileithyia
Ceres: Demeter
Vesta: Hestia
Neptune: Poseidon
Pluto/Dis: Hades
Proserpine: Persephone/Kore
Mors: Thanatos
Somnus: Hypnos
Morpheus: Oneiros
Cupid: Eros
Hermione: Harmonia
Discordia: Eris
Sol: Helios
Luna: Selene
Aurora: Eos
Lucifer: Phosphor
Vesper: Hesperus
Bacchus: Dionysus
Saturn: Chronos
Cybele: Rhea
Caelus: Uranus
Terra/Tellus: Gaia/Gea
Amor: Agape
Dia: Emera
Justitia: Themis
Pax: Irene
Victoria: Nike
Fortis: Bia
Fury: Eumenides/Erinnies
Parcae/Fata: Moirae
Grace: Charites
Felicitas/Fortuna: Tyche
Ver: Thallo (Tunas)
Aestas: Auxo (Tumbuh)
Autumna: Karpo (Masak)
Hyem: Chionia (Salju)
Aquilo: Boreas
Favonius: Zephyr
Eurus: Argestes
Auster: Notus
Catamite: Ganymede
Hercules: Heracles/Alcides
Arianna: Ariadne


(Sumber:Forum KG/Legenda Dewa&Dewi Yunani/Hansel/hpk doc/Nov/07)


Read more.....

Minggu, 11 November 2007

Orpheus & Eurydice - Part. 4

Nyanyian Orpheus terhenti. Dari barisan para jiwa muncullah Eurydice yang segera berlari mendapatkan kekasihnya. Orpheus berusaha merengkuh bayangan Eurydice dalam pelukannya. Namun karena sebagai jiwa Eurydice tak dapat disentuh makhluk hidup, akhirnya mereka hanya dapat saling memandang ke dalam mata mereka yang penuh kerinduan akan satu sama lain.

Semua yang hadir terkejut campur cemas, menyaksikan hukum yang telah digariskan dewata dilanggar. Yang mati bersatu dengan yang hidup. Tak ada yang dapat membayangkan kemurkaan Pluto penguasa Hades dan hukuman yang akan dijatuhkannya. Mercury buru-buru, memisahkan Eurydice dari Orpheus.

Pluto penguasa Hades terdiam menyaksikan adegan tersebut. Namun hanya sekejap. Ketika dilihatnya air mata mengalir di wajah Proserpine, hatinya yang keras pun melunak. Dia bangkit dari tahtanya dan dengan suara berat bersumpah akan mengabulkan apapun permohonan Orpheus.


"Demi air Sungai Styx yang mengalir di kerajaan ini, katakan kepadaku apa yang kau kehendaki, dan aku akan memberikannya kepadamu!"

Orpheus memohon agar jiwa Eurydice boleh kembali bersamanya ke dunia untuk melanjutkan hari-hari bahagia mereka.

"Penguasa Hades yang agung, semoga kau mengizinkan Eurydice kembali bersamaku ke atas sana melanjutkan hari-hari penuh cinta kami. Tak kuasa aku membayangkan dia harus berada di tempat ini tanpa diriku atau aku di atas sana tanpa dirinya. Biarkan dia kembali agar aku boleh menghayati lagi kebahagiaan yang ditimbulkan oleh cintanya dan dia oleh cintaku. Bila hal ini tidaklah mungkin, semoga engkau berbelas kasih mengizinkan aku tinggal di sini di sisinya."

"Biarlah terjadi seperti kehendakmu Orpheus. Tetapi sebagaimana aku menepati sumpahku, kau juga harus berjanji padaku untuk memenuhi syarat yang kuberikan," kata Pluto.

"Katakan saja, Penguasa Hades yang agung! Bersama Eurydice di sampingku, tak ada syarat yang terlalu berat untuk kujalani ."

Kemudian Pluto bersabda, "Biarlah jiwa Eurydice berjalan mengikutimu kembali ke dunia atas sana. Namun pantang bagimu menengok ke belakang, ke arahnya, selama kau berada dalam kegelapan Hades. Jika syarat ini kau langgar, maka Eurydice akan kembali berada di sini, di antara jiwa-jiwa yang lain, saat itu juga."

To be continued...

(Sumber:Forum KG/Legenda Dewa&Dewi Yunani/Hansel/hpk doc.)

Read more.....

Rabu, 07 November 2007

The Golden Age of Classical Myths - Part. 2

"The Golden Age of Classical Myths - Part. 2"


Juno (Hera)
Juno adalah ratu langit, permaisuri Jupiter, dewi pelindung kaum wanita dan perkawinan. Dia selalu hadir dalam tiap upacara perkawinan untuk memberikan restu dan nasihat bagi para istri. Oleh karena itu dia tidak pernah memaafkan wanita yang melanggar janji perkawinannya maupun wanita yang mencoba mengganggu perkawinannya dengan Jupiter, di antara mereka adalah Io, Callisto, Semele, dan Latona.

Setelah diselamatkan Jupiter dari Saturn, ayahnya, Juno oleh Cybele, ibunya, dibawa ke Negeri para Hesperid di ujung barat bumi untuk diasuh oleh putri-putri Vesper, Bintang Senja. Para Hesperid mengasuh Juno dengan penuh kasih sayang. Juno belajar segala sesuatu tentang kehidupan, langit yang luas dan rahasianya, cuaca, dan sebagainya dari mereka. Lama kelamaan timbullah kekuatan kedewian dalam dirinya, dan karena sangat mencintai langit yang luas dengan segala misterinya dia berharap suatu saat boleh meratui langit.

Suatu hari saat dia sedang duduk memandangi langit ditemani sahabatnya, yaitu seekor burung merak, datanglah Jupiter mengajaknya bergabung untuk menumbangkan kekuasaan Saturn yang kejam. Juno bersedia. Sepuluh tahun lamanya dia mendampingi Jupiter dalam pertempuran melawan para titan, ikut menyumbangkan pikiran dan kemampuannya demi kemenangan bersama.

Akhirnya setelah para titan berhasil dikalahkan dan Jupiter naik tahta, Juno diangkat menjadi permaisurinya. Dengan demikian tercapailah harapannya untuk meratui langit. Perkawinannya dengan Jupiter berlangsung meriah, seluruh alam ikut merayakannya. Terra menghadiahkan pohon apel berbuah emas yang kemudian oleh Juno diserahkan kepada para Hesperid untuk dirawat.

Seorang peri, Helone, cukup bodoh untuk berani menolak menghormati Juno dengan berpura-pura sakit sehingga harus menyeret kakinya lambat-lambat yang mengakibatkannya tiba saat pesta perkawinan agung tersebut telah usai. Sukacita tidaklah cukup meredam kegusaran Juno atas kekurang-ajaran Helone yang kemudian diubahnya menjadi kura-kura, makhluk yang melangkahkan kakinya lambat-lambat seumur hidupnya dan memang ‘helone’ adalah sebutan bagi kura-kura dalam bahasa Yunani.

Juno dilukiskan sebagai wanita yang anggun mengenakan busana ratu dan mahkota. Sebagaimana Jupiter, dia juga menggenggam tongkat kerajaan di tangannya. Sapi adalah hewan kesayangannya.

Perkawinannya dengan Jupiter memberinya empat orang anak, yaitu Vulcan (Hephaestus), dewa api dan pandai logam; Mars (Ares), dewa perang; Lucina (Eileithyia), dewi kelahiran; dan Juventus (Ivy/Hebe), dewi masa muda abadi yang bertugas menghidangkan ambrosia dan nectar pada dewa-dewi.


Minerva (Athena)

Minerva adalah putri sulung Jupiter yang lahir dari kepala Bapa Semesta Alam tersebut. Cerita tentang kelahirannya yang aneh tersebut adalah sebagai berikut ;
Suatu hari Terra (Gaia/Gea) mendatangi Jupiter di balai para dewa dan meramalkan bencana yang bakal menimpanya. Jupiter akan memiliki dua orang anak dari istrinya, Methys, yang saat ini sedang mengandung. Anak pertama yang sedang dikandung akan menjadi pembantu setia Jupiter dalam segala hal, sedangkan anak kedua yang akan dikandung akan memberontak melawannya.

Untuk menghindari bencana yang akan menimpa dirinya kemudian Jupiter mendatangi Methys. Dibuainya Methys dengan kata-kata manis sehingga Methys menjadi terlena. Saat terlena itulah Jupiter memeluk Methys dan menyatukannya dengan dirinya. Dengan demikian tak akan pernah ada anak kedua yang dikandung oleh Methys. Jupiter telah terbebas dari bencana yang akan menimpanya.

Ketika sampai waktunya bagi Methys untuk melahirkan anaknya, Jupiter merasakan sakit kepala yang tak tertahankan. Begitu tak tertahankannya sehingga akhirnya kepalanya terbelah. Dari kepala Jupiter tiba-tiba memancar cahaya yang kemudian berubah bentuk menjadi seorang wanita muda berambut keemasan bergelombang dan bermata biru. Wanita tersebut mengenakan helm, membawa tombak dan perisai di tangannya. Jupiter menamai putrinya yang baru lahir tersebut Minerva (Athena).

Minerva menjadi dewi kebijaksanaan yang mengusir Kebodohan, yaitu putri Nox yang sampai saat itu masih berkeliaran di dunia. Dia menjadi pembantu dan penasehat utama Jupiter dalam segala hal. Kecintaannya pada kemanusiaan yang sangat besar telah melahirkan gagasan-gagasan cemerlang dari benaknya, yaitu seni, filsafat, astronomi, matematika, dan mekanika.

Pernah ada seorang gadis yang pandai menenun meremehkan kemampuan Minerva dan menantangnya bertanding. Nama gadis tersebut adalah Arachne. Minerva menyambut tantangan Arachne. Segera mereka mengadu keterampilan mereka bekerja dengan gelendong benang dan alat tenun. Minerva menenun selembar kain bergambar adegan yang menceritakan saat para dewa-dewi menentukan kota Attica, yang diperebutkannya dengan Neptune sang dewa samudra, menjadi miliknya. Arachne menenun selembar kain bergambar adegan yang menceritakan saat penculikan Europa, putri Raja Agenor dari Sidon, oleh Jupiter yang menyamar sebagai seekor sapi jantan. Dalam adegan itu, dia melukiskan sang dewa terjebak oleh nafsu rendahnya.

Mendidihlah darah Minerva oleh amarah atas kekurang-ajaran Arachne yang ditujukan pada ayahnya. Namun dia harus mengakui bahwa kain tenunan Arachne memang indah tanpa cacat. Sambil tersenyum mengejek Minerva merenggut kain tersebut dan merusaknya, lalu memperingatkan pada yang hadir bahwa seni sejati lahir dari hati yang penuh cinta bukan oleh kesombongan apalagi kebencian. Arachne yang merasa malu mendengar kata-kata Minerva lalu mengakhiri hidupnya. Minerva yang merasa iba menyaksikan nasib Arachne yang berakhir tragis kemudian mengubahnya menjadi makhluk yang selalu menenun seumur hidupnya, yaitu laba-laba. Namun sekarang tak ada lagi yang menghargai hasil tenunannya. Orang akan segera mengambil sapu untuk menyingkirkan hasil pekerjaannya bila mereka melihatnya. Kata laba-laba dalam bahasa Prancis, 'araigne', memang berasal dari nama Arachne.

Meskipun terlahir dengan senjata-senjata Minerva selalu menjadi dewi yang paling membenci pertempuran. Namun demikian dialah yang pertama kali akan terjun ke medan perang bila kemanusiaan dan perdamaian terancam bahaya. Memang selalu orang yang paling mencintai kemanusiaan dan perdamaian yang akan pertama terjun ke medan pertempuran bila memang diperlukan. Di medan perang Minerva akan menjadi dewi yang tak terkalahkan berkat perisainya yang bernama Aegis, yang bahkan dapat menahan petir Jupiter. Di masa damai, bersama Pax (Irene), dewi perdamaian, dan Ceres (Demeter), dewi pertanian, Minerva (Athena) akan mengajarkan peradaban pada umat manusia.

Konon Minervalah yang membangun tembok-tembok kota dan Acropolis di Attica yang kelak menyandang namanya dalam bahasa Yunani, Athena. Burung hantu menjadi binatang kesayangannya karena sorot matanya yang cerdas sedangkan zaitun menjadi tanaman suci baginya karena memiliki banyak kegunaan bagi umat manusia. Minerva jugalah yang selalu menjadi pendamping dan pengilham bagi para pahlawan, filsuf, seniman, dan para pakar di bidang kemanusiaan yang lainnya. Minerva adalah dewi yang tetap perawan karena kecintaannya pada kemanusiaan membuatnya menolak mencintai pria manapun.(HPK doc.)

The Greek names of the classical deities:
Jupiter: Zeus
Juno: Hera
Minerva: Pallas Athena
Mars: Ares
Venus: Aphrodite
Vulcan: Hephaestus
Mercury: Hermes
Diana: Artemis
Latona: Leto
Aesculapius: Asclepius
Meditrina: Epione
Juventus: Ivy/Hebe
Lucina: Eileithyia
Ceres: Demeter
Vesta: Hestia
Neptune: Poseidon
Pluto/Dis: Hades
Proserpine: Persephone/Kore
Mors: Thanatos
Somnus: Hypnos
Morpheus: Oneiros
Cupid: Eros
Hermione: Harmonia
Discordia: Eris
Sol: Helios
Luna: Selene
Aurora: Eos
Lucifer: Phosphor
Vesper: Hesperus
Bacchus: Dionysus
Saturn: Chronos
Cybele: Rhea
Caelus: Uranus
Terra/Tellus: Gaia/Gea
Amor: Agape
Dia: Emera
Justitia: Themis
Pax: Irene
Victoria: Nike
Fortis: Bia
Fury: Eumenides/Erinnies
Parcae/Fata: Moirae
Grace: Charites
Felicitas/Fortuna: Tyche
Ver: Thallo (Tunas)
Aestas: Auxo (Tumbuh)
Autumna: Karpo (Masak)
Hyem: Chionia (Salju)
Aquilo: Boreas
Favonius: Zephyr
Eurus: Argestes
Auster: Notus
Catamite: Ganymede
Hercules: Heracles/Alcides
Arianna: Ariadne


(Sumber:Forum KG/Legenda Dewa&Dewi Yunani/Hansel)

Read more.....

Selasa, 30 Oktober 2007

Orpheus & Eurydice - Part. 3




Di Hades Orpheus menjumpai pemandangan yang suram tak menyenangkan. Tampak olehnya jiwa-jiwa berbaris menunggu keputusan dijatuhkan oleh Justitia, dewi keadilan, dan Hakim-hakim Hades bagi mereka apakah mereka harus melanjutkan hidup di Tartarus (neraka) atau di Padang Elysium (surga) sesuai dengan perbuatan mereka semasa hidup.

Duduk di atas tahta Hades yang bertatahkan batu-batu mulia Pluto, penguasa Hades yang keras hati, dewa yang ditakuti setiap makhluk hidup. Di sampingnya duduk Proserpine, ratu Hades sendiri. Di sekeliling mereka berdirilah tiga Fury atau Eumenides: Tisiphone, Megaera, dan Alecto, yaitu dewi-dewi pembalasan yang bertugas menghukum jiwa-jiwa yang semasa hidupnya berbuat jahat.

Wajah Pluto yang sudah menakutkan tersebut tampak lebih seram ketika dilihatnya Mercury datang beserta Orpheus.

"Mercury, siapakah makhluk kurang ajar ini yang merasa dunia berada dalam genggaman tangannya sehingga tanpa menyayangkan hidupnya sendiri berani datang kemari, ke kerajaan orang-orang matiku?" geram Pluto kepada Mercury.


Segera Orpheus menjelaskan siapa dirinya dan maksud kedatangannya.

"Penguasa Hades yang agung, aku Orpheus, putra Apollo dari Calliope, datang kemari untuk menjemput jiwa istriku."

"Istrimu?"

"Peri hutan Eurydice. Kami hidup berbahagia di atas sana sampai pada hari saat takdir kejam merenggutnya dari sisiku. Kini aku memohon kemurahan hatimu agar bersedia mengembalikan jiwa Eurydice pada kehidupan. Sebab kurasakan terlalu singkat kebahagiaan yang telah kami nikmati, terlampau pendek hari-hari yang telah kami jalani bersama."

"Lancang! Kesombongan macam apa yang kau pertontonkan di hadapanku ini? Tak tahukah kau bahkan Jupiter Penguasa Semesta, sendiri enggan untuk meminta padaku mengembalikan jiwa orang yang telah mati kembali pada kehidupan? Dan kau! Atas nama siapa yang telah membuatmu berani mengajukan permohonan yang mustahil ini?"

"Atas nama Cinta yang telah melahirkan kehidupan, yang kuasanya mencakupi seluruh makhluk dan mengatasi kita semua, bahkan para dewa-dewi. Atas namanyalah aku datang kemari dan berdiri memohon di hadapanmu."

"Cinta!" ujar Plutodingin, "untuk apa kaubawa-bawa Cinta dalam hal ini? Apa urusannya Cinta dengan orang-orang mati? Terangkan padaku, Orpheus, apa arti Cinta!"

"Penguasa Hades yang agung, sungguh aku tak pernah berkehendak mengguruimu tentang makna Cinta, tetapi dengarlah apa arti cintaku pada Eurydice! Panjang jarak yang harus kutempuh kemari, bukannya sedikit bahaya yang menghadang di perjalananku, Sungai Styx telah kuseberangi, dan Cerberus kuhadapi. Segala derita kutanggung dan susah payah kuabaikan hanya dengan harapan agar Eurydice boleh kembali ke sisiku. Dialah belahan jiwaku dan pangkal kebahagiaan hidupku. Jika ini tak layak disebut Cinta, maka aku tak tahu lagi apa yang dimaksud dengan Cinta."

Orpheus menyampaikan semua hal tersebut dalam nyanyian diiringi petikan dawai-dawai liranya. Dalam sekejap semua makhluk di Hades terdiam. Tak ada satupun yang bersuara. Semuanya seakan terbius oleh permainan lira Orpheus dan suaranya yang mengalun merdu.

Pluto sendiri, yang telinganya terbiasa oleh ratapan jiwa-jiwa yang menangisi orang-orang yang mereka tinggalkan, tersentuh hatinya oleh nyanyian Orpheus. Terlebih-lebih bagi Proserpine yang juga merupakan dewi musim semi. Nyanyian tersebut menembus jiwanya. Teringat olehnya hari-hari bahagianya di atas sana sebelum diperistri Pluto. Teringat olehnya akan hangatnya sinar matahari, akan kicau burung yang merdu, gemercik air sungai yang sebening kristal dalam perjalanannya menuju ke hilir, dan akan pasangan-pasangan kekasih yang berlarian di padang bunga yang bermandikan cahaya matahari yang keemasan, sehingga tanpa disadari air matanya telah berderai membasahi pipinya.

"Orpheus, oh, Orpheus! Kasih!" tiba-tiba terdengar satu suara menyeruak keheningan di antara yang hadir...

To be continued...

(Sumber:Forum KG/Legenda Dewa&Dewi Yunani/Hansel)

Read more.....

Rabu, 24 Oktober 2007

The Golden Age of Classical Myths - Part 1


"The Golden Age of Classical Myths Part 1"

Bangsa Yunani Kuno percaya bahwa bumi berbentuk bundar seperti cakram dengan negeri mereka di tengah-tengah dan Gunung Olympus sebagai pusat alam semesta. Daratan membentang dari barat ke timur dan terbagi atas dua bagian yang sama besar oleh daerah perairan, yaitu Laut Tengah dan kelanjutannya Laut Euxine (Laut Hitam), sementara Sungai Ocean (yang sesungguhnya adalah Samudra Atlantic) mengelilingi cakram bumi dari selatan ke utara.

Jauh di sebelah utara terdapat suatu negeri yang disebut Hyperborea yang konon didiami oleh suatu ras yang hanya mengenal kebahagiaan. Di sana udara selalu nyaman serta buah-buahan dipanen sepanjang tahun. Sedangkan jauh di sebelah selatan terdapat negeri yang disebut Ethiopia yang penduduknya mengalami kebahagiaan dan masa muda abadi. Konon dewa-dewi bahkan merasa terhormat bila dapat tinggal bersama mereka.

Matahari, bulan, bintang-bintang, dan fajar dipercaya terbit dari istana mereka di sebelah timur dan terbenam di Sungai Ocean di sebelah barat di mana telah menunggu perahu yang akan membawa mereka kembali ke istana emas mereka di timur.

Istana dewa-dewi berada di Gunung Olympus, di Thessaly. Gerbangnya selalu diselimuti awan oleh dewi-dewi musim. Meski para dewa-dewi tersebut tinggal di istana yang berbeda-beda namun mereka senantiasa berkumpul di balai para dewa, di kediaman Zeus (Jupiter). Dewa-dewi tersebut serupa dengan manusia dalam banyak hal kecuali bahwa mereka lebih berkuasa dan abadi berkat makanan yang mereka santap, yaitu ambrosia, dan minuman yang mereka minum, yaitu nectar. Meski terkadang penderitaan menimpa mereka namun kebahagiaan pasti akan selalu kembali menyelimuti Olympus.

The Creation

Konon sebelum semua tercipta yang ada hanyalah kekosongan dan kekelaman yang disebut Chaos bersama istrinya yang disebut Nox, yaitu dewi malam. Dari perkawinan mereka lahirlah Erebus, yakni dewa kegelapan, yang kemudian mengusir Chaos dan mengawini ibunya sendiri. Terlahir dari perkawinan tersebut Ether, yaitu dewa udara yang kebiruan, serta Emera (Dia), yakni dewi siang yang cemerlang berseri-seri. Ketika bertahta, mereka mengusir Erebus dan Nox lalu mulai memerintah.

Dari pasangan ini lahirlah anak-anak yang tampan, cantik, dan perkasa, yaitu Gaia (Terra), dewi bumi yang penuh pesona; Caelus (Uranus), yaitu langit yang perkasa, yang menyelimuti bumi dengan jubah birunya; Pontus, lautan yang jubahnya membentang menutupi sebagian besar permukaan bumi; Agape (Amor), yaitu dewi cinta yang membawa benih-benih kehidupan; dan Tartarus, yaitu neraka yang amblas ke dalam bumi dengan kedalaman yang tak terukur dan tak terjangkau oleh terang. Di sinilah tinggal Chaos, Nox, dan Erebus yang terusir.

Ketika Ether dan Dia turun tahta, Caelus naik tahta dengan Terra mendampinginya sebagai permaisurinya. Dengan dibantu Amor yang membawa benih-benih kehidupan, Caelus dan Terra melahirkan anak-anak mereka para titan (pria) dan titanid (wanita) yang perkasa antara lain: Saturn (Chronos), Oceanus, Iapetus, Hyperion, Coeus, Crius, Cybele, Justitia, Tethys, Theia, Mnemosyne, Eurybia, Phoebe, dan para Cyclop, yaitu raksasa-raksasa bermata tunggal: Brontes (Guntur), Steropes (Petir), dan Arges (Kilat), serta raksasa-raksasa berlengan seratus yang disebut Centimani: Cottus, Gyes, dan Obriareus. Sementara dari perkawinannya dengan Pontus, Terra melahirkan Nereus, Thaumas, Phorcys, dan Ceto.


The Titans' Rebellion

Suatu ketika Caelus murka dengan tingkah laku para titan yang dianggapnya tidak menghormatinya, maka dilemparkannya putra-putranya tersebut ke dalam Tartarus untuk menghukum mereka. Namun Terra yang merasa iba melihat nasib putra-putranya kemudian pergi membebaskan mereka.

Saturn yang paling perkasa kemudian mendatangi Caelus di saat sedang beristirahat dan dengan senjata sabitnya yang bermata berlian dia melukai ayahnya sampai tak berdaya. Terdengarlah pekik kemenangan Saturn di seluruh jagat, karena kini dialah yang berkuasa menggantikan Caelus. Namun Caelus sempat menjatuhkan kutukannya kepada Saturn bahwa kelak seorang putranya juga akan menjatuhkannya dari tahtanya.

Nox kemudian melahirkan makhluk-makhluk yang mengerikan untuk menghukum Saturn, yaitu Nemesis, Kebencian, Kelaparan, Dusta, Fitnah, Kekejaman, Penderitaan, dan sebagainya.

Saturn bertahta menggantikan ayahnya. Dia mengawini saudarinya, salah seorang titanid, yaitu Cybele. Dari perkawinan ini lahirlah lima orang anak, yaitu Vesta, Juno, Ceres, Neptune, dan Pluto. Namun teringat akan kutukan ayahnya, Saturn menelan semua anaknya begitu mereka dilahirkan untuk menghindari bencana bagi dirinya.

Jupiter (Zeus)

Pada saat kehamilannya yang keenam Cybele yang berduka oleh ulah Saturn terhadap anak-anak mereka sendiri kemudian pergi ke lereng Gunung Dicte di Crete untuk melahirkan bayinya agar selamat dari incaran suaminya. Sekembalinya ke istana Saturn, Cybele berpura-pura mengerang sakit hendak melahirkan. Setelah persalinannya selesai dia menyerahkan bungkusan bayinya kepada Saturn untuk ditelan. Tanpa memeriksa lagi Saturn menelan bungkusan yang diberikan oleh istrinya tersebut yang ternyata berisi sebongkah batu.

Putra keenam Saturn dan Cybele yang selamat dari kebuasan ayahnya diasuh oleh para peri di hutan lereng Gunung Dicte, terutama Melia dan Adrastea. Mereka menamai bayi itu Jupiter. Para makhluk menyayangi dewa kecil tersebut seolah mereka tahu bahwa kelak Jupiterlah yang akan membebaskan mereka dari cengkeraman sang tiran Saturn. Seekor kambing betina, Amalthea, setiap hari memberikan air susunya kepada Jupiter dengan kasih sayang seorang ibu, kelak setelah Jupiter berkuasa Amalthea ditempatkan di angkasa di antara para bintang menjadi rasi bintang Capricorn.

Jupiter tumbuh dewasa dan menjadi seorang pemuda yang perkasa dan cerdas. Sahabatnya adalah seekor rajawali besar bernama Aquila yang kerap membawakannya ambrosia dan nectar serta menceritakan hal-hal yang terjadi di seputar jagat. Jupiter menjadi tahu bahwa Saturn telah memerintah dunia ini didasari tindak kejahatan dan bertekad untuk menyelamatkan dunia ini dari kekejaman Saturn.

The Battle against the Titans

Suatu ketika Jupiter mendapat kabar dari Oceanus bahwa Saturn yang saat itu memerintah semesta dengan kekejaman dan tindak tirani ternyata adalah ayahnya. Dia juga diberitahu bahwa saudara-saudarinya telah ditelan oleh Saturn segera setelah mereka dilahirkan. Bertambah bulatlah tekadnya untuk menyelamatkan dunia ini dari cengkeraman Saturn. Oleh karena itu dia mengumpulkan sekutu-sekutunya yang juga menentang Saturn.

Namun sebelum itu dengan bantuan Methys, seorang putri Oceanus, dia membuat ramuan yang kemudian dipersembahkannya kepada Saturn. Setelah meminum ramuan tersebut Saturn memuntahkan kembali semua anaknya yang ditelannya.Jupiter kemudian mengajak saudara-saudarinya tersebut bergabung melawan Saturn.

Ketika merasa diancam bahaya Saturn segera menghubungi saudara-saudaranya para titan untuk membantunya. Sementara itu Jupiter telah berhasil mengumpulkan sekutu-sekutunya, yaitu saudara-saudarinya beserta Oceanus dan putri-putrinya, para Oceanid; Prometheus dan Epimetheus, putra-putra titan Iapetus. Mereka membangun markas di puncak Olympus kemudian mengelilingi altar bersumpah akan mengembalikan kedamaian dan ketentraman di semesta ini dengan menumbangkan kekuasaan Saturn.

Jupiter juga melepaskan para Cyclop dan Centimani dari Tartarus untuk membantunya melawan Saturn dan para titan. Sebagai tanda terima kasihnya para Cyclop kemudian membuatkan senjata-senjata untuk Jupiter dan saudara-saudaranya, yaitu petir untuk Jupiter, trisula yang dapat mengguncang bumi dan lautan untuk Neptune, dan dwisula yang dapat membelah bumi dan helm yang membuat pemakainya menjadi kasat mata untuk Pluto.

Perang melawan para titan berkobar sepuluh tahun lamanya. Namun akhirnya keunggulan Jupiter dengan sekutu-sekutunya terbukti. Para titan yang kalah kembali dijebloskan ke dalam Tartarus, dirantai dengan rantai berlian dan dijaga oleh para Centimani. Atlas, saudara Prometheus dan Epimetheus yang membantu para titan dihukum memanggul langit di pundaknya selamanya, sedangkan Saturn melarikan diri ke Italy.

Jupiter naik tahta menggantikan Saturn. Dia membagi-bagikan kekuasaan kepada saudara-saudarinya. Neptune menjadi penguasa lautan, Pluto merajai Hades (kerajaan orang mati), Juno menjadi ratu langit dan permaisurinya. Namun Jupiterlah yang paling berkuasa atas mereka semua. Kehendak dan kata-katanya menjadi hukum yang harus dipatuhi. Memang seluruh makhluk memandangnya sebagai Bapa Semesta Alam karena dialah yang menyelamatkannya dari cengkeraman Saturn. Dari istananya yang berselimut awan di Gunung Olympus Jupiter memerintah dunia dibantu oleh dewa-dewi lainnya.

Jupiter kerap dilukiskan sebagai pria tua berambut dan berjanggut keperakan memakai jubah putih. Di tangannya tergenggam senjatanya yang tak terkalahkan, yaitu petir, dan tongkat kerajaan ::king:: di tangannya yang lain sementara bola dunia di bawah telapak kakinya. Di sampingnya Aquila yang perkasa mengepakkan sayapnya. Image Tuhan Allah dalam seni Kristen diilhami oleh figur Jupiter.(HPK doc.)

The Greek names of the classical deities:
Jupiter: Zeus
Juno: Hera
Minerva: Pallas Athena
Mars: Ares
Venus: Aphrodite
Vulcan: Hephaestus
Mercury: Hermes
Diana: Artemis
Latona: Leto
Aesculapius: Asclepius
Meditrina: Epione
Juventus: Ivy/Hebe
Lucina: Eileithyia
Ceres: Demeter
Vesta: Hestia
Neptune: Poseidon
Pluto/Dis: Hades
Proserpine: Persephone/Kore
Mors: Thanatos
Somnus: Hypnos
Morpheus: Oneiros
Cupid: Eros
Hermione: Harmonia
Discordia: Eris
Sol: Helios
Luna: Selene
Aurora: Eos
Lucifer: Phosphor
Vesper: Hesperus
Bacchus: Dionysus
Saturn: Chronos
Cybele: Rhea
Caelus: Uranus
Terra/Tellus: Gaia/Gea
Amor: Agape
Dia: Emera
Justitia: Themis
Pax: Irene
Victoria: Nike
Fortis: Bia
Fury: Eumenides/Erinnies
Parcae/Fata: Moirae
Grace: Charites
Felicitas/Fortuna: Tyche
Ver: Thallo (Tunas)
Aestas: Auxo (Tumbuh)
Autumna: Karpo (Masak)
Hyem: Chionia (Salju)
Aquilo: Boreas
Favonius: Zephyr
Eurus: Argestes
Auster: Notus
Catamite: Ganymede
Hercules: Heracles/Alcides
Arianna: Ariadne


(Sumber:Forum KG _Legenda Dewa&Dewi Yunani/Hansel)

Read more.....

Rabu, 17 Oktober 2007

Orpheus & Eurydice_Part 2

Dunia seakan kiamat bagi Orpheus. Hari-hari dan mimpi malamnya dihantui oleh bayangan Eurydice yang seolah mengajaknya melanjutkan nyanyian dan tarian yang tak sempat terselesaikan di lembah tersebut.

Akhirnya timbul tekad yang sungguh berani dalam diri Orpheus. Dia memutuskan pergi ke Hades, kerajaan orang-orang mati, untuk menjemput kembali jiwa Eurydice.


Orpheus memang bukan pahlawan seperti Hercules yang sanggup menyelesaikan dua belas tugas raksasa. Bukan pula Theseus yang membunuh Minotaur, makhluk setengah manusia setengah banteng yang memangsa rakyatnya. Dia juga bukan Jason yang memimpin para pahlawan mengambil bulu domba emas di Colchis. Namun cintanya yang besar pada Eurydice dan derita berat yang harus ditanggung karena kehilangan dirinya telah memberi Orpheus keberanian dan kekuatan seluruh pahlawan.

Banyak orang berusaha membujuk agar dia mengurungkan niatnya.

"Jangan pergi Orpheus! Ingatlah kekerasan hati Pluto penguasa Hades dan Hakim-hakim di Hades yang keputusannya tak terubahkan!"

"Memang menyakitkan kehilangan orang yang kita kasihi. Tetapi waktu jualah yang akan menyembuhkan luka di hatimu."

Namun Orpheus tetap tak bergeming dari niatnya. Keputusannya sudah bulat. Dia pergi meninggalkan kerajaannya untuk menuju ke Hades.

Baru saja kakinya melangkah masuk ke dalam kegelapan gua di kaki Gunung Avernus yang berhubungan dengan Hades ketika seseorang menepuk pundaknya.

Ternyata orang tersebut adalah Mercury, duta dewata yang bertugas mengantar jiwa-jiwa menuju ke Hades. Seperti yang lain, Mercury juga membujuk Orpheus membatalkan niatnya.

"Kukagumi keberanianmu mencoba melakukan hal yang bahkan membuat pahlawan seperkasa Hercules pun berpikir dua kali sebelum bertindak, Orpheus. Namun tidakkah kau tahu bahwa kau mencoba meraih yang tak teraih, mengharapkan sesuatu yang mustahil? Tidak tahukah kau bahwa Pluto penguasa Hades buta terhadap penderitaan manusia dan tuli terhadap isak tangis mereka? Hanya kekecewaanlah yang akan menantikan di penghujung perjalananmu Orpheus, karena itu urungkanlah niatmu! Mari kuantar kau kembali ke atas sana."

Tetapi keteguhan hati Orpheus tak tergoyahkan.

"Antarkan aku menghadap Pluto Penguasa Hades!" adalah jawaban Orpheus kepada Mercury. Ada sesuatu dalam suaranya yang membuat Mercury berdiam diri sejenak sebelum kemudian maju memimpin langkah-langkah Orpheus menuju Hades.

Akhirnya setelah berjam-jam menembus kesenyapan dan kegelapan di sekeliling mereka, tibalah mereka di tepian Sungai Styx, sungai suci yang harus diseberangi para jiwa agar sampai di Hades. Terdengar bunyi gemercik air yang jatuh di atas bebatuan.

Dari jauh tampak sosok kurus Charon, dewa yang bertugas menyeberangkan jiwa-jiwa, menepikan perahunya. Mulanya dia menolak menyeberangkan Orpheus karena Orpheus adalah makhluk hidup yang tidak boleh masuk ke dalam kegelapan Hades.

"Tidak tahukah bahwa aku hanya membawa jiwa-jiwa saja menyeberangi sungai ini dengan perahuku? Kau makhluk fana yang berdaging dan berdarah pulanglah! Tunggulah giliranmu mati untuk kuseberangkan ke sana!"

Orpheus hanya terdiam, kemudian disapukannya jari-jarinya pada dawai-dawai liranya.

Ting-a ling-a-ling! Suara yang demikian jernih bergema di kesunyian Hades.

Mata Charon terbelalak takjub mendengarkan nada-nada mempesona yang belum pernah didengarnya sebelumnya.

"Suara apa ini?" tanyanya.

Orpheus melangkahkan kakinya dengan mantap menaiki perahu sambil terus memainkan liranya diikuti oleh Mercury.

Charon terus mendengarkan nada-nada indah yang mempesonakan dirinya, sehingga kemudian tanpa disadarinya direngkuhnya dayung. Dan perahu tersebut meluncur di atas permukaan sungai suci yang tenang tersebut sampai ke seberang, di depan gerbang Hades.

Hal yang sama terjadi pada Cerberus. Anjing penjaga gerbang Hades, yang termashyur karena kegarangannya terhadap makhluk yang mencoba memasuki atau jiwa-jiwa yang berusaha keluar dari Hades, tersebut demikian terbuai oleh musik Orpheus sehingga mengizinkannya lewat...

To be continued…
(Sumber : Forum KG _Legenda Dewa&Dewi Yunani/Hansel)

Read more.....

Selasa, 09 Oktober 2007

Orpheus & Eurydice_Part. 1


Orpheus, raja Thrace, adalah putra Apollo, dewa terang, dengan Calliope, dewi musik dan puisi epik. Di zamannya tak ada orang yang dicintai oleh semua makhluk lebih daripada Orpheus. Sebab selain tampan dan berbudi luhur, Orpheus merupakan pemusik yang handal. Apabila jari-jarinya yang terampil telah diayunkan pada dawai-dawai liranya dan suaranya yang merdu bersenandung, tak satupun yang tidak terpesona dibuatnya. Bahkan hewan-hewan buas akan berbaring berdampingan dengan mangsanya dan pepohonan seolah tercabut dari akarnya untuk mendengarkan permainan lira dan suara Orpheus yang memikat.



Suatu hari, ketika sedang berjalan-jalan dalam hutan, Orpheus berjumpa dengan Eurydice, seorang peri hutan yang jelita. Mereka berdua saling terpesona dan jatuh cinta. Hati Orpheus tertawan oleh sinar mata Eurydice yang lembut dan gerai rambut hitamnya yang lincah berayun, sedangkan Eurydice terpesona oleh sosok Orpheus yang gagah.

Mereka kemudian mengikrarkan diri untuk menjadi pasangan yang abadi. Sungguh pasangan yang serasi. Sebab selain kejelitaan Eurydice sebanding dengan ketampanan Orpheus, hanya Eurydicelah yang mampu menari dengan indahnya diiringi permainan musik Orpheus. Berdua mereka hidup dalam kebahagiaan yang berakar pada cinta sejati yang telah dianugerahkan dan mereka pelihara bersama.

Sayang sekali kebahagiaan mereka tidaklah sekekal cinta mereka. Para Parcae, dewi-dewi takdir, yang keras hati telah memutuskan riwayat Eurydice harus berakhir sampai di sini saja.

Pada suatu hari, sebagaimana layaknya pasangan-pasangan yang saling mencintai lainnya, mereka melewatkan waktu berdua saja, berjalan-jalan menikmati keindahan pemandangan alam di Lembah Tempe. Bunga-bunga liar semarak bermekaran mengundang kupu-kupu beraneka warna untuk singgah mencicipi madu mereka. Dari jauh tampak puncak Olympus yang berselimut salju berdampingan dengan puncak Gunung Osa, sementara di antara keduanya mengalir dengan tenang air Sungai Peneus yang berkilau ditimpa sinar sang surya.

Menyaksikan pemandangan yang indah tak terperi tersebut, Orpheus segera memetik dawai-dawai liranya dan bernyanyi memuji keindahan alam diiringi celoteh riang burung-burung yang berloncatan di antara dahan-dahan pepohonan sycamore yang tumbuh di sana, sementara Eurydice menari dengan gemulainya.

Tiba-tiba dari balik semak-semak muncul seekor ular yang menancapkan taring-taringnya yang berbisa pada pergelangan kaki Eurydice. Eurydice menjerit pelan sebelum kemudian roboh dalam pelukan Orpheus yang segera menyongsongnya menyaksikan kejadian tersebut. Tapi terlambat! Eurydice telah menghembuskan nafasnya yang terakhir, bahkan sebelum Orpheus sempat menanyakan keadaannya. Sementara ular berbisa tersebut telah lenyap entah ke mana seolah tak peduli betapa kebahagiaan sepasang anak manusia telah dihancurkannya .

To be continued...

(Sumber : Forum KG _Legenda Dewa & Dewi Yunani_Hansel)

Read more.....

Sign by Dealighted

Sign by Dealighted