hitamputih blog kita | hitamputih blog kita | hitamputih blog kita | hitamputih blog kita | Gubuk Jupiter | Gubuk Jupiter |
Google
 
BERBAGI KISAH... KISAHMU, KISAHKU & KISAH KITA
Tampilkan postingan dengan label Astronomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Astronomi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 November 2007

Tentang Galileo Galilei


Galileo Galilei (15 Februari 1564 - 8 Januari 1642) adalah seorang astronom, filsuf, dan fisikawan Italia yang memiliki peran besar dalam revolusi ilmiah. Ia diajukan ke pengadilan gereja Italia pada 22 Juni 1633. Pemikirannya tentang matahari sebagai pusat tata surya bertentangan dengan keyakinan gereja bahwa bumi adalah pusat alam semesta. Ia divonis dengan hukuman mati.

Karya-karyanya antara lain adalah penyempurnaan teleskop, berbagai observasi astronomi, dan hukum gerak pertama dan kedua. Selain itu, Galileo juga dikenal sebagai seorang pendukung Copernicus


Menurut Stephen Hawking, Galileo kemungkinan besar adalah penyumbang terbesar bagi dunia sains modern. Ia juga sering disebut-sebut sebagai "bapak astronomi modern", "bapak fisika modern", dan "bapak sains". Hasil usahanya bisa dikatakan sebagai terobosan besar dari Aristoteles. Konfliknya dengan Gereja Katolik Roma adalah sebuah contoh awal konflik antara otoritas agama dengan kebebasan berpikir (terutama dalam sains) pada masyarakat Barat.

BIOGRAFI
Galileo Galilei dilahirkan di Pisa, Tuscany pada tanggal 15 Februari 1564 sebagai anak pertama dari Vincenzo Galilei, seorang matematikawan dan musisi asal Florence, dan Giulia Ammannati. Ia sudah dididik sejak masa kecil. Kemudian, ia belajar di Universitas Pisa namun terhenti karena masalah keuangan. Untungnya, ia ditawari jabatan di sana pada tahun 1589 untuk mengajar matematika. Setelah itu, ia pindah ke Universitas Padua untuk mengajar geometri, mekanika, dan astronomi sampai tahun 1610. Pada masa-masa itu, ia sudah mendalami sains dan membuat berbagai penemuan.

Pada tahun 1612, Galileo pergi ke Roma dan bergabung dengan Accademia dei Lincei untuk mengamati bintik matahari. Di tahun itu juga, muncul penolakan terhadap teori Copernicus, teori yang didukung oleh Galileo. Pada tahun 1614, dari Santa Maria Novella, Tommaso Caccini mengecam pendapat Galileo tentang pergerakan bumi, memberikan anggapan bahwa teori itu sesat dan berbahaya. Galileo sendiri pergi ke Roma untuk mempertahankan dirinya. Pada tahun 1616, Kardinal Roberto Bellarmino menyerahkan pemberitahuan yang melarangnya mendukung maupun mengajarkan teori Copernicus.

Galileo menulis Saggiatore di tahun 1622, yang kemudian diterbitkan pada 1623. Pada tahun 1624, ia mengembangkan salah satu mikroskop awal. Pada tahun 1630, ia kembali ke Roma untuk membuat izin mencetak buku Dialogo sopra i due massimi sistemi del mondo yang kemudian diterbitkan di Florence pada 1632. Namun, di tahun itu pula, Gereja Katolik menjatuhkan vonis bahwa Galileo harus ditahan di Siena.

Di bulan Desember 1633, ia diperbolehkan pensiun ke vilanya di Arcetri. Buku terakhirnya, Discorsi e dimostrazioni matematiche, intorno à due nuove scienze diterbitkan di Leiden pada 1638. Di saat itu, Galileo hampir buta total. Pada tanggal 8 Januari 1642, Galileo wafat di Arcetri saat ditemani oleh Vincenzo Viviani, salah seorang muridnya.

ASTRONOMI
Tidak seperti yang dipercaya sebagian orang, Galileo tidak menciptakan teleskop tapi ia telah menyempurnakan alat tersebut. Ia menjadi orang pertama yang memakainya untuk mengamati langit, dan untuk beberapa waktu, ia adalah satu dari sedikit orang yang bisa membuat teleskop sebagus itu. Awalnya, ia membuat teleskop hanya berdasarkan deskripsi tentang alat yang dibuat di Belanda pada 1608. Ia membuat sebuah teleskop dengan perbesaran 3x dan kemudian membuat model-model baru yang bisa mencapai 32x. Pada 25 Agustus 1609, ia mendemonstrasikan teleskop pada pembuat hukum dari Venesia. Selain itu, hasil kerjanya juga membuahkan hasil lain karena ada pedagang-pedagang yang memanfaatkan teleskopnya untuk keperluan pelayaran. Pengamatan astronominya pertama kali diterbitkan di bulan Maret 1610, berjudul Sidereus Nuncius.

Galileo menemukan tiga satelit alami Jupiter -Io, Europa, dan Callisto- pada 7 Januari 1610. Empat malam kemudian, ia menemukan Ganymede. Ia juga menemukan bahwa bulan-bulan tersebut muncul dan menghilang, gejala yang ia perkirakan berasal dari pegerakan benda-benda tersebut terhadap Jupiter, sehingga ia menyimpulkan bahwa keempat benda tersebut mengorbit planet.

Galileo adalah salah satu orang Eropa pertama yang mengamati bintik matahari, diperkirakan astronom Tionghoa sudah mengamatinya sejak lama. Selain itu, Galileo juga adalah orang pertama yang melaporkan adanya gunung dan lembah di bulan, kesimpulan yang diambil melihat dari pola bayangan yang ada di permukaan. Ia kemudian memberi kesimpulan bahwa bulan itu "kasar dan tidak rata, seperti permukaan bumi sendiri", tidak seperti anggapan Aristoteles yang menyatakan bulan adalah bola sempurna.

Galileo juga mengamati planet Neptunus pada 1612 namun ia tidak menyadarinya sebagai planet. Pada buku catatannya, Neptunus tercatat hanya sebagai sebuah bintang yang redup.

Teleskop Galileo terus disempurnakan oleh ilmuwan lain seperti Christian Huygens (1629-1695) yang menemukan Titan, satelit Saturnus, yang berada hampir 2 kali jarak orbit Bumi-Yupiter.

Perkembangan teleskop juga diimbangi pula dengan perkembangan perhitungan gerak benda-benda langit dan hubungan satu dengan yang lain melalui Johannes Kepler (1571-1630) dengan Hukum Kepler. Dan puncaknya, Sir Isaac Newton (1642-1727) dengan hukum gravitasi. Dengan dua teori perhitungan inilah yang memungkinkan pencarian dan perhitungan benda-benda langit selanjutnya
(Sumber : Wikipedia/hpk doc/Oct/07)


Read more.....

Selasa, 23 Oktober 2007

Black Hole, Pemangsa Bintang Yang Serakah

Black hole (lubang hitam) bakal menghisap apapun yang mendekatinya, termasuk cahaya yang melintas. Dan kini para astronom mendapatkan bukti bahwa bintang-bintang di langit pun tidak luput dari ’keserakahannya.’

Gambar di atas menunjukkan bukti Sebuah bintang yang tersedot oleh black hole.

Pengamatan dari tiga teleskop ruang angkasa sinar-X selama lebih dari satu dekade menunjukkan adanya sebuah bintang yang tercabik dan ditelan oleh sebuah black hole.

Sebelumnya para astronom sudah melihat bagaimana black hole menyedot gas yang beterbangan di sekitarnya, lalu memanaskan gas tersebut sehingga memancarkan radiasi dalam berbagai panjang gelombang, mulai dari gelombang radio hingga gelombang cahaya tampak dan sinar-X. Mereka juga memperkirakan bahwa sebuah bintang sekalipun bisa terkoyak karena daya tarik gravitasi sebuah black hole, namun bukti mengenai hal itu baru didapatkan sekarang.



Berdasarkan pengamatan, para astronom melihat sebuah bintang yang terlempar mendekati pusat sebuah galaksi akibat kedekatan posisinya dengan bintang lain. Dalam perjalanannya menempuh jalur tersebut, ia mendekati sebuah black hole raksasa yang massanya setara dengan 100 juta kali massa Matahari, lalu tersedot arus hisapnya.

"Bintang itu sesungguhnya bisa selamat bila hanya terhisap sebagian, misalnya gasnya saja," ujar Stefanie Komossa, astronom di Max Planck Institute for Extraterrestrial Physics, Jerman. "Namun dalam peristiwa ini ia terhisap seluruhnya."

Adapun black hole raksasa di atas, berada dekat pusat galaksi RX J1242-11. Jaraknya sekitar 700 juta tahun cahaya dari Bumi. Sementara bintang yang dihisapnya seukuran Matahari kita. Ia terkoyak-koyak dan terhisap selama beberapa hari.

Awalnya, bintang itu kehilangan gas-gas selimutnya yang tersedot ke black hole. Kemudian ia terpanaskan hingga jutaan derajat sebelum ditelan sang lubang hitam, seraya melepaskan tenaga setara dengan energi yang dihasilkan pada sebuah ledakan supernova. Dalam perisitwa tersebut, para astronom dapat menangkap aktivitas sinar-x yang terpancar terang menggunakan teleskop-teleskop ruang angkasa.

"Dengan data ini, kita memiliki bukti pasti bahwa black hole mampu memangsa sebuah bintang," kata Gunther Hasinger, astronom dari Max Planck Institute.

Sifat buruk
Black hole dikenal sebagai pemakan yang ceroboh. Mereka ’mencerna’ sedikit saja benda yang berada di ’piring makannya’, lalu memuntahkan sisanya ke ruang angkasa. Dalam kasus ini, hanya sekitar satu persen dari bagian bintang malang itu yang ditelan. Sisanya dilemparkan kembali ke galaksi menggunakan energi yang luar biasa dahsyat.

Peristiwa penghisapan dan pemuntahan kembali itu terekam lewat teleskop ruang angkasa Chandra X-ray milik NASA dan XMM-Newton milik Badan Antariksa Eropa. Sebelumnya, tim riset mempelajari dahulu foto-foto permulaan yang diambil oleh satelit Roentgen Jerman (ROSAT) pada tahun 1990 dan 1992, yang memperlihatkan pancaran sinar-X ketika bintang mulai terkoyak.

Intensitas pancaran itu kemudian melemah seiring dengan makin tercerainya tubuh sang bintang. Penurunan aktivitas pancaran yang cepat diduga juga terjadi karena adanya penghisapan lebih lanjut oleh ruangan di sekitar black hole. Pada puncaknya, black hole bisa menelan sebuah objek seukuran Bumi tiap 10 menit.

Sejatinya peristiwa seperti ini sangat sulit diamati karena black hole sendiri tidak bisa dilihat. Kita hanya bisa melihat jejak cahaya yang terhisap ke dalamnya. Para astronom sejauh ini mendeteksi keberadaan black hole dengan memperhatikan aktivitas cahaya di serta kecepatan bintang maupun gas-gas di jagad raya. Bila di suatu tempat tidak ditemukan cahaya, namun di sekitarnya banyak objek angkasa menuju ke satu titik dengan kecepatan tinggi sebelum hilang, maka titik tersebut dipastikan sebuah black hole.

Tidak ada bahaya bagi Bumi
Di galaksi Bima Sakti tempat Bumi kita berada juga terdapat sebuah black hole dengan masa antara 3,2 juta hingga 4 juta kali massa Matahari. Black hole kita ini termasuk tenang dibanding black hole lain. Menurut para ilmuwan, sebabnya antara lain karena sedikitnya objek sekitar yang bisa dihisapnya.

Sedangkan black hole di galaksi lain, disebut jauh lebih aktif. Peristiwa penghisapan bintang seperti yang dilihat tim Komossa, diperkirakan terjadi sekali tiap 10.000 tahun dalam sebuah galaksi yang memiliki black hole. Namun mengingat ada milyaran black hole di jagad raya, maka diperlukan pengamatan lebih lanjut untuk mengetahui frekuensi kejadian tersebut.

Kembali pada galaksi kita, bila sebuah bintang terkoyak di pusat Bima Sakti, maka peristiwa itu akan menghasilkan pancaran sinar-X 50.000 kali lebih terang dibanding semua sumber sinar-X di galaksi.

Apakah ada kemungkinan Matahari kita dan planet-planetnya terhisap black hole? Dikatakan para ilmuwan, tata surya kita berada sekitar 25.000 tahun cahaya dari pusat galaksi Bima Sakti, sehingga arus hisap black hole di pusat tidak akan membahayakan Bumi. (CNN/BBC/space.com/wsn)

(Sumber:CNN/BBC/space.com/wsn & KompasCyberMedia)

Read more.....

Rabu, 17 Oktober 2007

Sejarah Nama-nama Planet

Bagaimana Planet-planet Mendapatkan Namanya?
London
NASA

Telah diberitakan bahwa para ilmuwan AS baru-baru ini menemukan sebuah objek angkasa yang bisa jadi merupakan planet ke sepuluh di tata surya kita. Mereka menyebutnya Sedna. Mengenai nama ini, pastilah banyak orang bertanya-tanya, bagaimanakah sebuah planet mendapatkan namanya?


Yang jelas, saat para astronom di Institut Teknologi California memberi nama Sedna, keputusan itu tidaklah diambil begitu saja.

Mereka menjulukinya Sedna, seperti nama Dewi Samudra bangsa Inuit, yang menurut beberapa versi ceritanya, adalah seorang dewi yang dilemparkan ke perairan kutub utara oleh ayahnya.

Dinginnya lingkungan tempat dewi itu berada dirasa sangat sesuai untuk menggambarkan betapa beku dan rendahnya suhu di permukaan benda angkasa yang mereka temukan. Para ilmuwan yakin, di sana suhu tidak akan pernah mencapai lebih dari minus 240 derajat Celcius karena jaraknya yang amat jauh dari Matahari --yakni sekitar 130 milyar kilometer atau 900 kali lebih jauh dari jarak Bumi-Matahari.

Meski dirasa cocok, namun tak urung tetap muncul perdebatan yang mempertanyakan apakah para ilmuwan memiliki hak untuk menentukan nama sebuah benda angkasa.


Dewa-dewi angkasa

Planet-planet di tata surya kita, serta banyak dari bulan-bulan mereka, menyandang nama dewa-dewi atau tokoh-tokoh dalam mitologi Roma dan Yunani.

Lima planet terdekat ke Matahari selain Bumi (Merkurius, Venus, Mars, Yupiter dan Saturnus) telah dikenal sejak zaman dahulu karena mereka semua bisa dilihat dengan mata telanjang. Banyak bangsa di dunia ini memiliki nama sendiri untuk masing-masing planet. Pada abad ke-6 SM, bangsa Yunani memberi nama Stilbon (cemerlang) untuk Planet Merkurius, Pyoroeis (berapi) untuk Mars, Phaethon (berkilau) untuk Jupiter, Phainon (Bersinar) untuk Saturnus. Khusus planet Venus memiliki dua nama yaitu Hesperos (bintang sore) dan Phosphoros (pembawa cahaya). Hal ini terjadi karena dahulu planet Venus yang muncul di pagi dan di sore hari dianggap sebagai dua objek yang berbeda.

Pada abad ke-4 SM, Aristoteles memperkenalkan nama-nama dewa dalam mitologi untuk planet-planet ini. Hermes menjadi nama untuk Merkurius, Ares untuk Mars, Zeus untuk Jupiter, Kronos untuk Saturnus dan Aphrodite untuk Venus.

Pada masa selanjutnya di mana kebudayaan Romawi menjadi lebih berjaya dibanding Yunani, semua nama planet dialihkan menjadi nama-nama dewa mereka. Kebetulan dewa-dewa dalam mitologi Yunani mempunyai padanan dalam mitologi Romawi sehingga planet-planet tersebut dinamai dengan nama yang kita kenal sekarang.

Venus, misalnya, dinamakan sesuai dengan nama dewi cinta bangsa Romawi karena dari Bumi ia terlihat sebagai planet yang amat indah. Sedangkan Mars mendapat nama dari dewa perang Romawi karena warna merahnya yang garang bagai darah.

Hingga masa sekarang, tradisi penamaan planet menggunakan nama dewa dalam mitologi Romawi masih berlanjut. Namun demikian ketika planet ke-7 ditemukan, planet ini diberi nama Uranus yang merupakan nama dewa Yunani. Dinamakan Uranus karena Uranus adalah ayah dari |Kronos (Saturnus). Mitologi Romawi sendiri tidak memiliki padanan untuk dewa Uranus. Planet ke-8 diberi nama Neptunus, dewa laut dalam mitologi Romawi.

Mengenai Sedna, Dr Mike Brown, pemimpin tim riset, mengatakan, "Kami tahu ia akan menjadi objek paling dingin dan paling jauh di tata surya kita. Akhirnya kami sepakat mencari nama tokoh dari mitologi bangsa-bangsa yang tinggal di kutub."

Lebih jauh, Dr Brown juga menyatakan dirinya lebih suka menyebut Sedna sebagai planetoid, dan bukannya planet karena ukurannya dianggap terlalu kecil, yakni berdiameter hanya 1.700 kilometer.

Apakah nama itu baik atau buruk, para ilmuwan sepertinya tetap harus mendapat persetujuan dari International Astronomical Union, badan yang tugasnya antara lain memutuskan bagaimana sebuah planet akan disebut secara resmi.


Georgian Sidus
Brian Marsden, seorang astronom dan sekretaris badan penamaan benda angkasa IAU, menyatakan, pengumuman sebuah nama dengan keyakinan nama itu pasti diterima adalah suatu pelanggaran terhadap protokol. "Anggota komite bisa saja menolaknya karena nama tersebut tidak resmi," katanya.

Penolakan terhadap sebuah nama oleh IAU bukan peristiwa yang belum pernah terjadi. Astronom abad 18, Herschel, pernah mencoba menamakan Uranus dengan "Georgian Sidus", mengambil nama George III, santo pelindungnya. Ia tidak berhasil, dan planet tersebut akhirnya diberi nama Uranus, ayah Saturnus, atas usul Johann Bode pada tahun 1781.

Namun bila panel menerima sebuah nama, katakanlah Sedna, maka nama tersebut akan diumumkan Minor Planet Centre, untuk digunakan resmi. Tapi sebelum diresmikan, ia secara ilmiah akan tetap disebut 2003 VB12. Nama seri ini merupakan cara yang dipakai para astronom untuk menandai tahun, bulan dan tanggal benda langit itu ditemukan.

Berkaitan dengan prospek nama Sedna, Peter Bond dari Royal Astronomical Society yakin nama tersebut kemungkinan besar akan diterima. "Hanya ada beberapa nama dari mitologi kuno, dan Anda harus mencari sumber lain bila tidak setuju dengannya." (BBC/wsn)

( Sumber : Berbagai Sumber )

Read more.....

Minggu, 07 Oktober 2007

Sejarah Penemuan Tata Surya



Lima planet terdekat ke Matahari selain Bumi (Merkurius, Venus, Mars, Yupiter dan Saturnus) telah dikenal sejak zaman dahulu karena mereka semua bisa dilihat dengan mata telanjang. Banyak bangsa di dunia ini memiliki nama sendiri untuk masing-masing planet.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pengamatan pada lima abad lalu membawa manusia untuk memahami benda-benda langit terbebas dari selubung mitologi. Galileo Galilei (1564-1642) dengan teleskop refraktornya mampu menjadikan mata manusia "lebih tajam" dalam mengamati benda langit yang tidak bisa diamati melalui mata telanjang.


Karena teleskop Galileo bisa mengamati lebih tajam, ia bisa melihat berbagai perubahan bentuk penampakan Venus, seperti Venus Sabit atau Venus Purnama sebagai akibat perubahan posisi Venus terhadap Matahari. Penalaran Venus mengitari Matahari makin memperkuat teori heliosentris, yaitu bahwa matahari adalah pusat alam semesta, bukan Bumi, yang digagas oleh Nicolaus Copernicus (1473-1543) sebelumnya. Susunan heliosentris adalah Matahari dikelilingi oleh Merkurius hingga Saturnus.

Teleskop Galileo terus disempurnakan oleh ilmuwan lain seperti Christian Huygens (1629-1695) yang menemukan Titan, satelit Saturnus, yang berada hampir 2 kali jarak orbit Bumi-Yupiter.

Perkembangan teleskop juga diimbangi pula dengan perkembangan perhitungan gerak benda-benda langit dan hubungan satu dengan yang lain melalui Johannes Kepler (1571-1630) dengan Hukum Kepler. Dan puncaknya, Sir Isaac Newton (1642-1727) dengan hukum gravitasi. Dengan dua teori perhitungan inilah yang memungkinkan pencarian dan perhitungan benda-benda langit selanjutnya

Pada 1781, William Hechell (1738-1782) menemukan Uranus. Perhitungan cermat orbit Uranus menyimpulkan bahwa planet ini ada yang mengganggu. Neptunus ditemukan pada Agustus 1846. Penemuan Neptunus ternyata tidak cukup menjelaskan gangguan orbit Uranus. Pluto kemudian ditemukan pada 1930.

Pada saat Pluto ditemukan, ia hanya diketahui sebagai satu-satunya objek angkasa yang berada setelah Neptunus. Kemudian pada 1978, Charon, satelit yang mengelilingi Pluto ditemukan, sebelumnya sempat dikira sebagai planet yang sebenarnya karena ukurannya tidak berbeda jauh dengan Pluto.

Para astronom kemudian menemukan sekitar 1.000 objek kecil lain di belakang Neptunus (disebut objek trans-Neptunus) yang juga mengelilingi Matahari. Di sana mungkin ada sekitar 100.000 objek serupa yang dikenal sebagai objek Sabuk Kuiper (Sabuk Kuiper adalah bagian dari objek-objek trans-Neptunus). Belasan benda langit termasuk dalam Obyek Sabuk Kuiper di antaranya Quaoar (1.250 km pada Juni 2002), Huya (750 km pada Maret 2000), Sedna (1.800 km pada Maret 2004), Orcus, Vesta, Pallas, Hygiea, Varuna, dan 2003 EL61 (1.500 km pada Mei 2004).

Penemuan 2003 EL61 cukup menghebohkan karena Obyek Sabuk Kuiper ini diketahui juga memiliki satelit pada Januari 2005 meskipun berukuran lebih kecil dari Pluto. Dan puncaknya adalah penemuan UB 313 (2.700 km pada Oktober 2003) yang diberi nama oleh penemunya Xena. Selain lebih besar dari Pluto, obyek ini juga memiliki satelit.


Daftar jarak planet

Daftar planet dan jarak rata-rata planet dengan matahari dalam tata surya adalah seperti berikut:

• 57,9 juta kilometer ke Merkurius
• 108,2 juta kilometer ke Venus
• 149,6 juta kilometer ke Bumi
• 227,9 juta kilometer ke Mars
• 778,3 juta kilometer ke Jupiter
• 1.427,0 juta kilometer ke Saturnus
• 2.871,0 juta kilometer ke Uranus
• 4.497,0 juta kilometer ke Neptunus
Terdapat juga lingkaran asteroid yang kebanyakan mengelilingi matahari di antara orbit Mars dan Jupiter.

Karena rotasinya terhadap sumbu masing-masing, garis khatulistiwa menjadi lingkar terpanjang yang terdapat di setiap planet dan bintang.(Sumber : Wikipedia Indonesia)

Read more.....

Asal Usul Tata Surya


Gambaran umum Tata Surya (digambarkan tidak sesuai skala; dari kiri ke kanan): Pluto, Neptunus, Uranus, Saturnus, Yupiter, sabuk asteroid, Matahari, Merkurius, Venus, Bumi dan Bulan, dan Mars. Sebuah komet digambarkan di sebelah kiri.

Tata surya (bahasa Inggris: solar system) terdiri dari sebuah bintang yang disebut matahari dan semua objek yang yang mengelilinginya. Objek-objek tersebut termasuk delapan buah planet yang sudah diketahui dengan orbit berbentuk elips, meteor, asteroid, komet, planet-planet kerdil/katai, dan satelit-satelit alami.


Tata surya dipercaya terbentuk semenjak 4,6 milyar tahun yang lalu dan merupakan hasil penggumpalan gas dan debu di angkasa yang membentuk matahari dan kemudian planet-planet yang mengelilinginya.

Tata surya terletak di tepi galaksi Bima Sakti dengan jarak sekitar 2,6 x 1017 km dari pusat galaksi, atau sekitar 25.000 hingga 28.000 tahun cahaya dari pusat galaksi. Tata surya mengelilingi pusat galaksi Bima Sakti dengan kecepatan 220 km/detik, dan dibutuhkan waktu 225–250 juta tahun untuk untuk sekali mengelilingi pusat galaksi. Dengan umur tata surya yang sekitar 4,6 milyar tahun, berarti tata surya kita telah mengelilingi pusat galaksi sebanyak 20–25 kali dari semenjak terbentuk.

Tata surya dikekalkan oleh pengaruh gaya gravitasi matahari dan sistem yang setara tata surya, yang mempunyai garis pusat setahun kecepatan cahaya, ditandai adanya taburan komet yang disebut awan Oort. Selain itu juga terdapat awan Oort berbentuk piring di bagian dalam tata surya yang dikenali sebagai awan Oort dalam.

Disebabkan oleh orbit planet yang membujur, jarak dan kedudukan planet berbanding kedudukan matahari berubah mengikut kedudukan planet di orbit.


Asal Usul Tata Surya

Banyak hipotesis tentang asal usul tata surya telah dikemukakan para ahli, diantaranya :

1. Hipotesis Nebula
Hipotesis nebula pertama kali dikemukakan oleh Immanuel Kant(1724-1804) pada tahun 1775. Kemudian hipotesis ini disempurnakan oleh Pierre Marquis de Laplace pada tahun 1796. Oleh karena itu, hipotesis ini lebih dikenal dengan Hipotesis nebula Kant-Laplace. Pada tahap awal tata surya masih berupa kabut raksasa. Kabut ini terbentuk dari debu, es, dan gas yang disebut nebula. Unsur gas sebagian besar berupa hidrogen. Karena gaya gravitasi yang dimilikinya, kabut itu menyusut dan berputar dengan arah tertentu. Akibatnya, suhu kabut memanas dan akhirnya menjadi bintang raksasa yang disebut matahari. Matahari raksasa terus menyusut dan perputarannya semakin cepat. Selanjutnya cincin-cincin gas dan es terlontar ke sekeliling matahari. Akibat gaya gravitasi, gas-gas tersebut memadat seiring dengan penurunan suhunya dan membentuk planet dalam. Dengan cara yang sama, planet luar juga terbentuk.

2. Hipotesis Planetisimal
Hipotesis planetisimal pertama kali dikemukakan oleh Thomas C. Chamberlain dan Forest R. Moulton pada tahun 1900. Hipotesis planetisimal mengatakan bahwa tata surya kita terbentuk akibat adanya bintang lain yang hampir menabrak matahari.

3. Hipotesis Pasang Surut Bintang
Hipotesis pasang surut bintang pertama kali dikemukakan oleh James Jean dan Herold Jaffries pada tahun 1917. Hipotesis pasang surut bintang sangat mirip dengan hipotesis planetisimal. Namun perbedaannya terletak pada jumlah awalnya matahari.

4. Hipotesis Kondensasi
Hipotesis kondensasi mulanya dikemukakan oleh astronom Belanda yang bernama G.P. Kuiper (1905-1973) pada tahun 1950. Hipotesis kondensasi menjelaskan bahwa tata surya terbentuk dari bola kabut raksasa yang berputar membentuk cakram raksasa.

5. Hipotesis Bintang Kembar
Hipotesis bintang kembar awalnya dikemukakan oleh Fred Hoyle (1915-2001) pada tahun 1956. Hipotesis mengemukakan bahwa dahulunya tata surya kita berupa dua bintang yang hampir sama ukurannya dan berdekatan yang salah satunya meledak meninggalkan serpihan-serpihan kecil. (Sumber : Wikipedia Indonesia)

Read more.....

Sabtu, 29 September 2007

ASTRONOMI TRADISIONAL VS MODERN



ASTRONOMI DI PANDANG DARI SUDUT YANG BERBEDA

Jagad raya beserta segenap isinya menyimpan berjuta misteri yang selalu menarik perhatian manusia dari zaman ke zaman. Astronomi sebagai ilmu yang lahir dari usaha manusia untuk menyingkap sebagian rahasia yang terkandung dalam alam semesta telah berusia hampir sepanjang peradaban umat manusia. Tidak heran apabila astronomi dipandang sebagai salah satu cabang ilmu pengetahuan yang tertua yang dikenal oleh umat manusia.

Astronomi, yang secara etimologi berarti "ilmu bintang" (dari Yunani: άστρο, + νόμος), adalah ilmu yang melibatkan pengamatan dan penjelasan kejadian yang terjadi di luar Bumi dan atmosfernya. Ilmu ini mempelajari asal-usul, evolusi, sifat fisik dan kimiawi benda-benda yang bisa dilihat di langit (dan di luar Bumi), juga proses yang melibatkan mereka.

Selama sebagian abad ke-20, astronomi dianggap terpilah menjadi astrometri, mekanika langit, dan astrofisika. Status tinggi sekarang yang dimiliki astrofisika bisa tercermin dalam nama jurusan universitas dan institut yang dilibatkan di penelitian astronomis: yang paling tua adalah tanpa kecuali bagian 'Astronomi' dan institut, yang paling baru cenderung memasukkan astrofisika di nama mereka, kadang-kadang mengeluarkan kata astronomi, untuk menekankan sifat penelitiannya. Selanjutnya, penelitian astrofisika, secara khususnya astrofisika teoretis, bisa dilakukan oleh orang yang berlatar belakang ilmu fisika atau matematika daripada astronomi.

Astronomi adalah salah satu di antara sedikit ilmu pengetahuan di mana amatir masih memainkan peran aktif, khususnya dalam hal penemuan dan pengamatan fenomena sementara. Astronomi jangan dikelirukan dengan astrologi, ilmusemu yang mengasumsikan bahwa takdir manusia dapat dikaitkan dengan letak benda-benda astronomis di langit. Meskipun memiliki asal-muasal yang sama, kedua bidang ini sangat berbeda; astronom menggunakan metode ilmiah, sedangkan astrolog tidak.


Sudut pandang Astronomi di Indonesia
Dari kacamata tradisional (budaya)
Seperti kebudayaan-kebudayaan lain di dunia, masyarakat asli Indonesia sudah sejak lama menaruh perhatian pada langit. Keterbatasan pengetahuan membuat kebanyakan pengamatan dilakukan untuk keperluan astrologi. Pada tingkatan praktis, pengamatan langit digunakan dalam pertanian dan pelayaran. Dalam masyarakat Jawa misalnya dikenal pranatamangsa, yaitu peramalan musim berdasarkan gejala-gejala alam, dan umumnya berhubungan dengan tata letak bintang di langit.

Nama-nama asli daerah untuk penyebutan obyek-obyek astronomi juga memperkuat fakta bahwa pengamatan langit telah dilakukan oleh masyarakat tradisional sejak lama. Lintang Waluku adalah sebutan masyarakat Jawa tradisional untuk menyebut tiga bintang dalam sabuk Orion dan digunakan sebagai pertanda dimulainya masa tanam. Gubuk Penceng adalah nama lain untuk rasi Salib Selatan dan digunakan oleh para nelayan Jawa tradisional dalam menentukan arah selatan. Joko Belek adalah sebutan untuk Planet Mars, sementara lintang kemukus adalah sebutan untuk komet. Sebuah bentangan nebula raksasa dengan fitur gelap di tengahnya disebut sebagai Bimasakti.

Dari kacamata modern (ilmu pengetahuan)
Pelaut-pelaut Belanda pertama yang mencapai Indonesia pada akhir abad-16 dan awal abad-17 adalah juga astronom-astronom ulung, seperti Pieter Dirkszoon Keyser dan Frederick de Houtman. Lebih 150 tahun kemudian setelah era penjelajahan tersebut, misionaris Belanda kelahiran Jerman yang menaruh perhatian pada bidang astronomi, Johan Maurits Mohr, mendirikan observatorium pertamanya di Batavia pada 1765. James Cook, seorang penjelajah Inggris, dan Louis Antoine de Bougainville, seorang penjelajah Perancis, bahkan pernah mengunjungi Mohr di observatoriumnya untuk mengamati transit Planet Venus pada 1769[1].

Ilmu astronomi modern makin berkembang setelah pata tahun 1928, atas kebaikan Karel Albert Rudolf Bosscha, seorang pengusaha perkebunan teh di daerah Malabar, dipasang beberapa teleskop besar di Lembang, Jawa Barat, yang menjadi cikal bakal Observatorium Bosscha, sebagaimana dikenal pada masa kini.

Penelitian astronomi yang dilakukan pada masa kolonial diarahkan pada pengamatan bintang ganda visual dan survei langit di belahan selatan ekuator bumi, karena pada masa tersebut belum banyak observatorium untuk pengamatan daerah selatan ekuator.

Setelah Indonesia memperoleh kemerdekaan, bukan berarti penelitian astronomi terhenti, karena penelitian astronomi masih dilakukan dan mulai adanya rintisan astronom pribumi. Untuk membuka jalan kemajuan astronomi di Indonesia, pada tahun 1959, secara resmi dibuka Pendidikan Astronomi di Institut Teknologi Bandung.

Pendidikan Astronomi di Indonesia secara formal dilakukan di Departemen Astronomi, Institut Teknologi Bandung. Departemen Astronomi berada dalam lingkungan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) dan secara langsung terkait dengan penelitian dan pengamatan di Observatorium Bosscha.

Lembaga negara yang terlibat secara aktif dalam perkembangan astronomi di Indonesia adalah Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).

Selain pendidikan formal, terdapat wadah informal penggemar astronomi, seperti Himpunan Astronomi Amatir Jakarta, serta tersedianya planetarium di Taman Ismail Marzuki, Jakarta yang selalu ramai dipadati pengunjung.

Perkembangan astronomi di Indonesia mengalami pertumbuhan yang pesat, dan mendapat pengakuan di tingkat Internasional, seiring dengan semakin banyaknya pakar astronomi asal Indonesia yang terlibat dalam kegiatan astronomi di seluruh dunia, serta banyaknya siswa SMU yang memenangi Olimpiade Astronomi Internasional maupun Olimpiade Astronomi Asia Pasific.

Demikian juga dengan adanya salah seorang putra terbaik bangsa dalam bidang astronomi di tingkat Internasional, yaitu Profesor Bambang Hidayat yang pernah menjabat sebagai vice president IAU (International Astronomical Union).


Asosiasi Pengamat Bintang Variabel Amerika

Asosiasi Pengamat Bintang Variabel Amerika (dalam bahasa Inggris: American Association of Variable Star Observers atau disingkat AAVSO) adalah sebuah badan yang didirikan pada 1911 di Amerika, yang bertujuan mengkoordinasi, mengumpulkan, mengevaluasi, menganalisis, dan mengarsipkan pengamatan bintang variabel yang dilakukan kebanyakan oleh astronom amatir dan kemudian membuat rekaman-rekaman tersebut dapat diolah oleh para astronom profesional, peneliti dan pendidik. Rekaman-rekaman ini digunakan untuk menentukan kurva cahaya yang menggambarkan perubahan kecerlangan bintang-bintang tersebut sepanjang masa.

Astronomi adalah salah satu dari sedikit cabang ilmu yang memberikan kesempatan kepada para amatir untuk dapat berkontribusi pada riset ilmiah, sebab para astronom profesional tidak memiliki cukup waktu atau sarana dalam memonitor setiap bintang yang ada. Sumbangan terbesar astronom amatir umumnya dalam bidang pengamatan bintang variabel, karena tidak dibutuhkan alat dan metode yang rumit. Database Internasional AAVSO saat ini memiliki lebih dari 12 juta perkiraan bintang variabel yang dikumpulkan selama kurang lebih 100 tahun. AAVSO menerima lebih dari 500.000 pengamatan setahun dari sekitar 2000 pengamat baik profesional maupun amatir.

AAVSO juga aktif dalam pendidikan dan public outreach. Secara rutin mereka mengadakan workshop pelatihan dengan melibatkan amatir sebagai pembimbing. Mereka memelopori sebuah model modern pengamatan astronomi dimana profesional dan amatir bekerjasama dalam sebuah tim yang melakukan analisis data, berlawanan dengan model kuno dimana profesional bertindak sebagai pembimbing para amatir yang membutuhkan bantuan pengamatan.

( Source : website AAVSO, http://id.wikipedia.org/wiki/Astronomi )

Read more.....

ASTRONOM YUNANI ERA KLASIK



Aristarchus
Aristarchus (310 SM - 230 SM) adalah seorang astronom dan matematikawan Yunani kuno yang lahir di Pulau Samos. Ia adalah orang pertama yang mengusulkan model heliosentrik tata surya, menempatkan Matahari, dan bukan Bumi, di pusat alam semesta yang diketahui saat itu. Ide-ide astronominya tidak diterima dengan baik dan tergantikan oleh ide-ide Aristoteles dan Ptolemaeus, hingga akhirnya hidup dan dibangun kembali oleh Copernicus hampir 2000 tahun kemudian.

***

Eratosthenes
Eratosthenes (bahasa Yunani Ἐρατοσθένης) (276 SM - 194 SM) adalah seorang matematikawan, ahli geografi dan astronom jaman Helenistik. Ia tercatat sebagai orang yang pertama kali memikirkan sistem koordinat geografi, dan yang pertama diketahui menghitung keliling Bumi.

Kehidupan Eratosthenes dilahirkan di Cyrene (Libya saat ini), tetapi bekerja dan meninggal di Alexandria. Dia tidak pernah menikah dan dikenal sebagai seorang yang sombong.

Eratosthenes belajar di Alexandria dan untuk beberapa tahun di Athena. Pada 236 SM ia ditunjuk oleh Ptolemy III Euergetes I sebagai pustakawan Perpustakaan Alexandria, menggantikan pustakawan pertama, Zenodotos. Dia membuat beberapa sumbangan penting pada matematika dan sains, dan merupakan teman baik Archimedes. Sekitar 255 SM ia menciptakan bola armilar, yang digunakan secara luas hingga diciptakannya oreri pada abad 18. Pada 195 SM ia menjadi buta dan setahun kemudian diduga membiarkan dirinya kelaparan hingga meninggal dunia.

Ia dicatat oleh Cleomedes dalam On the Circular Motions of the Celestial Bodies sebagai orang yang telah menghitung keliling Bumi pada sekitar tahun 240 SM, menggunakan metode trigonometri dan pengetahuan mengenai sudut kemiringan Matahari saat tengah hari di Alexandria dan Syene (sekarang Aswan, Mesir).

Eratosthenes dan keliling Bumi
Eratosthenes mengetahui bahwa pada saat titik musim panas pada siang lokal di kota Syene yang terletak di Tropic of Cancer, Matahari akan tampak di zenit, tepat di atas kepala. Ia juga mengetahui dari pengukuran bahwa di kampung halamannya, Alexandria, sudut kemiringan Matahari pada saat yang sama adalah 7,2° di selatan zenit. Dengan asumsi bahwa Alexandria berada di utara Syene ia menyimpulkan bahwa jarak dari Alexandria ke Syene adalah 7,2/360 dari total keliling Bumi. Jarak antara kedua kota tersebut diketahui dari para pedagang/pengelana sekitar 5000 stadia: sekitar 800 km. Dia mendapatkan angka akhir 700 stadia per derajat, yang berarti keliling Bumi adalah 252.000 stadia. Ukuran pasti dari stadion yang dia gunakan saat ini tidak lagi diketahui dengan pasti (ukuran stadion Attic sekitar 185 m), tetapi umumnya dipercaya bahwa keliling Bumi yang dihitung Eratosthenes adalah sekitar 39.690 km.

Meskipun metode Eratosthenes cukup baik, akurasi perhitungannya masih terbatas. Akurasi pengukuran Eratosthenes terkurangi oleh fakta bahwa Syene tidaklah tepat berada di Tropic of Cancer, tidak juga tepat berada di selatan Alexandria, dan Matahari sebetulnya adalah sebuah piringan yang berada pada suatu jarak tertentu dari Bumi dan bukan sebuah "sumber titik" pada jarak yang tak hingga. Sumber lain dari galat pengukurannya adalah: ketelitian tertinggi pengukuran sudut pada jaman itu hanyalah seperempat derajat, dan pengukuran jarak melalui perjalanan darat masih diragukan. Maka akurasi dari perhitungan Eratosthenes adalah mengejutkan, sebab keliling Bumi yang diukur melewati kutub-kutubnya saat ini diketahui berharga 40.008 km.

Percobaan Eratosthenes pada saat itu sangat dipandang, dan perkiraannya tentang ukuran Bumi diterima hingga ratusan tahun sesudahnya. Metodenya digunakan oleh Posidonius sekitar 150 tahun kemudian.

Karya lain
Sumbangan Eratosthenes lain meliputi:
• Saringan Eratosthenes sebagai cara menemukan bilangan prima.
• Kemungkinan, pengukuran jarak Matahari-Bumi, sekarang disebut sebagai satuan astronomi dan jarak Bulan.
• Pengukuran inklinasi bidang ekliptika hingga mencapai ketelitian 7 menit busur.
• Katalog bintang memuat 675 bintang (namun tidak terlestarikan).
• Peta rute pelayaran di Sungai Nil hingga sejauh Khartoum.
• Peta dunia yang diketahui saat itu, dari Kepulauan Britania hingga Srilangka, dan dari Laut Kaspia hingga Ethiopia. Hanya Hipparchus, Strabo, dan Ptolemy yang dapat membuat peta yang lebih akurat pada masa klasik dan post-klasik.
• Sejumlah karya dalam teater dan etika.
• Sebuah kalender dengan tahun kabisat, dimana dia berusaha menentukan sejumlah tanggal pasti dan hubungan dari berbagai macam event politik dan literatur pada masanya hingga ke masa Perang Troya.

Koleksi terpisah dari mitos-mitos langit jaman Helenistik disebut Catasterismi (Katasterismoi) dipertautkan kepada Eratosthenes; dipercaya bahwa hal ini dipertautkan sebagai pengakuan atas kredibilitasnya.
***

Hipparchus
Hipparchus (bahasa Yunani Ἳππαρχος) (190 SM – 120 SM) adalah seorang astronom, ahli geografi, dan matematikawan Yunani kuno, pada jaman Helenistik.

Hipparchus dilahirkan di Nicea (sekarang Iznik, Turki), dan kemungkinan meninggal di Pulau Rhodes. Hipparchus dianggap sebagai astronom terbesar pada era klasik. Dia adalah orang pertama yang membangun model akurat dan kuantitatif gerakan Matahari dan Bulan. Untuk perkerjaan ini ia menggunakan hasil pengamatan dan pengetahuan yang telah dikumpulkan selama berabad-abad oleh bangsa Chaldea dari Babylonia. Ia juga yang pertama mengompilasi tabel trigonometri, yang membuatnya dapat memecahkan masalah-masalah segitiga.

Dengan teori matahari dan bulan dan trigonometri numerik miliknya, ia berhasil membangun metode dalam memperkirakan gerhana matahari. Pencapaiannya yang lain termasuk penemuan presesi, kompilasi katalog bintang yang pertama, dan kemungkinan, pencipta astrolabe. Claudius Ptolemaeus, tiga abad kemudian sangat bergantung pada pekerjaan Hipparchus. Risalah astronomi Ptolemaeus ini selanjutnya malah menggantikan karya-karya Hipparchus. Meskipun Hipparchus menulis setidaknya 14 buku, hanya komentarnya pada puisi astronomis populer karya Aratus yang terselamatkan oleh para penyalin masa itu. Konsekuensinya kita hanya tahu sedikit mengenai kehidupan dan karya Hipparchus.

Kehidupan dan karyanya
Kebanyakan yang diketahui mengenai Hipparchus berasal dari pekerjaan Ptolemaeus pada abad ke-2 Masehi, yaitu Almagest, dengan referensi tambahan dari Pappus dari Alexandria dan Theon dari Alexandria (abad ke-4 Masehi) dalam komentar mereka terhadap Almagest.

Karya Hipparcus juga diketahui dari Geographia karangan Strabo, dan dari Naturalis Historia karangan Pliny the Elder (abad ke-1).[1]

Riwayat pasti kehidupannya tidak diketahui, tetapi Ptolemaeus mempertalikan namanya dengan pengamatan-pengamatan astronomis dari 147 SM hingga 127 SM; walau diduga pengamatan telah dilakukannya lebih awal dari sekitar 162 SM. Tanggal kelahirannya (sekitar tahun 190 SM) dihitung oleh Delambre berdasar pada petunjuk-petunjuk dari pekerjaannya. Hipparchus haruslah sudah berkarya sebelum tahun 127 SM karena pada saat itu ia sudah menganalisis dan menerbitkan pengamatan terakhirnya.

Karya-karya utama Hipparchus telah hilang. Satu-satunya karya yang terselamatkan adalah Toon Aratou kai Eudoxou Fainomenoon exegesis ("Komentar pada Fenomena Eudoxus dan Aratus"). Ini adalah sebuah komentar kritis dalam dua buku mengenai puisi populer Aratus yang mendasarkan diri pada pekerjaan Eudoxus.[2] Hipparchus juga membuat daftar karya-karya besarnya, yakni berjumlah sekitar 14 buku, tetapi hanya diketahui pengarang-pengarang sesudahnya dari referensi-referensi. Katalog bintang miliknya yang terkenal kemungkinan digabungkan menjadi satu oleh Ptolemaeus. Diketahui bahwa ia juga membuat globe langit; sebuah tiruan dari tiruan karyanya adalah globe langit tertua yang ada menggambarkan rasi-rasi dengan cukup akurat.

Hipparchus dikenal sebagai perintis dan bapak astronomi. Ia dipercaya sebagai astronom pengamat Yunani kuno terbesar, dan banyak yang menggelarinya sebagai astronom terbesar era klasik, meskipun Cicero memberikan gelar ini pada Aristarchus dari Samos dan beberapa menganggap Ptolemaeus dari Alexandria.

***

Claudius Ptolemaeus
Claudius Ptolemaeus (bahasa Yunani: Κλαύδιος Πτολεμαῖος; 90 – 168), adalah seorang ahli geografi, astronom, dan astrolog yang hidup pada jaman Helenistik di provinsi Romawi, Aegyptus.
Ptolomaeus adalah pengarang beberapa risalah ilmiah, tiga diantaranya kemudian memainkan peranan penting dalam keilmuwan Islam dan Eropa. Yang pertama adalah risalah astronomi yang dikenal sebagai Almagest (dalam bahasa Yunani Η μεγάλη Σύνταξις , "Risalah Besar"). Yang kedua adalah Geographia, yang merupakan diskusi teliti mengenai pengetahuan geografi Helenistik. Yang ketiga adalah risalah astrologi dikenal sebagai Tetrabiblos ("Empat buku") dimana dia berusaha mengadaptasi astrologi horoskop ke filosofi alam Aristotelian.

***

Read more.....

Sign by Dealighted

Sign by Dealighted