hitamputih blog kita | hitamputih blog kita | hitamputih blog kita | hitamputih blog kita | Gubuk Jupiter | Gubuk Jupiter |
Google
 
BERBAGI KISAH... KISAHMU, KISAHKU & KISAH KITA
Tampilkan postingan dengan label Cerber. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerber. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Desember 2007

Penunggu Rumah Sofie oleh Naomi (Bag.2)

PENUNGGU RUMAH SOFIE (2)
Ditulis oleh : Naomi Firenzee
Pada tanggal : 27 Desember 2007


Siang itu, suasana kampus terlihat begitu lengang. Aku melihat Sofie sedang duduk santai, di salah satu bangku beton yang terdapat di depan ruangan dosen. Sesekali anak rambutnya melambai, dipermainkan oleh angin yang berhembus sepoi-sepoi.

“Hai, Fie...! Ngapain bengong sendirian?” teriakku sambil berjalan menghampirinya. Sofie hanya melirikku dari sudut matanya dan tersenyum aneh. Sofie tersenyum sinis. Kemudian dia menoleh ke arah yang berlawanan, menatap aneh pada sosok laki-laki yang bernama Dean. Laki-laki yang selama ini berusaha untuk menarik perhatian dan mendapatkan cinta Sofie.

“Heh! Napa, lo?” ujarku sambil menghenyakkan pantat duduk di sebelahnya. Sofie menoleh menatapku, tapi ada yang lain dengan tatapan matanya. Aneh! Tak biasanya Sofie bersikap begini terhadapku. Sofie yang manja dan centil kenapa bisa tiba-tiba jadi cool gitu ya?


“Eh, itu... laki-laki itu, siapa ya namanya?” tiba-tiba saja dia mengajukan pertanyaan yang membuatku terheran-heran.

“Heh?” aku menjadi kebingungan. Ku ikuti arah pandangan Sofie yang tertuju pada Dean.

“Dia?” celetukku lagi. Sofie mengangguk. Keherananku semakin memuncak. Masa sih dia nggak kenal Dean yang hampir tiap malam ngapelin dia? Masa sih dia nggak ingat dengan Dean yang mau melakukan apapun, demi cintanya terhadap Sofie? Waduh! Ada yang nggak beres, nih!

“Eh, lo sehat nggak, sih?” aku malah balas bertanya.
“Masa sih lo nggak tau dia?” lanjutku.
“Eh–uh, itu... aku lupa,” jawabnya gugup. Kecurigaanku mulai bertambah. Aku ingin tahu ada apa gerangan dengan Sofie.
“Lo ingat nama gue, nggak?” selidikku, penasaran.
“Yaa—ingat... kamu...” Dia mulai kelimpungan menjawab pertanyaanku. Sekarang aku mulai mengerti.
“Kamu siapa? Mana Sofie?” desisku tajam. Dia semakin salah tingkah.
“Aduh... kamu... aku… aku Sofie...” tangkisnya.
“Jawab!” aku terus mendesaknya. Mungkin karena tidak tahan dengan desakanku, atau mungkin juga karena telah ketahuan, akhirnya dia mengaku.
“Aku, Anna.” ujarnya pelan, namun cukup untuk membuatku terkesiap hebat.
“Apa!” Terlontar teriakan tertahan dari mulutku. Heran bercampur takjub. Ini adalah pengalaman pertamaku berbicara dengan makhluk yang berasal dari lain dunia.
“Ya, aku Anna. Penunggu rumahnya Sofie. Maaf tempo hari aku dan adikku telah membuatmu ketakutan.” Jelasnya.
“Ka—kamu... Adikmu... Hah?” Aku tergugu.
“Iya. Kami di sana satu keluarga. Aku, orang tuaku dan adik-adikku. Kami bertujuh sudah lama mendiami rumah itu.”
“Mana Sofie! Ngapain kamu ada di tubuhnya?” ujarku sedikit ketus, ketika sudah bisa menguasai keadaan. Aku tidak lagi takut kepadanya, malah geram.
“Sofie kutitipkan di Sedona, dia nggak bakalan kenapa-napa. Aku hanya meminjam sebentar tubuhnya. Aku tidak menyukai laki-laki itu. Laki-laki yang sering bertandang kerumahnya.” Suara Anna terdengar bersahabat.
“Dean?” tanyaku hati-hati, ia mengangguk pelan sambil tersenyum. Timbul sedikit rasa nyaman, ketika aku mencoba berbincang lebih jauh dengannya. Dia cukup terbuka dan santai. Usianya jauh lebih dewasa dariku, sehingga aku menambahkan embel-embel ‘Mbak’ didepan namanya.
“Mbak Anna, panggil Sofie, dong... Udah waktunya kuliah, nih!” Terlihat Sofie menyapukan kedua telapak tangan kewajahnya. Ia menggeliat kecil dan tersentak. Seketika muncul lah raut wajah Sofie yang sebenarnya.
“Hai Naooo...” Ujarnya ceria, aku hanya kembali terheran-heran.

******

Sejujurnya, aku merasa aneh karena berteman dengan makhluk yang tak kasat mata. Benar-benar aneh! Makin hari aku makin mengenal pribadi mbak Anna. Ia bercerita bahwa ia kasihan melihat Sofie yang selalu kesepian. Ia ingin melindungi Sofie dari rayuan gombal para lelaki. Ia juga bercerita tentang keluarganya, bagaimana ia bisa ada disana, tentang ia yang takut anjing, dan tentang kakek-kakek yang menghadangnya ketika ia kuundang untuk bermain kerumahku di tengah malam. Kakek-kakek yang berdiam di rumahku, terangnya.

Pernah aku bertanya kepadanya, mengapa ia tak pernah menunjukkan wajah aslinya. Namun ia tak pernah menjawab dan selalu saja mengalihkan pembicaraan. Aku semakin bertanya-tanya dan menduga, apa wajahnya mengerikan seperti sinetron mistis yang kerap ditayangkan di TV? Tapi aku tak berani memaksanya untuk bercerita tentang hal-hal yang ada diluar batas. Aku cukup tahu diri untuk hal itu.

Tak begitu banyak yang mengetahui perihal mbak Anna, yang sering memakai tubuh Sofie sebagai media. Namun, lambat laun hal itu tercium juga oleh keluarganya Sofie. Sofie kerap bertingkah aneh di hadapan keluarganya. Selidik punya selidik, akhirnya mereka tahu, bahwa Anna dan keluarganya adalah penunggu rumah tersebut. Mereka memang tidak mengganggu kenyamanan keluarganya Sofie, malah mereka turut menjaga rumah tersebut dari orang yang berniat iseng.

Lama aku tak mendengar lagi kabarnya mbak Anna. Entah bagaimana ceritanya dia, aku juga tidak tahu. Ketika hal itu kutanyakan Sofie hanya bilang, bahwa tubuhnya letih jika harus digunakan mbak Anna terus. Banyak kudengar cerita dari Sofie tentang mereka. Tentang mereka yang tidak mau lagi mencampuri urusan dunia, dan tentang permintaan aneh mereka. Mereka minta dikirimi pakaian.

“Hah? Jadi mereka naked?” Bisikku tak percaya. Sofie mengangguk.
“Waktu itu secara tak sengaja Om-ku mendapati mereka dikamar mandi belakang, tanpa sehelai benang pun yang melekat ditubuh mereka.”
“Jadi itu sebabnya dia tak berani menampakan wujud aslinya…” gumamku pelan.
“Dia malu.” lanjut Sofie.
“Makanya dia minta Om untuk mengirimi mereka beberapa pasang pakaian bekas.”
“Caranya?” keningku berkerut mendengar penjelasan Sofie.
“Dengan bantuan Kyai, Om bakalan melemparkan semua pakaian itu dijembatan besar dekat rumah. Biar mereka sendiri yang mengambilnya.” jelasnya lagi. Aku menggaruk-garuk hidung kebingungan. Aku tak mengerti!

******

Cerita tentang mbak Anna menguap begitu saja, seiring kesibukan kami dengan tugas-tugas perkuliahan yang menumpuk. Waktu libur pun tiba, kusempatkan diri untuk bermain ke rumah Sofie. Sudah lama aku tidak berkunjung ke rumahnya. Tidak ada yang berubah, kecuali cat rumahnya yang kelihatan baru. Sambil duduk santai, aku menebar pandangan. Mencoba mencari-cari bayangan mbak Anna. Tapi nihil, tak sedikitpun ada tanda-tanda menunjukkan keberadaan mbak Anna.

“Fie... ada cemilan, nggak?” celetukku.

“Coba lihat di kulkas deh, Nao... Perasaan masih ada Dunkin Donut disana.”
Dengan malas kuseret kakiku ke arah dapur. Entah mengapa, tiba-tiba saja pandanganku tertuju pada kamar mandi yang ada disana. Sudut bibirku bergerak melengkung naik.

“Eh, mbak Anna, udah punya baju baru, toh?” Aku tersenyum menggoda, menatap sosok perempuan berbaju daster batik di pojok dapur. Sosok tak kasat mata, Anna…

Tamat


Read more.....

The Golden Age of Classical Myths - Part. 5

Mercury (Hermes) and Iris


Mercury adalah duta dewata, dewa pelindung perdagangan, penggembala, bahkan pencuri, putra Jupiter dari Maia, putri Atlas, dewi padang-padang bunga. Bagaimana kisahnya sampai dia menjadi dewa pelindung pencuri adalah sebagai berikut:

Konon saat berada dalam buaiannya setelah dilahirkan, Mercury telah memikirkan bagaimana mencuri ternak ayahnya yang digembalakan oleh Apollo, dewa terang dan musik, di Pyrrhea.

Niatnya tersebut kemudian memang dilaksanakannya dan sempat membuat Apollo kebingungan mencari ternak yang dipercayakan kepadanya karena Mercury memasang sepatu-sepatu ternak tersebut secara terbalik sehingga berlawanan arah dengan tempatnya menyembunyikan hasil curiannya di Peloponnesus.

Akhirnya Apollo tahu bahwa pencurinya adalah dewa kecil yang baru saja dilahirkan itu. Segera dia membawa Mercury ke hadapan Jupiter dan melaporkan ulahnya kepada Bapa Semesta Alam tersebut. Di hadapan ayahnya Mercury tidak berani menyangkali perbuatannya. Dia menunjukkan tempat persembunyian hasil curiannya kepada Apollo.


Hampir saja Apollo murka ketika mengetahui dirinya telah tertipu oleh seorang bayi yang baru lahir, namun Mercury kemudian memberikan lira ciptaannya kepada Apollo untuk meredakan amarahnya karena dia tahu betapa Apollo mencintai musik. Apollo begitu gembira menerima hadiah tersebut. Amarahnya pada Mercury langsung mereda berganti rasa sayang. Sejak saat itu jarang sekali orang melihat Apollo tanpa lira pemberian Mercury tersebut.

Namun demikian Mercury tidak jera-jeranya melakukan pencurian. Pernah dia mencuri tombak Mars, trisula Neptune, bahkan petir ayahnya. Untung saja Mercury segera mengembalikannya begitu melihat murka ayahnya, kalau tidak tentu dia menjadi sasaran amarah Jupiter.

Meskipun begitu kebiasaan Mercury tersebut tidak selamanya merugikan. Pernah dia menyelamatkan ayahnya yang urat-uratnya dipotong oleh monster Typhoon dengan mencuri dan menyerahkannya kembali pada Jupiter.

Setelah dewasa Mercury diangkat menjadi duta dewata karena kefasihannya berbicara dan bersilat lidah. Apollo memberikan tongkat berujung ular berkepala dua yang disebut caduceus yang menambah kemampuannya tersebut.

Untuk memperlancar tugasnya, para dewa memberinya helm dan sandal bersayap agar dapat bergerak cepat melaksanakan perintah-perintah para dewa. Mercurylah yang bertugas menyampaikan amanat para dewa kepada umat manusia. Dia jugalah yang bertugas menghantar jiwa-jiwa menuju ke Hades.

Bila para dewa mempunyai Mercury sebagai duta, maka para dewi pun memiliki seorang duta, yaitu Iris, dewi pelangi.

Iris adalah putri Thaumas dan Electra dan cucu Terra dan Pontus. Iris menjadi duta para dewi, khususnya Juno, karena memiliki sayap sehingga dapat terbang secepat kilat dan tak seorangpun yang menyadari bahwa Iris telah lewat jika tidak meninggalkan jejak berupa cahaya berwarna-warni di udara.

Konon Iris pulalah yang ditugasi menjaga harta benda dewa-dewi Olympus, sehingga orang sering mengatakan ada guci emas di ujung pelangi. Iris dicintai oleh segenap penghuni Olympus karena dia begitu cermat dalam melaksanakan tugasnya melayani mereka.

Iris dilukiskan sebagai wanita muda jelita berambut keemasan, bermata biru, pipinya berseri bagaikan mahkota bunga mawar merah muda, mengenakan gaun putih serta bersayap, seperti bidadari dalam seni Kristen. (hpk/doc)

to be continued...

The Greek names of the classical deities:
Jupiter: Zeus
Juno: Hera
Minerva: Pallas Athena
Mars: Ares
Venus: Aphrodite
Vulcan: Hephaestus
Mercury: Hermes
Diana: Artemis
Latona: Leto
Aesculapius: Asclepius
Meditrina: Epione
Juventus: Ivy/Hebe
Lucina: Eileithyia
Ceres: Demeter
Vesta: Hestia
Neptune: Poseidon
Pluto/Dis: Hades
Proserpine: Persephone/Kore
Mors: Thanatos
Somnus: Hypnos
Morpheus: Oneiros
Cupid: Eros
Hermione: Harmonia
Discordia: Eris
Sol: Helios
Luna: Selene
Aurora: Eos
Lucifer: Phosphor
Vesper: Hesperus
Bacchus: Dionysus
Saturn: Chronos
Cybele: Rhea
Caelus: Uranus
Terra/Tellus: Gaia/Gea
Amor: Agape
Dia: Emera
Justitia: Themis
Pax: Irene
Victoria: Nike
Fortis: Bia
Fury: Eumenides/Erinnies
Parcae/Fata: Moirae
Grace: Charites
Felicitas/Fortuna: Tyche
Ver: Thallo (Tunas)
Aestas: Auxo (Tumbuh)
Autumna: Karpo (Masak)
Hyem: Chionia (Salju)
Aquilo: Boreas
Favonius: Zephyr
Eurus: Argestes
Auster: Notus
Catamite: Ganymede
Hercules: Heracles/Alcides
Arianna: Ariadne


(Sumber:Forum KG/Legenda Dewa&Dewi Yunani/Hansel/hpk doc/Dec/07)


Read more.....

Rabu, 12 Desember 2007

Penunggu Rumah Sofie oleh Naomi (Bag.1)

PENUNGGU RUMAH SOFIE
Ditulis oleh : Naomi Firenzee
Pada tanggal : 11 Desember 2007


Aneh! Itulah kesan pertama yang kutangkap ketika menjejakkan kaki untuk yang pertama kalinya di rumah itu. Rumah yang di cat berwarna putih itu kelihatan sepi, seperti tak pernah ditempati. Itulah rumah Sofie, teman sekampusku.

“Jadi lo tinggal disini, Fie?” Celetukku memecahkan kesunyian. Kuedarkan pandangan mata mengitari rumah tersebut. Ada bangunan bertingkat dua disebelahnya, namun masih dalam satu pekarangan rumah.

“Iya, Nao,” dengan susah payah Sofie menjejalkan anak kunci kedalam pintu tersebut.

“Sendirian?” Tanyaku lagi.

“Enggak, bareng kakak.” Klik! Terdengar bunyi pintu terbuka.

“Mari, Nao. Ayo masuk.” Lanjutnya.

Rumah itu tidak terlalu luas. Tapi menurutku cukup besar juga untuk ditempati oleh Sofie yang tinggal hanya berdua dengan kakak perempuannya. Tidak terlalu banyak perabot. Satu set sofa ruangan tamu beserta lemari pajangan yang dipenuhi keramik kecil-kecil. Ruangan tengahnya pun hanya dilengkapi dengan sederetan peralatan elektonik terbaru yang canggih, tanpa kursi, hanya dihiasi permadani biru yang lembut ditambah dengan bantal-bantal besar yang berbentuk kotak.

Namun ada satu pemandangan yang mengganjal mata. Ayunan santai itu! Ayunan yang terletak berseberangan dengan ruangan tengah rumahnya. Entah mengapa, perasaan aneh tadi mulai menggelayuti hati ini kembali. Tiba-tiba saja bulu kudukku merinding dan perasaan dingin mulai menjalari tubuh.

“Fie, apa kamu nggak takut tinggal berdua?” ujarku sekedar mengenyahkan rasa aneh yang menghinggapi diri. Sofie berjalan menuju kamarnya yang kuikuti dari belakang.

“Enggak tuh! Kan ada anak kost juga,” jawabnya santai sembari melemparkan tas ketempat tidurnya.

“Oh, jadi yang di sebelah tempat kost, ya?” tanyaku semangat. Sofie hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.

“Eh, ada yang keren, nggak?” tanyaku lagi sambil mengedipkan mata, sekedar melumerkan suasana hati yang diliputi perasaan ngeri. Dia tertawa ngakak.

“Kenapa?” selidiknya genit.

“Yaa… siapa tau aja…” elakku sambil menghempaskan tubuh pada kasur yang empuk itu.
“Hahaha… dasar! Emang satu belum cukup, apa?” Ledeknya.

“Yee… orang cuma nanyain apa ada yang cakep? Buat cuci mata, gitu loh!”

“Hehehe… kirain… Udah, ah! Aku mau mandi dulu, gerah, nih! Lagian, aku jarang ketemu mereka. Pada sibuk, gitu… Oh, iya… anggap seperti rumah sendiri aja ya, Nao!” Jelasnya sambil masuk ke kamar mandi yang terdapat di pojokan kamar.

Kucoba untuk membiasakan diri dengan situasi. Namun aku heran dan berpikir, mengapa ayunan itu begitu mengganggu penglihatanku? Ku coba untuk bersikap santai. Kusambar sebuah majalah. Tapi udara panas dan rasa kering di tenggorokan memaksaku untuk mencari sesuatu yang dingin. Kulangkahkan kaki keluar menuju ke lemari pendingin yang terletak di dapurnya yang bergaya moderen itu, sambil menggamit sebuah majalah Misteri. Aku haus!

Orange juice yang terdapat di dalam lemari pendingin itu, sungguh menggugah hati. Kuteguk dengan segera setelah terlebih dahulu menuangkannya kedalam gelas. Namun baru beberapa tegukan, suatu kejadian aneh telah membuatku tersedak.

Sesaat aku tertegun, menatap satu bayangan yang tak kasat mata, melesat melintasi pintu kamar mandi yang terletak di ujung dapur tersebut. Namun ketika otakku kembali berfungsi dan dapat mencerna bayangan yang telah ditangkap oleh mataku. Spontan, aku langsung terbirit lari. Wanita itu? dia menatapku! sekarang aku jadi tahu, perasaan aneh yang sejak tadi menghinggapiku, ternyata sebuah Penampakan!

Bulu kudukku merinding! Aku duduk meringkuk, di salah satu sofa yang ada di ruangan tengah, sambil menutupi wajah dengan sebuah majalah yang sejak tadi aku genggam. Ketika aku mencoba mengintip ke arah datangnya Penampakan tadi, secara tidak sengaja, mataku menangkap sebaris tulisan yang ada di majalah Misteri yang ada di tanganku.

“Sialan! Mistis banget, sih!” umpatku kesal bercampur ngeri, seraya melemparkan majalah tersebut. Untuk mengusir ketakutan, kunyalakan TV dengan volume yang sengaja aku besarkan. Beberapa saat kemudian, ketakutanku mulai berkurang. Perasaan tegang yang tadi menyerangku berangsur hilang.

Sesaat kemudian aku mulai larut dalam satu suguhan musik, yang ditayangkan oleh saluran TV favoriteku. Ketika hatiku sudah mulai tenang kembali, tiba-tiba telingaku dikagetkan oleh suara berderit pelan. Reflek kepalaku menoleh ke sumber suara itu. Mataku langsung terpaku pada ayunan yang begerak perlahan, terayun sendiri. Samar-samar aku melihat, seorang anak perempuan tengah duduk di ayunan tersebut. Kepalanya terpekur, seakan menatap lantai yang ada dibawahnya.

“Astaghfirullah… ada yang aneh dengan rumah ini.” gumamku lirih. (Naomi/hpk.doc)

bersambung...


Read more.....

Minggu, 02 Desember 2007

Another Secret Between Moon And Earth - (The Anger of Aunt Gwendolyn - Episode.2) by Naomi Firenzee

ANOTHER SECRET BETWEEN MOON AND EARTH
(The Anger of Aunt Gwendolyn - Episode.2)
Ditulis oleh : Naomi Firenzee
Pada tanggal : 2 Desember 2007

Dengan terengah-engah Zweeth mencoba menerobos pintu gudang yang terletak agak jauh dari rumahnya. Gudang itu ruang penyimpanan, penuh dengan benda-benda yang sudah lama tak terpakai. Diletakkannya sapu terbang itu perlahan, kemudian mulai mengatur nafas. Ia berusaha menyingkirkan debu dan jaring laba-laba yang menempel di kepalanya. Lalu mencoba berdiam diri, mendengarkan dengan seksama. Tidak ada kejadian apa-apa.

Dengan mengendap-ngendap, Zweeth mulai melangkah keluar. Mengamati keadaan rumah dengan matanya yang bulat indah. Terlihat olehnya bibi Gween yang sedang asyik dengan tanamannya yang ada di kebun. Buru-buru ia melangkahkan kaki menuju rumah melewati pintu belakang. Perlahan-lahan dibukanya pintu itu dan melesat masuk. Zweeth ceroboh telah membiarkan pintu itu terbanting dengan sendirinya.

Krieettt... Brak! Bunyi hempasan pun terdengar keras sampai keluar rumah. Benar saja, sesaat kemudian terdengarlah suara bibi Gwendolyn membahana disiang yang terik itu.

“Zweeth... is that you, my dear?” teriak bibi Gwendolyn sambil melangkah masuk. Sepatunya terdengar mengetuk-ngetuk lantai rumah yang terbuat dari kayu pilihan. Zweeth yang tadinya hendak melangkah menaiki tangga menuju kamarnya dilantai atas, mendadak berhenti. Jantungnya berdebar kencang, keringat dingin mulai mengucur deras dari pelipisnya. Ia kelihatan pucat. Sambil meremas-remas jemarinya, ia berbalik. Dilihatnya bibi Gwen berjalan menghampirinya sambil menyeka tangan ke celemek yang melilit ditubuhnya.

“Ye... yeah... It’s me, Aunt Gwen”. Ujar Zweeth gugup.

“Are you all right, honey? You are look so pale...” bibi Gwen cemas melihat keadaan keponakan satu-satunya. Dirabanya dahi Zweeth dengan punggung tangannya.

“I am fine, aunty. Just a little bit tired.” Jawab Zweeth menepis tangan bibi Gwen, mencoba menghindari tatapan mata bibinya yang memandangnya penuh dengan rasa khawatir.

“May be a cup of a hot tea could return your strength and make you a little bit fresh.” Ujar bibi Gween sambil berjalan menuju dapur dan menyalakan kompor. Zweeth tak berani membantah. Ia mengikuti bibi Gwen dari belakang. Dengan gugup, dihenyakkan lah pantatnya pada kursi yang berada dibelakang meja makan tersebut. Ia gelisah, sama sekali tidak merasa nyaman. Ingin rasanya ia berlari kekamarnya dan membenamkan diri didalam selimut dan kasurnya yang hangat serta empuk. Matanya menatap punggung bibi Gwen, namun pikirannya melayang entah kemana. Tiba-tiba saja bibi Gwen telah berada didepannya, meletakkan secangkir teh hangat. Langsung saja diambilnya cangkir itu dan mulai menyeruput isinya sedikit demi sedikit.

“Zweeth! Whose shirt is that?” Selidik bibi Gwen curiga. Zweeth tersedak, ia terbatuk-batuk. Seketika wajahnya merah padam. Ia menggeleng-geleng sambil memegangi dadanya.

“Could you explain it to me? Where did you get that shirt? It wasn’t belongs to you, I reckon.” bibi Gwen kembali bertanya ketika batuk Zweeth telah mereda. Zweeth makin gelisah, meremas ujung kemeja bagian bawah milik Kent yang sedang dipakainya.

“Zweeth, I’m waiting for your answer!” ulang bibi Gween dingin.

“Well... it’s belong to...” Zweeth kebingungan. Berpaling menatap cangkir tehnya.

“Zweeth!” suara bibi Gween terdengar lebih keras dan tegas yang membuat Gween tersentak.

“ini kepunyaannya! Dan aku tidak tahu siapa namanya!” Zweeth berteriak,ia terkejut mendengar ucapan yang keluar dari mulutnya sendiri. Ia ternganga.

“Sopan sedikit, Zweeth! Dan jangan membentakku! Aku ini lebih tua darimu!” bibi Gwen menggeram marah.

“Tapi aku benar-benar tidak tau, Aunt Gwen! Aku tidak bermaksud membentakmu...”

“Dan aku tidak tau siapa namanya? Setelah ia yang begitu baik yang telah memberikan aku tempat bernaung, berbagi kehangatan dalam semalam...” bathinnya berujar. Bagaikan tersambar petir, Zweeth mendadak teringat kejadian malam itu dengan Kent. Semua begitu jelas, bagaikan sebuah gambar bergerak yang diputar persis didepan matanya. Malam yang dilewatinya bersama sentuhan lembut orang itu. Sebuah pelukan hangat yang telah menentramkan hatinya. Pergumulan mereka... Ya! Pergumulan mereka yang telah menghantarkan Zweeh pada sebuah pengalaman yang sensasional yang sama sekali belum pernah ia rasakan. Pengalaman yang membuatnya seperti disengat ribuan jarum yang mengalirkan kejutan-kejutan listrik yang sama sekali tidak menyakitkan, justru membuatnya terlena. Malam yang membuatnya terbang melayang sampai ke bulan tanpa bantuan sapu terbang. So sensational! Semuanya... ia ingat semuanya... ada perasaan lain menyelip dihatinya ketika ia mengingat semua itu. Perasaan yang belum pernah dimilikinya.

“Bahkan, namanya pun tak sempat kutanyakan...” ia berujar sendu.

“Konyol! Benar-benar kedengaran konyol! Bagaimana mungkin kamu bisa memakai pakaian orang yang sama sekali tidak kamu kenal?” mata bibi Gwen mendelik.

“why don’t you ask your magic crystal, aunt Gwen!” Zweeth mulai terpancing emosinya, ia menjawab bibinya dengan ketus. Serta merta ia mulai berdiri dan berjalan meninggalkan Bibinya yang tengah menahan amarah sendirian.

“Aku belum selesai denganmu, Zweeth! Mau kemana kamu!”

“ Ah, sudahlah, Bi! Aku sudah lelah!”

“Bagaimana dengan Bunny!” Bibi Gwen mendesis tajam yang membuat Zweeth mendadak berhenti dan terpaku pada kakinya.

“Mengapa kamu tak menjawabku, Zweeth!”, raut wajah bibi Gwen berubah sangar. Tak biasanya bibi bersikap seperti itu terhadapnya. Takut-takut ia berbalik, namun tak berani menatap langsung pada kedua mata bibinya.

“B-Bunny... Bunny... he’s gone, aunt Gwenn... I... I’m sorry... I...” terbata Zweeth menjawab pertanyaan bibinya. Ia mematut-matut ujung sepatunya.

“APA?!?” bibi Gwen terkesiap mendengar ucapan Zweeth.

“Bukan salahku, Bi! Bukan salahku kalau Bunny menghilang! Salahkan dia! Salahkan mereka yang menghalangi terbangku! Salahkan Sang Bayu yang menamparku hingga tubuhku membeku! SALAHKAN MEREKA!” ujar Zweeth, mencoba mencari kambing hitam atas kegagalannya dalam mengemban mandat dari bibi Gween yang mulai dikuasai amarah itu.

“Zweeth!!! Kamu sadar, apa yang telah kamu lakukan?!” tatapan tajam mata bibi Gween begitu dingin menghunus jantung.

“But I...” Zweeth mulai kehabisan kata-kata dan mulai terisak.

“Kamu telah gagal, Zweeth...” Bibi Gween mengalihkan pandangannya keluar jendela.

“Aku...mereka...”

“Tahukah kamu apa artinya itu...?”

“Bibi... aku...“

“Kegelapan... Tidak akan ada lagi malam yang tenang...”

“Bibi, aku sudah berusaha...”

“Kamu telah mengecewakan bibimu, Zweeth... kamu telah mengecewakan kaum kita!”

“Sudah kukatakan bukan sa...“

“Pergi kamu! PERGI! DAN TEMUKAN KELINCI ITU!” sorot tajam mata bibi Gwen mengandung kemarahan yang teramat sangat.

“Bibi...!” Zweeth berlari menghampiri bibi Gween kemudian berlutut dan memeluk kedua kaki bibinya.

“Kemana akan kucari, Bi...” tangis Zweeth mulai meledak.

“Aku tak peduli! JANGAN PERNAH KEMBALI SAMPAI KAU MENEMUKANNYA!” Bibi Gween mendorong tubuh Zweeth. Zweeth jatuh terduduk. Wajahnya bersimbah air mata. Ia tak percaya bibinya akan memperlakukannya sekejam itu. Ia tak sanggup lagi berkata-kata. Ia mulai membenci bibinya. Ditatapnya bibinya sinis untuk yang terakhir kalinya dan mulai bangkit dari jatuhnya. Dengan penuh kebencian ia berbalik dan pergi meninggalkan bibinya sendirian.

Tak terasa jatuhlah buliran air mata itu, air mata kesedihan bibi Gwen... ia menatap kepergian Zweeth dengan hati yang meratap pilu.

“Maafkan bibi, sayang...”

The End

***

Coming soon!
Another Secret between Moon and Earth
(Olympus in Love; Janji Bumi pada Bulan)



Read more.....

Orpheus & Eurydice - Part 5 (The End)

Orpheus menyanggupi syarat yang tampaknya ringan tersebut. Kemudian pasangan kekasih tersebut meninggalkan Hades.

Gerbang Hades yang dijaga Cerberus telah mereka lewati, demikian pula Sungai Styx telah mereka seberangi. Sejauh itu Orpheus sanggup menahan diri untuk tidak menengok ke belakang.

Namun semakin jauh mereka meninggalkan kegelapan di belakang, semakin gelisahlah hati Orpheus diusik keragu-raguan. Apakah jiwa Eurydice mengikutinya? Apakah raungan Cerberus tidak membuat gentar jiwa Eurydice melangkah keluar dari gerbang Hades? Apakah Charon tidak menolak menyeberangkan jiwa Eurydice? Oh dewa! Kalau saja dia boleh yakin bahwa Eurydice ada bersamanya.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mengusik batin Orpheus. Semakin jauh langkahnya menuju terang, semakin gelaplah pikirannya.

Akhirnya, tak tahan oleh keragu-raguan yang mengusik hatinya, Orpheus melanggar syarat yang diberikan oleh penguasa Hades. Dia menoleh ke belakang untuk melihat jiwa Eurydice.


"...pantang bagimu menengok ke belakang, ke arahnya, selama kau berada dalam kegelapan Hades...."

Maka...

"Orpheus, ah, Orpheus! Ketidaksabaranmukah? Keragu-raguanmukah? Atau takdir kejamkah yang mengkhianati cinta kita dan membuatmu melanggar syarat yang telah diberikan padamu atas kesempatan bagi kita untuk bersatu kembali? Kuulurkan tanganku padamu namun kutahu aku tak mungkin lagi menjadi milikmu di dunia atas sana?" desah jiwa Eurydice memilukan.

Dan Orpheus melihat bayangan Eurydice memudar dalam kegelapan Hades. Sia-sia lengannya terulur mencoba menggapai jiwa Eurydice. Bayangan Eurydice telah sirna.

Dia berlari kembali mencoba mengejarnya. Sampai di tepian Sungai Styx dia memohon dengan ratapan, pada Charon agar bersedia menyeberangkannya. Namun kesempatan kedua tak pernah ada bagi Orpheus. Charon menulikan telinganya terhadap permohonan Orpheus.

Akhirnya karena lelah meratap dan memohon Orpheus kembali ke tempatnya kehilangan Eurydice untuk kedua kalinya. Sungguh kehilangan yang sekali ini lebih berat dirasanya daripada kehilangan yang pertama. Dan sungguh ironis! Ditemukannya liranya menggeletak hanya dua langkah dari tempat yang disinari matahari.

Orpheus kembali ke dunianya. Hari-harinya dijalaninya dengan murung dan penuh duka. Tak ada lagi yang mampu mengembalikan gairah hidupnya. Bahkan bayangan Eurydice pun tak mampu membuatnya bersemangat kembali, karena dia tahu betapa sia-sia mengharapkan kemurahan dewata agar Eurydice kembali ke sisinya.

Dia memutuskan untuk tidak kembali ke Thrace melainkan mengembara membawa luka di hatinya. Seolah ingin disuarakannya kepedihan hatinya dan ketidakadilan dewata terhadapnya ke seluruh pelosok dunia. Dan dawai-dawai liranya pun tak pernah lagi mengalunkan lagu suka.

Suatu ketika tibalah Orpheus di suatu desa yang sedang merayakan festival untuk menghormati Bacchus, dewa anggur dan keriangan. Para wanita yang hadir dalam festival tersebut membujuk Orpheus agar memainkan liranya untuk mengiringi hymne suci bagi Bacchus. Dalam dukanya Orpheus menolak. Rupanya penolakan tersebut menimbulkan amarah bagi wanita-wanita pemuja Bacchus. Dalam keadaan mabuk oleh anggur yang mereka minum dalam festival, mereka menyerang Orpheus dengan golok dan sabit dan mencabik-cabiknya beramai-ramai. Terlalu berat dibebani duka di hatinya Orpheus tidak berusaha melawan.

Ketika sadar para wanita tersebut terkejut dengan apa yang telah mereka perbuat. Namun terlambat! Orpheus telah mereka bunuh, kepalanya hanyut dibawa arus Sungai Hebrus sementara bibirnya masih terus menggumamkan sebuah nama. Nama yang hidup abadi dalam hatinya, Eurydice. Para peri yang menemukan kepala Orpheus kemudian menguburkannya di Libethra di lereng Olympus Di sana burung-burung penyanyi berkicau lebih merdu daripada burung-burung di tempat lain sejak saat itu.

Jiwa Orpheus yang meninggalkan tubuhnya meluncur ke kegelapan Hades. Di sana jiwanya bertemu dan bersatu dengan jiwa Eurydice. Meskipun kegembiraan dan keceriaan tak dikenal di Hades yang suram, namun jiwa Orpheus berbahagia dengan jiwa Eurydice, sebab cinta mereka telah mengalahkan maut itu sendiri.

Dan lira Orpheus? Lira tersebut terbawa ombak sampai ke Pulau Lesbos dan terdampar di pantainya. Berhari-hari bahkan berbulan-bulan alat musik itu tergeletak di sana. Ketika debur ombak terus menyentuh dawai-dawainya dengan berirama, terciptalah melodi-melodi indah yang mengalun sampai ke telinga Apollo yang lalu memungut lira putranya tersebut dan meletakkannya di angkasa, di antara bintang-bintang, menjadi rasi bintang Lira.(hpk doc)

(Sumber:Forum KG/Legenda Dew&/Dewi Yunani/Hansel)

The End

Read more.....

Minggu, 18 November 2007

The Golden Age of Classical Myths - Part. 3

Mars (Ares)
Mars, dewa perang yang haus darah adalah putra Jupiter dengan Juno. Sosoknya tampak gagah, jantan, dan berwibawa di balik balutan busana perang yang gemerlapan. Namun sayangnya hanya hal itulah yang dapat dibanggakan dari dirinya.

Tak ada satupun kisah yang menyanjung kehebatannya, karena sebagai dewa perang kegemarannya hanyalah menyaksikan kekerasan, pertumpahan darah, korban yang berjatuhan, dan peradaban yang dihancurkan. Bila umumnya dewa-dewi menghendaki kebahagiaan bagi umat manusia, sebaliknya yang dia kehendaki hanyalah penderitaan dan kehancuran.

Bahkan orang tuanya pun tidak menyukainya. Pernah dalam suatu kesempatan Juno, menghadap Jupiter, memohon agar Mars diseret dari medan perang dalam keadaan memalukan. Jupiter setuju. Dia memerintahkan Minerva melakukan hal tersebut. Hal itu terjadi pada saat Perang Troya berlangsung. Juno yang memihak Yunani mendapat kesulitan dari Mars yang membantai pasukan Yunani hanya karena tampaknya pasukan Yunani berada di pihak yang akan kalah.


Mars membenci Pax dan Ceres karena dewi-dewi tersebut mencintai perdamaian. Namun begitu dia harus berhati-hati terhadap mereka karena Minerva yang juga mencintai perdamaian selalu membela mereka. Meski Mars adalah dewa perang, dia selalu berada di pihak yang kalah bila harus berhadapan dengan Minerva yang tak hanya mengandalkan kekuatan fisik belaka namun juga taktik dan akal sehat terlebih dilandasi tekad yang kuat untuk membela perdamaian.

Meski begitu toh ada juga yang menjadi sahabat dan pengagumnya, yaitu Discordia, dewi kebencian yang senang dengan perpecahan, dan Venus, dewi cinta dan kecantikan yang terpesona oleh sosoknya yang gagah.

Perkawinan Mars dan Venus melahirkan anak-anak yang seperti selalu dikatakan bahwa batas antara cinta dan kebencian amatlah tipis, yaitu Cupid, dewa asmara; Anteros, dewa nafsu birahi; Hymen, dewa perjodohan; Hermione, pembawa harmoni; Phobos dan Deimos, ketakutan dan teror; serta Bellona, dewi perang yang menjadi kusir kereta ayahnya.

Konon bangsa Romawi yang suka berperang adalah keturunan Mars dari seorang vestalia (gadis-gadis pelayan di kuil Dewi Vesta), yaitu Rhea Sylvia, yang kemudian melahirkan Remus dan Romulus yang mendirikan kota Roma.

Venus (Aphrodite)
Venus adalah dewi cinta dan kecantikan, putri Jupiter dengan Dione, dewi kelembaban, putri Epimetheus.

Dia dilahirkan berupa buih di tengah lautan. Buih tersebut makin lama makin membesar dan tiba-tiba dari dalamnya muncullah Venus dalam wujud wanita muda jelita. Ikan-ikan dari dalam lautan berloncatan riang menyambut kelahiran dewi baru tersebut, burung-burung laut girang sambil mengepak-ngepakkan sayap mengelilinginya, peri-peri laut membawakannya kulit kerang yang terbesar dan terbagus untuk dinaikinya, Favonius, Angin Barat yang berhembus sepoi-sepoi, membawa perahu kulit kerang tersebut ke pantai pulau terdekat, Cyprus. Flora, kekasih Favonius yang merupakan dewi bunga menghujaninya dengan berbagai macam bunga yang semerbak.

Segera sesampainya di pantai, peri-peri di hutan Cyprus bertindak sebagai nona-nona rumah mendandani dewi baru tersebut. Dewi-dewi musim turun dari Olympus membawakannya gaun yang indah serta berbagai macam perhiasan yang menambah pesona sang dewi baru tersebut.

Jupiter kemudian mengirimkan awan untuk mengangkat putrinya tersebut ke balai para dewa di Olympus. Semua yang hadir terpikat oleh kejelitaannya dan berlomba-lomba menarik perhatiannya mencoba menjalin hubungan yang lebih akrab. Kemudian Jupiter memberinya wewenang untuk mengurus masalah kecantikan, keindahan, dan berbagai macam emosi manusia, khususnya yang berhubungan dengan asmara. Jadilah Venus dewi cinta dan kecantikan.

Dalam menjalankan tugasnya Venus selalu dibantu oleh putranya, Cupid yang bersayap dan membawa panah bermata berlian yang mampu menembus hati yang sekeras baja. Cupid dilukiskan sebagai anak kecil yang montok dan menggemaskan. Konon Venus pernah mengeluh kepada Justitia, dewi keadilan, karena Cupid tidak pernah tumbuh menjadi dewasa. Justitia kemudian memberikan jawaban bahwa Cupid akan tumbuh menjadi dewasa bila beserta saudaranya Anteros, dewa nafsu birahi. Kemudian Venus melahirkan Anteros dan Cupid pun tumbuh dewasa menjadi seorang pemuda yang cakap.

Venus memiliki ikat pinggang bernama cestus yang selalu memberinya ilham dalam percintaan dan membuat siapa saja yang terkena pengaruh kekuatannya sulit terhindar dari masalah asmara. Meski demikian ada tiga orang dewi yang tak terpengaruh oleh kekuatan gaib ikat pinggangnya dan tetap perawan, yaitu Minerva, yang menolak mencintai pria manapun karena hanya mencintai kemanusiaan; Diana, dewi malam purnama dan perburuan yang angkuh; serta Vesta, dewi perapian dan kehangatan keluarga yang keinginannya sederhana, yaitu menjaga dan memelihara kehangatan hati dalam keluarga.

Meski selalu menyombongkan diri dalam masalah asmara, Venus tak luput pernah jatuh cinta serta mengalami kekecewaan, bahkan dengan makhluk fana. Pria-pria yang pernah dicintainya antara lain Anchises, ayah Aeneas yang menjadi leluhur bangsa Romawi, serta Adonis yang tampan rupawan. Konon kematian Adonis akibat diterkam hutan membuat Venus begitu berduka sehinga dia berjalan jauh meninggalkan Olympus untuk menguburkan kekasihnya itu tanpa mengenakan alas kaki, sehingga kakinya luka tertusuk oleh bebatuan tajam. Darah yang mengalir dari lukanya mewarnai mawar yang semula seputih salju menjadi merah, lambang hati yang membara oleh cinta, sedangkan darah yang menetes dari tubuh Adonis berubah menjadi bunga anemone.

Venus dilukiskan sebagai wanita jelita berambut keemasan dan bermata violet yang selalu bercermin mengagumi kecantikannya sendiri. Bunga mawar dan pohon cypress menjadi persembahan bagi Venus. Sedangkan burung merpati yang selalu berpasangan dan angsa putih yang anggun menjadi hewan kesayangannya.

Vulcan (Hephaestus)
Vulcan adalah dewa api dan pandai logam, putra sulung Jupiter dengan Juno. Dia dilahirkan sebagai bayi yang cacat kakinya, sehingga Juno yang merasa malu melahirkannya kemudian melemparkannya dari puncak Olympus ke dalam lautan. Kalau saja bukan seorang dewa, bayi tersebut pastilah sudah binasa. Bayi tersebut terus tenggelam sampai ke dasar samudra sampai ditemukan oleh dua orang dewi laut, yaitu Thetis dan Eurynome, yang kemudian merawatnya.

Vulcan tumbuh dewasa dan akan menjadi seorang dewa laut pula bila tidak tanpa sengaja suatu hari dia melihat gunung berapi meletus. Lavanya melelehkan semua benda yang dilaluinya. Kagum oleh fenomena alam yang demikian hebat membuat Vulcan berpikir bahwa api dapat dimanfaatkan untuk mengolah benda-benda keras seperti logam dan membentuknya sesuai keinginan. Maka lahirlah penempaan logam.

Untuk menyatakan rasa terima kasihnya kepada Thetis dan Eurynome, Vulcan membuat seuntai kalung emas bertatahkan permata bagi mereka. Dalam suatu kesempatan Juno berjumpa dengan Thetis. Terkagum-kagum oleh kalung yang dikenakan Thetis, Juno menanyakan siapakah yang begitu ahli merancang kalung yang sedemikian indah kepada Thetis. Thetis menjawab bahwa Vulcan, putra Juno sendiri yang telah membuatnya. Sejenak Juno merasa ragu namun kemudian dia berkata kepada Thetis agar menyampaikan perintahnya kepada Vulcan untuk membuatkan singgasana emas yang indah baginya.

Vulcan yang mendengar dari Thetis bahwa ibunya memerintahkannya membuat singgasana emas menyanggupi hal tersebut. Tangan-tangannya yang terampil segera bekerja dan setelah beberapa saat singgasana emas yang penuh ukir-ukiran indah dan dihiasi pula dengan permata itu pun jadilah. Namun dia belum selesai bekerja. Rupanya dia menyiapkan suatu jebakan bagi Juno. Ia menciptakan rantai-rantai dari sejenis logam ajaib yang tak terlihat mata kemudian memasangnya pada singgasana tersebut. Setelah selesai barulah singgasana tersebut dikirim ke Olympus untuk dipersembahkan pada Juno.

Betapa girangnya Juno melihat singgasana emas yang begitu indah dipersembahkan baginya. Segera dia duduk di atas singgasana tersebut. Tetapi hanya sejenak kemudian senyumnya berubah menjadi kegusaran saat dia merasa ada rantai tak terlihat yang membelenggunya di atas singgasana tersebut. Para dewa-dewi mencoba melepaskan rantai tersebut namun tak berhasil.

Akhirnya Jupiter memerintahkan Mercury untuk membujuk Vulcan ke Olympus dan membebaskan ibunya. Namun Mercury gagal. Kemudian Mars diutus untuk menyeret Vulcan ke Olympus dan membebaskan Juno. Namun juga gagal. Akhirnya Bacchus, dewa anggur dan keriangan, disertai para pengikutnya yang riang gembira, berangkat ke bengkel kerja Vulcan sambil membawa bergentong-gentong anggur. Bacchus menawarkan secawan anggur pada Vulcan yang segera mereguknya dengan nikmat. Kemudian Bacchus terus mengisi cawan Vulcan sehingga akhirnya Vulcan menjadi mabuk. Pada saat itulah Bacchus berhasil membawa Vulcan ke Olympus.

Sesampainya di Olympus, Vulcan tersadar dari mabuknya. Ketika dilihatnya Juno menderita karena ulahnya, dia merasa menyesal dan segera membebaskannya. Juno yang terharu oleh cinta dan bakti putra sulungnya memeluknya. Sejak saat itu ibu dan anak berdamai.

Jupiter begitu bersukacita melihat hal tersebut sehingga dia memerintahkan Venus untuk menjadi istri Vulcan. Begitulah yang terjadi, yang terburuk di antara para dewa menikahi dewi tercantik! Akan tetapi Venus yang tidak mencintai suaminya kemudian meninggalkannya untuk menikahi saudaranya, Mars.

Vulcanlah yang membuat perisai dan perlengkapan perang untuk Achilles yang sangat mengagumkan dalam Perang Troya atas permintaan Thetis. Vulcan memang sangat menyayangi Thetis yang telah merawatnya ketika bayi sampai dewasa. (hpk/doc)

to be continued….

The Greek names of the classical deities:
Jupiter: Zeus
Juno: Hera
Minerva: Pallas Athena
Mars: Ares
Venus: Aphrodite
Vulcan: Hephaestus
Mercury: Hermes
Diana: Artemis
Latona: Leto
Aesculapius: Asclepius
Meditrina: Epione
Juventus: Ivy/Hebe
Lucina: Eileithyia
Ceres: Demeter
Vesta: Hestia
Neptune: Poseidon
Pluto/Dis: Hades
Proserpine: Persephone/Kore
Mors: Thanatos
Somnus: Hypnos
Morpheus: Oneiros
Cupid: Eros
Hermione: Harmonia
Discordia: Eris
Sol: Helios
Luna: Selene
Aurora: Eos
Lucifer: Phosphor
Vesper: Hesperus
Bacchus: Dionysus
Saturn: Chronos
Cybele: Rhea
Caelus: Uranus
Terra/Tellus: Gaia/Gea
Amor: Agape
Dia: Emera
Justitia: Themis
Pax: Irene
Victoria: Nike
Fortis: Bia
Fury: Eumenides/Erinnies
Parcae/Fata: Moirae
Grace: Charites
Felicitas/Fortuna: Tyche
Ver: Thallo (Tunas)
Aestas: Auxo (Tumbuh)
Autumna: Karpo (Masak)
Hyem: Chionia (Salju)
Aquilo: Boreas
Favonius: Zephyr
Eurus: Argestes
Auster: Notus
Catamite: Ganymede
Hercules: Heracles/Alcides
Arianna: Ariadne


(Sumber:Forum KG/Legenda Dewa&Dewi Yunani/Hansel/hpk doc/Nov/07)


Read more.....

Minggu, 11 November 2007

Orpheus & Eurydice - Part. 4

Nyanyian Orpheus terhenti. Dari barisan para jiwa muncullah Eurydice yang segera berlari mendapatkan kekasihnya. Orpheus berusaha merengkuh bayangan Eurydice dalam pelukannya. Namun karena sebagai jiwa Eurydice tak dapat disentuh makhluk hidup, akhirnya mereka hanya dapat saling memandang ke dalam mata mereka yang penuh kerinduan akan satu sama lain.

Semua yang hadir terkejut campur cemas, menyaksikan hukum yang telah digariskan dewata dilanggar. Yang mati bersatu dengan yang hidup. Tak ada yang dapat membayangkan kemurkaan Pluto penguasa Hades dan hukuman yang akan dijatuhkannya. Mercury buru-buru, memisahkan Eurydice dari Orpheus.

Pluto penguasa Hades terdiam menyaksikan adegan tersebut. Namun hanya sekejap. Ketika dilihatnya air mata mengalir di wajah Proserpine, hatinya yang keras pun melunak. Dia bangkit dari tahtanya dan dengan suara berat bersumpah akan mengabulkan apapun permohonan Orpheus.


"Demi air Sungai Styx yang mengalir di kerajaan ini, katakan kepadaku apa yang kau kehendaki, dan aku akan memberikannya kepadamu!"

Orpheus memohon agar jiwa Eurydice boleh kembali bersamanya ke dunia untuk melanjutkan hari-hari bahagia mereka.

"Penguasa Hades yang agung, semoga kau mengizinkan Eurydice kembali bersamaku ke atas sana melanjutkan hari-hari penuh cinta kami. Tak kuasa aku membayangkan dia harus berada di tempat ini tanpa diriku atau aku di atas sana tanpa dirinya. Biarkan dia kembali agar aku boleh menghayati lagi kebahagiaan yang ditimbulkan oleh cintanya dan dia oleh cintaku. Bila hal ini tidaklah mungkin, semoga engkau berbelas kasih mengizinkan aku tinggal di sini di sisinya."

"Biarlah terjadi seperti kehendakmu Orpheus. Tetapi sebagaimana aku menepati sumpahku, kau juga harus berjanji padaku untuk memenuhi syarat yang kuberikan," kata Pluto.

"Katakan saja, Penguasa Hades yang agung! Bersama Eurydice di sampingku, tak ada syarat yang terlalu berat untuk kujalani ."

Kemudian Pluto bersabda, "Biarlah jiwa Eurydice berjalan mengikutimu kembali ke dunia atas sana. Namun pantang bagimu menengok ke belakang, ke arahnya, selama kau berada dalam kegelapan Hades. Jika syarat ini kau langgar, maka Eurydice akan kembali berada di sini, di antara jiwa-jiwa yang lain, saat itu juga."

To be continued...

(Sumber:Forum KG/Legenda Dewa&Dewi Yunani/Hansel/hpk doc.)

Read more.....

Another Secret Between Moon And Earth - (The Anger of Aunt Gwendolyn - Episode.1) by Naomi Firenzee


ANOTHER SECRET BETWEEN MOON AND EARTH
(The Anger of Aunt Gwendolyn - Episode.1)
Ditulis oleh : Naomi Firenzee
Pada tanggal : 4 November 2007

Cahaya kemerahan telah muncul di ufuk Timur. Kokok ayam jantan mulai terdengar bersahut-sahutan. Namun Zweeth masih saja mendengkur pelan dibalik selimutnya yang hangat. Sesekali dadanya terlihat naik turun seiring nafas yang dihembuskan.

Kent yang tidak tidur semalaman terus saja menatap Zweeth yang tertidur pulas, wajah Zweeth begitu damai dengan seulas senyum tersungging dari bibirnya. Ingin rasanya ia tetap berada disampingnya dan memeluk gadis jelita itu. Ia tak percaya! Bagaimana mungkin makhluk semanis Zweeth bisa datang, pergi dan muncul lagi begitu saja. Ia takut memejamkan matanya. Takut kalau ini cuma sebuah mimpi. Takut apabila ia terjaga, semua keindahan didepan matanya itu akan menghilang dalam sekejap mata. Maka, terjagalah Kent malam itu.

Ding-dong... Ding-dong...


Jam dinding kuno itu berdentang sebelas kali. Zweeth tersentak kaget dari tidurnya. Dicampakkannya selimut hangat yang sedari tadi menaungi tidur lelapnya. Zweeth kebingungan, dipijit batang hidungnya sambil mengedarkan pandangannya menyapu seluruh ruangan yang terasa asing baginya. Ia merasa aneh. Keningnya berkerut, mencoba mengingat sesuatu.Ia kembali terdongak kaget ketika melihat seseorang yang bertampang macho masuk ke kamar itu sembari mengaduk secangkir kopi di tangannya.

“Sudah bangun, ya?” Kent menyapanya ramah.
“Maaf, aku tadi keluar sebentar menyiapkan sarapan. Aku tidak tega membangunkanmu. Tidurmu telihat begitu nyenyak. Merasa segar?” lanjutnya lagi seraya menyodorkan secangkir kopi yang tadi diseduhnya. Sorot mata Kent yang begitu teduh menatap Zweeth lembut, penuh perasaan sayang.

“Ka-kamu... kamu siapa? Aku dimana?” Zweeth masih belum sepenuhnya sadar akan dirinya, dia menatap Kent dengan pandangan mendelik tajam. Giliran kening Kent yang berkerut, heran, melihat tingkah aneh Zweeth. Ia menyisir rambut legamnya dengan jemarinya.

“Kamu… Semalam...” Kent kebingungan mencari kalimat yang tepat untuk menjelaskan kejadian semalam. Tiba-tiba saja mata Zweeth terbelalak.

“Oh, Tidak!” pekiknya. Ditatapnya penunjuk waktu yang melingkar di tangan kirinya. Bandul-bandul kecil yang terdapat di dalam penunjuk waktu itu melompat-lompat, bergerak cepat.

“Tidak mungkin! Ini tidak mungkin terjadi! Dia harus ke bulan! Bunny harus ke bulan!” Zweeth panik, Secepat kilat ia melompat berdiri. Disambarnya semua barang-barang miliknya, kecuali pakaian yang tak dapat ditemukannya. Dengan bingung, Zweeth bergerak kian kemari, mencari sapu terbangnya. Tanpa sengaja, ia menyengggol Kent yang masih memegang cangkir kopinya. Kopi itu tumpah membasahi baju kaos putih Kent. Kent langsung meringis, menahan tumpahan air kopi yang terasa panas dikulitnya.

“Maaf...” Zweeth berhenti sejenak dan menatap Kent dengan wajah penuh penyesalan. Buru-buru disekanya baju putih Kent dengan scarf yang sedari tadi melingkar dilehernya. Wajah Zweeth benar-benar kelihatan pucat karena cemas.

“Bibi Gwen pasti akan murka kepadaku.” Zweeth bergumam lirih pada dirinya sendiri. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

Kent meletakkan cangkirnya, kemudian menatap Zweeth dengan penuh perhatian. Terbersit rasa iba dihati Kent. Sesungguhnya dari semalam Kent tidak mengerti satupun perkataan yang diucapkan Zweeth. Kelinci, Bunny, gipsy, bulan, sapu terbang, bola kristal dan entah apa lagi. Ia seperti mendengar cerita dari negeri antah berantah yang penuh dengan semua keanehan. Dan ia juga tidak tahu dari mana Zweeth berasal.

“Kamu tidak apa-apa, Zweeth?” Kent membelai lembut bahu Zweeth. Zweeth menunduk sedih, ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat bersamaan dengan jatuhnya tetesan air mata. Tiba-tiba saja ia menubruk tubuh Kent dan menangis terisak. Kent terkejut dengan tindakan Zweeth yang tiba-tiba memeluknya. Dengan ragu, ia membalas pelukan Zweeth. Dibiarkannya gadis itu menangis di dadanya. Kent tidak berkata sepatah kata pun, namun ia mengerti dan ikut larut dalam kesedihan yang dirasakan makhluk manis yang ada di dalam pelukannya ini. Zweeth melepaskan pelukannya setelah tangisnya mulai mereda.

“Bunny... Dimana Bunny?” isak Zweeth sambil menyeka air matanya. Zweeth kembali kasak-kusuk, mencari-cari dan memanggil Bunny, Sang Kelinci Putih.
Kent pun turut membantunya. Namun, pencarian mereka tidak membuahkan hasil. Zweeth termangu dan kelihatan lebih sedih. Tiba-tiba saja ia berbalik dan melesat pergi menaiki sapunya.

“Zweeth! Kamu mau kemana?!?” Kent berhasil menyambar tangannya.
“Aku harus pulang. Bibi Gwen pasti akan marah, Bunny hilang dan...” Zweeth menangkupkan kedua telapak tangannya menutupi wajahnya.

“Dengan pakaian seperti itu?” alis mata Kent bertaut. Zweeth seperti tersadar, ia mematuti pakaiannya dan kemudian kembali membalas tatapan Kent dengan ekspresi penuh tanda tanya dan kebingungan. Kent jadi gelagapan.

“Maaf, pakaianmu masih ada yang belum kering. Tapi...” Kent kembali mengacak lemarinya.

“Kamu boleh pakai ini.” Lanjutnya lagi sembari menyodorkan sebuah kemeja putih beserta rok kepunyaan Zweeth yang telah kering.

Zweeth menerima pakaian yang disodorkan Kent, tanpa melepaskan pandangannya dari wajah Kent. Kent kelihatan kikuk ditatap seperti itu.

“Baiklah, aku akan segera keluar.” Kent beranjak pergi, meninggalkan Zweeth sendirian. Lama Kent menunggu, namun belum ada tanda-tanda yang mengisyaratkan bahwa Zweeth telah selesai. Dengan ragu-ragu diketuknya pintu kamar itu.

Knock—knock—knock…

“Zweeth...” panggilnya hati-hati. Sunyi, hanya senyap yang menanti. Diulangnya mengetuk pintu kembali dan memanggil dengan suara yang lebih keras. Masih tak ada jawaban. Pikiran Kent mulai tak karuan. Ia diliputi oleh rasa cemas, takut sesuatu yang buruk telah menimpa Zweeth. Dicobanya untuk mendobrak pintu. Tapi pintu itu tidak terkunci, akibatnya tubuh Kent pun jadi terhuyung kedepan. Untung Kent masih berpegangan pada pegangan pintu, kalau tidak, mungkin saja ia telah terjatuh dilantai yang berlapis karpet hijau itu.

Dengan gusar, mata Kent mulai mencari-cari Zweeth, namun ia tidak dapat menemukan gadis jelita yang sudah merebut hatinya itu. Tampak olehnya jendela kamar yang terkuak lebar. Ada seutas scarf yang tersangkut dikisi jendela, melambai-lambai diterpa angina, Scarf-nya Zweeth.

Dengan kecewa serta putus asa, Kent melangkah lunglai menghampiri tepi jendela. Diraihnya scarf yang tergantung, hatinya perih. Tercium olehnya wangi aroma tubuh Zweeth yang melekat pada scarf itu. Digenggamnya scarf itu erat-erat, kemudian mendekatkannya kewajah. Dipejamkan matanya, sembari menghirup scraft tersebut dalam-dalam, sampai menembus relung hatinya. Tatapannya jauh kedepan, menembus cakrawala. Namun tak bermakna. Ia menghela nafas panjang yang berat.

Sshh—hhh...

“Akhirnya kau pergi lagi... setelah kau tancapkan panah dihati ini.” Kent berdesis lirih, menunduk lesu. Hatinya hampa meratapi kepergian Zweeth.

To be continued...

Read more.....

Rabu, 07 November 2007

The Golden Age of Classical Myths - Part. 2

"The Golden Age of Classical Myths - Part. 2"


Juno (Hera)
Juno adalah ratu langit, permaisuri Jupiter, dewi pelindung kaum wanita dan perkawinan. Dia selalu hadir dalam tiap upacara perkawinan untuk memberikan restu dan nasihat bagi para istri. Oleh karena itu dia tidak pernah memaafkan wanita yang melanggar janji perkawinannya maupun wanita yang mencoba mengganggu perkawinannya dengan Jupiter, di antara mereka adalah Io, Callisto, Semele, dan Latona.

Setelah diselamatkan Jupiter dari Saturn, ayahnya, Juno oleh Cybele, ibunya, dibawa ke Negeri para Hesperid di ujung barat bumi untuk diasuh oleh putri-putri Vesper, Bintang Senja. Para Hesperid mengasuh Juno dengan penuh kasih sayang. Juno belajar segala sesuatu tentang kehidupan, langit yang luas dan rahasianya, cuaca, dan sebagainya dari mereka. Lama kelamaan timbullah kekuatan kedewian dalam dirinya, dan karena sangat mencintai langit yang luas dengan segala misterinya dia berharap suatu saat boleh meratui langit.

Suatu hari saat dia sedang duduk memandangi langit ditemani sahabatnya, yaitu seekor burung merak, datanglah Jupiter mengajaknya bergabung untuk menumbangkan kekuasaan Saturn yang kejam. Juno bersedia. Sepuluh tahun lamanya dia mendampingi Jupiter dalam pertempuran melawan para titan, ikut menyumbangkan pikiran dan kemampuannya demi kemenangan bersama.

Akhirnya setelah para titan berhasil dikalahkan dan Jupiter naik tahta, Juno diangkat menjadi permaisurinya. Dengan demikian tercapailah harapannya untuk meratui langit. Perkawinannya dengan Jupiter berlangsung meriah, seluruh alam ikut merayakannya. Terra menghadiahkan pohon apel berbuah emas yang kemudian oleh Juno diserahkan kepada para Hesperid untuk dirawat.

Seorang peri, Helone, cukup bodoh untuk berani menolak menghormati Juno dengan berpura-pura sakit sehingga harus menyeret kakinya lambat-lambat yang mengakibatkannya tiba saat pesta perkawinan agung tersebut telah usai. Sukacita tidaklah cukup meredam kegusaran Juno atas kekurang-ajaran Helone yang kemudian diubahnya menjadi kura-kura, makhluk yang melangkahkan kakinya lambat-lambat seumur hidupnya dan memang ‘helone’ adalah sebutan bagi kura-kura dalam bahasa Yunani.

Juno dilukiskan sebagai wanita yang anggun mengenakan busana ratu dan mahkota. Sebagaimana Jupiter, dia juga menggenggam tongkat kerajaan di tangannya. Sapi adalah hewan kesayangannya.

Perkawinannya dengan Jupiter memberinya empat orang anak, yaitu Vulcan (Hephaestus), dewa api dan pandai logam; Mars (Ares), dewa perang; Lucina (Eileithyia), dewi kelahiran; dan Juventus (Ivy/Hebe), dewi masa muda abadi yang bertugas menghidangkan ambrosia dan nectar pada dewa-dewi.


Minerva (Athena)

Minerva adalah putri sulung Jupiter yang lahir dari kepala Bapa Semesta Alam tersebut. Cerita tentang kelahirannya yang aneh tersebut adalah sebagai berikut ;
Suatu hari Terra (Gaia/Gea) mendatangi Jupiter di balai para dewa dan meramalkan bencana yang bakal menimpanya. Jupiter akan memiliki dua orang anak dari istrinya, Methys, yang saat ini sedang mengandung. Anak pertama yang sedang dikandung akan menjadi pembantu setia Jupiter dalam segala hal, sedangkan anak kedua yang akan dikandung akan memberontak melawannya.

Untuk menghindari bencana yang akan menimpa dirinya kemudian Jupiter mendatangi Methys. Dibuainya Methys dengan kata-kata manis sehingga Methys menjadi terlena. Saat terlena itulah Jupiter memeluk Methys dan menyatukannya dengan dirinya. Dengan demikian tak akan pernah ada anak kedua yang dikandung oleh Methys. Jupiter telah terbebas dari bencana yang akan menimpanya.

Ketika sampai waktunya bagi Methys untuk melahirkan anaknya, Jupiter merasakan sakit kepala yang tak tertahankan. Begitu tak tertahankannya sehingga akhirnya kepalanya terbelah. Dari kepala Jupiter tiba-tiba memancar cahaya yang kemudian berubah bentuk menjadi seorang wanita muda berambut keemasan bergelombang dan bermata biru. Wanita tersebut mengenakan helm, membawa tombak dan perisai di tangannya. Jupiter menamai putrinya yang baru lahir tersebut Minerva (Athena).

Minerva menjadi dewi kebijaksanaan yang mengusir Kebodohan, yaitu putri Nox yang sampai saat itu masih berkeliaran di dunia. Dia menjadi pembantu dan penasehat utama Jupiter dalam segala hal. Kecintaannya pada kemanusiaan yang sangat besar telah melahirkan gagasan-gagasan cemerlang dari benaknya, yaitu seni, filsafat, astronomi, matematika, dan mekanika.

Pernah ada seorang gadis yang pandai menenun meremehkan kemampuan Minerva dan menantangnya bertanding. Nama gadis tersebut adalah Arachne. Minerva menyambut tantangan Arachne. Segera mereka mengadu keterampilan mereka bekerja dengan gelendong benang dan alat tenun. Minerva menenun selembar kain bergambar adegan yang menceritakan saat para dewa-dewi menentukan kota Attica, yang diperebutkannya dengan Neptune sang dewa samudra, menjadi miliknya. Arachne menenun selembar kain bergambar adegan yang menceritakan saat penculikan Europa, putri Raja Agenor dari Sidon, oleh Jupiter yang menyamar sebagai seekor sapi jantan. Dalam adegan itu, dia melukiskan sang dewa terjebak oleh nafsu rendahnya.

Mendidihlah darah Minerva oleh amarah atas kekurang-ajaran Arachne yang ditujukan pada ayahnya. Namun dia harus mengakui bahwa kain tenunan Arachne memang indah tanpa cacat. Sambil tersenyum mengejek Minerva merenggut kain tersebut dan merusaknya, lalu memperingatkan pada yang hadir bahwa seni sejati lahir dari hati yang penuh cinta bukan oleh kesombongan apalagi kebencian. Arachne yang merasa malu mendengar kata-kata Minerva lalu mengakhiri hidupnya. Minerva yang merasa iba menyaksikan nasib Arachne yang berakhir tragis kemudian mengubahnya menjadi makhluk yang selalu menenun seumur hidupnya, yaitu laba-laba. Namun sekarang tak ada lagi yang menghargai hasil tenunannya. Orang akan segera mengambil sapu untuk menyingkirkan hasil pekerjaannya bila mereka melihatnya. Kata laba-laba dalam bahasa Prancis, 'araigne', memang berasal dari nama Arachne.

Meskipun terlahir dengan senjata-senjata Minerva selalu menjadi dewi yang paling membenci pertempuran. Namun demikian dialah yang pertama kali akan terjun ke medan perang bila kemanusiaan dan perdamaian terancam bahaya. Memang selalu orang yang paling mencintai kemanusiaan dan perdamaian yang akan pertama terjun ke medan pertempuran bila memang diperlukan. Di medan perang Minerva akan menjadi dewi yang tak terkalahkan berkat perisainya yang bernama Aegis, yang bahkan dapat menahan petir Jupiter. Di masa damai, bersama Pax (Irene), dewi perdamaian, dan Ceres (Demeter), dewi pertanian, Minerva (Athena) akan mengajarkan peradaban pada umat manusia.

Konon Minervalah yang membangun tembok-tembok kota dan Acropolis di Attica yang kelak menyandang namanya dalam bahasa Yunani, Athena. Burung hantu menjadi binatang kesayangannya karena sorot matanya yang cerdas sedangkan zaitun menjadi tanaman suci baginya karena memiliki banyak kegunaan bagi umat manusia. Minerva jugalah yang selalu menjadi pendamping dan pengilham bagi para pahlawan, filsuf, seniman, dan para pakar di bidang kemanusiaan yang lainnya. Minerva adalah dewi yang tetap perawan karena kecintaannya pada kemanusiaan membuatnya menolak mencintai pria manapun.(HPK doc.)

The Greek names of the classical deities:
Jupiter: Zeus
Juno: Hera
Minerva: Pallas Athena
Mars: Ares
Venus: Aphrodite
Vulcan: Hephaestus
Mercury: Hermes
Diana: Artemis
Latona: Leto
Aesculapius: Asclepius
Meditrina: Epione
Juventus: Ivy/Hebe
Lucina: Eileithyia
Ceres: Demeter
Vesta: Hestia
Neptune: Poseidon
Pluto/Dis: Hades
Proserpine: Persephone/Kore
Mors: Thanatos
Somnus: Hypnos
Morpheus: Oneiros
Cupid: Eros
Hermione: Harmonia
Discordia: Eris
Sol: Helios
Luna: Selene
Aurora: Eos
Lucifer: Phosphor
Vesper: Hesperus
Bacchus: Dionysus
Saturn: Chronos
Cybele: Rhea
Caelus: Uranus
Terra/Tellus: Gaia/Gea
Amor: Agape
Dia: Emera
Justitia: Themis
Pax: Irene
Victoria: Nike
Fortis: Bia
Fury: Eumenides/Erinnies
Parcae/Fata: Moirae
Grace: Charites
Felicitas/Fortuna: Tyche
Ver: Thallo (Tunas)
Aestas: Auxo (Tumbuh)
Autumna: Karpo (Masak)
Hyem: Chionia (Salju)
Aquilo: Boreas
Favonius: Zephyr
Eurus: Argestes
Auster: Notus
Catamite: Ganymede
Hercules: Heracles/Alcides
Arianna: Ariadne


(Sumber:Forum KG/Legenda Dewa&Dewi Yunani/Hansel)

Read more.....

Selasa, 30 Oktober 2007

Orpheus & Eurydice - Part. 3




Di Hades Orpheus menjumpai pemandangan yang suram tak menyenangkan. Tampak olehnya jiwa-jiwa berbaris menunggu keputusan dijatuhkan oleh Justitia, dewi keadilan, dan Hakim-hakim Hades bagi mereka apakah mereka harus melanjutkan hidup di Tartarus (neraka) atau di Padang Elysium (surga) sesuai dengan perbuatan mereka semasa hidup.

Duduk di atas tahta Hades yang bertatahkan batu-batu mulia Pluto, penguasa Hades yang keras hati, dewa yang ditakuti setiap makhluk hidup. Di sampingnya duduk Proserpine, ratu Hades sendiri. Di sekeliling mereka berdirilah tiga Fury atau Eumenides: Tisiphone, Megaera, dan Alecto, yaitu dewi-dewi pembalasan yang bertugas menghukum jiwa-jiwa yang semasa hidupnya berbuat jahat.

Wajah Pluto yang sudah menakutkan tersebut tampak lebih seram ketika dilihatnya Mercury datang beserta Orpheus.

"Mercury, siapakah makhluk kurang ajar ini yang merasa dunia berada dalam genggaman tangannya sehingga tanpa menyayangkan hidupnya sendiri berani datang kemari, ke kerajaan orang-orang matiku?" geram Pluto kepada Mercury.


Segera Orpheus menjelaskan siapa dirinya dan maksud kedatangannya.

"Penguasa Hades yang agung, aku Orpheus, putra Apollo dari Calliope, datang kemari untuk menjemput jiwa istriku."

"Istrimu?"

"Peri hutan Eurydice. Kami hidup berbahagia di atas sana sampai pada hari saat takdir kejam merenggutnya dari sisiku. Kini aku memohon kemurahan hatimu agar bersedia mengembalikan jiwa Eurydice pada kehidupan. Sebab kurasakan terlalu singkat kebahagiaan yang telah kami nikmati, terlampau pendek hari-hari yang telah kami jalani bersama."

"Lancang! Kesombongan macam apa yang kau pertontonkan di hadapanku ini? Tak tahukah kau bahkan Jupiter Penguasa Semesta, sendiri enggan untuk meminta padaku mengembalikan jiwa orang yang telah mati kembali pada kehidupan? Dan kau! Atas nama siapa yang telah membuatmu berani mengajukan permohonan yang mustahil ini?"

"Atas nama Cinta yang telah melahirkan kehidupan, yang kuasanya mencakupi seluruh makhluk dan mengatasi kita semua, bahkan para dewa-dewi. Atas namanyalah aku datang kemari dan berdiri memohon di hadapanmu."

"Cinta!" ujar Plutodingin, "untuk apa kaubawa-bawa Cinta dalam hal ini? Apa urusannya Cinta dengan orang-orang mati? Terangkan padaku, Orpheus, apa arti Cinta!"

"Penguasa Hades yang agung, sungguh aku tak pernah berkehendak mengguruimu tentang makna Cinta, tetapi dengarlah apa arti cintaku pada Eurydice! Panjang jarak yang harus kutempuh kemari, bukannya sedikit bahaya yang menghadang di perjalananku, Sungai Styx telah kuseberangi, dan Cerberus kuhadapi. Segala derita kutanggung dan susah payah kuabaikan hanya dengan harapan agar Eurydice boleh kembali ke sisiku. Dialah belahan jiwaku dan pangkal kebahagiaan hidupku. Jika ini tak layak disebut Cinta, maka aku tak tahu lagi apa yang dimaksud dengan Cinta."

Orpheus menyampaikan semua hal tersebut dalam nyanyian diiringi petikan dawai-dawai liranya. Dalam sekejap semua makhluk di Hades terdiam. Tak ada satupun yang bersuara. Semuanya seakan terbius oleh permainan lira Orpheus dan suaranya yang mengalun merdu.

Pluto sendiri, yang telinganya terbiasa oleh ratapan jiwa-jiwa yang menangisi orang-orang yang mereka tinggalkan, tersentuh hatinya oleh nyanyian Orpheus. Terlebih-lebih bagi Proserpine yang juga merupakan dewi musim semi. Nyanyian tersebut menembus jiwanya. Teringat olehnya hari-hari bahagianya di atas sana sebelum diperistri Pluto. Teringat olehnya akan hangatnya sinar matahari, akan kicau burung yang merdu, gemercik air sungai yang sebening kristal dalam perjalanannya menuju ke hilir, dan akan pasangan-pasangan kekasih yang berlarian di padang bunga yang bermandikan cahaya matahari yang keemasan, sehingga tanpa disadari air matanya telah berderai membasahi pipinya.

"Orpheus, oh, Orpheus! Kasih!" tiba-tiba terdengar satu suara menyeruak keheningan di antara yang hadir...

To be continued...

(Sumber:Forum KG/Legenda Dewa&Dewi Yunani/Hansel)

Read more.....

A Little Secret Between Moon and Earth - Part 3



A Little Secret Between Moon and Earth
(Part. 3)

Ditulis oleh : JupieZee
Pada tanggal : 30 Oktober 2007

"Kamu..." kata-kata keheranan terlontar dari mulut Kent.

"Maaf, aku telah mengganggu kamu lagi. Telah memakai tempat tidur dan selimutmu demi sebuah kehangatan. Aku kelelahan." ujarnya polos, sambil mengusap-usap matanya.

"Eh, Bunny kemana?" lanjutnya lagi mencari-cari kelincinya. Kent masih terdiam, seolah tak percaya dengan apa yang di lihatnya.

"Maaf, itu tadi tongkat sihir kamu ya? Waah, besar sekali..." si Gipsy menatap takjub ke arah Kent dan tongkat pemukul yang tergeletak di samping lemari. Kent jadi salah tingkah melihat gelagat aneh si jelita yang sudah mencuri hatinya itu. Si jelita yang menghampirinya di pertigaan malam. Si jelita yang tadi mencium kedua pipinya dan langsung menghilang di balik awan. Si jelita yang tanpa sengaja telah menancapkan panah cupid ke jantung hatinya. Si jelita yang untuk kedua kalinya kembali membuatnya terpana.


Setelah berhasil meredakan degup jantungnya, untuk pertama kalinya Kent mulai menyunggingkan satu senyum persahabatan, "Hm…iya, itu tongkat sihir yang maha dahsyat! Makanya, kamu jangan macam-macam seperti itu. Seandainya kamu diketuk tongkat tadi, ck-ck-ck..." sifat iseng Kent muncul. Si gadis gipsy bergidik, ngeri menatap tongkat yang tadi di genggam Kent. Perlahan dia beringsut mundur, bersandar di dinding.

"Hey! Jangan ketakutan seperti itu dong! Emangnya aku penyihir, apa?!" Terang Kent sembari menepuk lembut bahu si gipsy.

"Pakaian kamu kok basah? Nanti kamu masuk angin." Ujar Kent keheranan, ketika merasakan udara lembab dari pakaian si gadis jelita di telapak tangannya.

"Itulah sebabnya, kenapa aku menyelinap kembali kesini,” Ujar si gadis gipsy lirih, “Aku membutuhkan sedikit kehangatan untuk mengeringkan pakaian satu-satunya milikku ini, Aku tidak membawa pakaian ganti." Sesalnya kemudian sambil menggeleng-gelengkan kepalanya , sedih.

Melihat kesedihan si gadis jelita yang sudah merebut hatinya, jiwa pelindung Kent langsung mengepak-ngepakkan sayapnya. Tanpa di komando, Kent beranjak menuju lemarinya dan mulai mengobrak-abrik, mencari sesuatu.

"Ini, ganti dulu pakaianmu! Ini yang paling kecil yang aku punya. Mudah-mudahan saja muat di badan kamu." Kent menyodorkan pakaian barunya yang semenjak dia beli, belum pernah sekalipun dia pakai karena ukurannya yang memang kekecilan.

Dengan tersenyum manis, si gadis gipsy menerima pakaian yang disodorkan Kent. Dia terharu akan ketulusan Kent, matanya berkaca-kaca.

"Terimakasih." Ucapnya lirih

"Maaf! hanya itu yang aku punya, aku tidak tahu, apakah pakaian itu....." Kent melanjutkan kalimatnya namun terputus oleh jawaban si gadis gipsy.

"Ini bagus sekali, sudah lebih dari cukup." Jawab si gadis gipsy sambil membelai lembut pipi Kent. Sorot matanya menatap lembut, membuat jantung Kent semakin berpacu tidak karuan.

"Kenapa" Tanya kent bingung, ketika melihat gadis jelita di hadapannya mulai gelisah.

"Nggh... Aku mau mengganti pakaianku. Tapi... Aku..." si gadis gipsy menunduk malu. "Mm... kalau tidak keberatan, aku mohon kamu berbalik membelakangiku sebentar...Aku…" Tanpa menunggu diucapkan dua kali, Kent reflek membalikkan tubuhnya sambil tersenyum penuh pengertian.

"Namaku Zweeth. Maaf ya, aku tidak terbiasa ada orang bersamaku ketika aku mengganti pakaian" ujar si gadis gipsy, mulai menceritakan tentang dirinya sambil melepaskan pakaiannya satu persatu.

Kent terperangah ketika mengarahkan pandangannya ke depan. Dari cermin yang ada di lemarinya, dia bisa menatap jelas sosok polos gadis jelita yang ada di belakangnya. Seketika dia menahan nafas, sambil mencoba memejamkan mata. Namun rasa takjub dan penasaran menahan niatnya tersebut. Sambil mencuri-curi, melalui pantulan dari cermin. Kent terus menatap tak berkedip, sosok di belakangnya melepaskan semua atribut yang dikenakan, kemudian menggantinya dengan pakaian yang tadi di pinjamkannya. Pakaian yang sama sekali tidak sesuai dengan ukuran tubuh si gadis gipsy, membuat tubuh itu makin nampak kecil, kedodoran. Sehingga leher baju yang menggantung di bahu si gipsy menampilkan bagian atas payudaranya. Jantung Kent semakin berdebar-debar.

"Sudah beres. Sekarang kamu boleh berbalik." Ujar Zweeth malu-malu sambil menatap punggung Kent yang secara perlahan mulai berbalik.

"Waah... Kebesaran, ya?" komentar Kent setelah membalikkan tubuhnya.

"Maaf, ya... hanya pakaian itu yang aku punya." lanjut Kent, penuh penyesalan.

"Ssst... Ini sudah lebih dari cukup kok... Harusnya aku berterimakasih atas kebaikan kamu." Zweeth tersenyum sambil menempelkan jari telunjuknya di bibir Kent.

Tatapan mata mereka saling beradu. Ada perasaan hangat mengaliri hati dua insan tersebut. Mata mereka seakan berbicara hal-hal yang tidak terkatakan, seakan memahami ada sesuatu yang terjadi, tapi tidak bisa dimengerti. Entah siapa yang memulai, tiba-tiba tangan mereka sudah saling bergenggaman. Genggaman sangat erat yang mengalirkan ribuan volt sampai ke pembuluh darah, jantung, hati, otak dan bahkan tulang sumsum mereka. Dari ujung kaki hingga ujung rambut, getaran yang di akibatkannya, menghadirkan satu sensasi yang sangat hebat. Pengalaman sensasional yang baru pertama kali dialami Zweeth.

"Kamu kelihatan lelah sekali, Zweeth. Sudah waktunya istirahat!" desis Kent lirih, menahan debaran jantungnya yang semakin terasa menggila. Dengan jemarinya, dia merapikan anak rambut yang menjuntai lemas di kening Zweeth.

Tanpa melepaskan genggaman tangan, mereka mulai memasuki peraduan. Setelah terlebih dahulu menutupi tubuh mereka dengan selimut hingga kebawah dada, perlahan mereka berbaring sambil berhadapan. Saling menatap lembut satu sama lain. Kent menepiskan semacam benang yang menempel di dada Zweeth. Tanpa sengaja jemari hangatnya menyentuh sepasang bukit kembar Zweeth. Kent kikuk, khawatir Zweeth marah. Ragu-ragu, ditatapnya mata indah Zweeth dengan tatapan penyesalan. Ketika didapatinya semburat merah yang merona di kedua pipi Zweeth, rasa sesal itu tiba-tiba sirna.

Zweeth terlihat malu-malu. Kent yang memang telah dirasuki hawa panas dari racun yang di tebarkan oleh panah cintanya cupid, mulai memberanikan diri untuk mencoba bertindak lebih jauh. Dengan penuh kelembutan di belainya bukit kembar Zweeth yang tersembul sebagian, karena longgarnya baju pinjaman tersebut. Zweeth menunduk, sebuah desahan yang lebih mirip erang kenikmatan tanpa sengaja terlepas dari bibirnya.

Kent terpesona. Perlahan diangkatnya dagu Zweeth, sorot matanya menatap tajam penuh makna. Perlahan tapi pasti, wajah mereka semakin lama semakin mendekat, sampai akhirnya kedua bibir mereka beradu. Sekejap kedua insan yang sudah terkena bisa dari panah dewa asmara tersebut, telah tenggelam kedunia lain. Dunia yang penuh dengan aneka warna pelangi. Saling memagut, bergumul, dan bergulat. Zweeth merasakan tubuhnya melayang dan telah sampai di bulan, tapi tidak bersama kelincinya.

Jam 3.00 dini hari. Udara di luar telah berubah menjadi dingin. Namun kedua insan yang tengah dimabuk asmara tersebut bermandikan peluh. Dinding kamar dan tempat peraduan Kent, menjadi saksi dari 'sauna' mereka. (hpk/doc/Oct/2007)

THE END

Coming soon!
Another Secret between Moon and Earth by Naomi

(The Anger of Aunt Gwendolyn Episode)


Read more.....

Rabu, 24 Oktober 2007

The Golden Age of Classical Myths - Part 1


"The Golden Age of Classical Myths Part 1"

Bangsa Yunani Kuno percaya bahwa bumi berbentuk bundar seperti cakram dengan negeri mereka di tengah-tengah dan Gunung Olympus sebagai pusat alam semesta. Daratan membentang dari barat ke timur dan terbagi atas dua bagian yang sama besar oleh daerah perairan, yaitu Laut Tengah dan kelanjutannya Laut Euxine (Laut Hitam), sementara Sungai Ocean (yang sesungguhnya adalah Samudra Atlantic) mengelilingi cakram bumi dari selatan ke utara.

Jauh di sebelah utara terdapat suatu negeri yang disebut Hyperborea yang konon didiami oleh suatu ras yang hanya mengenal kebahagiaan. Di sana udara selalu nyaman serta buah-buahan dipanen sepanjang tahun. Sedangkan jauh di sebelah selatan terdapat negeri yang disebut Ethiopia yang penduduknya mengalami kebahagiaan dan masa muda abadi. Konon dewa-dewi bahkan merasa terhormat bila dapat tinggal bersama mereka.

Matahari, bulan, bintang-bintang, dan fajar dipercaya terbit dari istana mereka di sebelah timur dan terbenam di Sungai Ocean di sebelah barat di mana telah menunggu perahu yang akan membawa mereka kembali ke istana emas mereka di timur.

Istana dewa-dewi berada di Gunung Olympus, di Thessaly. Gerbangnya selalu diselimuti awan oleh dewi-dewi musim. Meski para dewa-dewi tersebut tinggal di istana yang berbeda-beda namun mereka senantiasa berkumpul di balai para dewa, di kediaman Zeus (Jupiter). Dewa-dewi tersebut serupa dengan manusia dalam banyak hal kecuali bahwa mereka lebih berkuasa dan abadi berkat makanan yang mereka santap, yaitu ambrosia, dan minuman yang mereka minum, yaitu nectar. Meski terkadang penderitaan menimpa mereka namun kebahagiaan pasti akan selalu kembali menyelimuti Olympus.

The Creation

Konon sebelum semua tercipta yang ada hanyalah kekosongan dan kekelaman yang disebut Chaos bersama istrinya yang disebut Nox, yaitu dewi malam. Dari perkawinan mereka lahirlah Erebus, yakni dewa kegelapan, yang kemudian mengusir Chaos dan mengawini ibunya sendiri. Terlahir dari perkawinan tersebut Ether, yaitu dewa udara yang kebiruan, serta Emera (Dia), yakni dewi siang yang cemerlang berseri-seri. Ketika bertahta, mereka mengusir Erebus dan Nox lalu mulai memerintah.

Dari pasangan ini lahirlah anak-anak yang tampan, cantik, dan perkasa, yaitu Gaia (Terra), dewi bumi yang penuh pesona; Caelus (Uranus), yaitu langit yang perkasa, yang menyelimuti bumi dengan jubah birunya; Pontus, lautan yang jubahnya membentang menutupi sebagian besar permukaan bumi; Agape (Amor), yaitu dewi cinta yang membawa benih-benih kehidupan; dan Tartarus, yaitu neraka yang amblas ke dalam bumi dengan kedalaman yang tak terukur dan tak terjangkau oleh terang. Di sinilah tinggal Chaos, Nox, dan Erebus yang terusir.

Ketika Ether dan Dia turun tahta, Caelus naik tahta dengan Terra mendampinginya sebagai permaisurinya. Dengan dibantu Amor yang membawa benih-benih kehidupan, Caelus dan Terra melahirkan anak-anak mereka para titan (pria) dan titanid (wanita) yang perkasa antara lain: Saturn (Chronos), Oceanus, Iapetus, Hyperion, Coeus, Crius, Cybele, Justitia, Tethys, Theia, Mnemosyne, Eurybia, Phoebe, dan para Cyclop, yaitu raksasa-raksasa bermata tunggal: Brontes (Guntur), Steropes (Petir), dan Arges (Kilat), serta raksasa-raksasa berlengan seratus yang disebut Centimani: Cottus, Gyes, dan Obriareus. Sementara dari perkawinannya dengan Pontus, Terra melahirkan Nereus, Thaumas, Phorcys, dan Ceto.


The Titans' Rebellion

Suatu ketika Caelus murka dengan tingkah laku para titan yang dianggapnya tidak menghormatinya, maka dilemparkannya putra-putranya tersebut ke dalam Tartarus untuk menghukum mereka. Namun Terra yang merasa iba melihat nasib putra-putranya kemudian pergi membebaskan mereka.

Saturn yang paling perkasa kemudian mendatangi Caelus di saat sedang beristirahat dan dengan senjata sabitnya yang bermata berlian dia melukai ayahnya sampai tak berdaya. Terdengarlah pekik kemenangan Saturn di seluruh jagat, karena kini dialah yang berkuasa menggantikan Caelus. Namun Caelus sempat menjatuhkan kutukannya kepada Saturn bahwa kelak seorang putranya juga akan menjatuhkannya dari tahtanya.

Nox kemudian melahirkan makhluk-makhluk yang mengerikan untuk menghukum Saturn, yaitu Nemesis, Kebencian, Kelaparan, Dusta, Fitnah, Kekejaman, Penderitaan, dan sebagainya.

Saturn bertahta menggantikan ayahnya. Dia mengawini saudarinya, salah seorang titanid, yaitu Cybele. Dari perkawinan ini lahirlah lima orang anak, yaitu Vesta, Juno, Ceres, Neptune, dan Pluto. Namun teringat akan kutukan ayahnya, Saturn menelan semua anaknya begitu mereka dilahirkan untuk menghindari bencana bagi dirinya.

Jupiter (Zeus)

Pada saat kehamilannya yang keenam Cybele yang berduka oleh ulah Saturn terhadap anak-anak mereka sendiri kemudian pergi ke lereng Gunung Dicte di Crete untuk melahirkan bayinya agar selamat dari incaran suaminya. Sekembalinya ke istana Saturn, Cybele berpura-pura mengerang sakit hendak melahirkan. Setelah persalinannya selesai dia menyerahkan bungkusan bayinya kepada Saturn untuk ditelan. Tanpa memeriksa lagi Saturn menelan bungkusan yang diberikan oleh istrinya tersebut yang ternyata berisi sebongkah batu.

Putra keenam Saturn dan Cybele yang selamat dari kebuasan ayahnya diasuh oleh para peri di hutan lereng Gunung Dicte, terutama Melia dan Adrastea. Mereka menamai bayi itu Jupiter. Para makhluk menyayangi dewa kecil tersebut seolah mereka tahu bahwa kelak Jupiterlah yang akan membebaskan mereka dari cengkeraman sang tiran Saturn. Seekor kambing betina, Amalthea, setiap hari memberikan air susunya kepada Jupiter dengan kasih sayang seorang ibu, kelak setelah Jupiter berkuasa Amalthea ditempatkan di angkasa di antara para bintang menjadi rasi bintang Capricorn.

Jupiter tumbuh dewasa dan menjadi seorang pemuda yang perkasa dan cerdas. Sahabatnya adalah seekor rajawali besar bernama Aquila yang kerap membawakannya ambrosia dan nectar serta menceritakan hal-hal yang terjadi di seputar jagat. Jupiter menjadi tahu bahwa Saturn telah memerintah dunia ini didasari tindak kejahatan dan bertekad untuk menyelamatkan dunia ini dari kekejaman Saturn.

The Battle against the Titans

Suatu ketika Jupiter mendapat kabar dari Oceanus bahwa Saturn yang saat itu memerintah semesta dengan kekejaman dan tindak tirani ternyata adalah ayahnya. Dia juga diberitahu bahwa saudara-saudarinya telah ditelan oleh Saturn segera setelah mereka dilahirkan. Bertambah bulatlah tekadnya untuk menyelamatkan dunia ini dari cengkeraman Saturn. Oleh karena itu dia mengumpulkan sekutu-sekutunya yang juga menentang Saturn.

Namun sebelum itu dengan bantuan Methys, seorang putri Oceanus, dia membuat ramuan yang kemudian dipersembahkannya kepada Saturn. Setelah meminum ramuan tersebut Saturn memuntahkan kembali semua anaknya yang ditelannya.Jupiter kemudian mengajak saudara-saudarinya tersebut bergabung melawan Saturn.

Ketika merasa diancam bahaya Saturn segera menghubungi saudara-saudaranya para titan untuk membantunya. Sementara itu Jupiter telah berhasil mengumpulkan sekutu-sekutunya, yaitu saudara-saudarinya beserta Oceanus dan putri-putrinya, para Oceanid; Prometheus dan Epimetheus, putra-putra titan Iapetus. Mereka membangun markas di puncak Olympus kemudian mengelilingi altar bersumpah akan mengembalikan kedamaian dan ketentraman di semesta ini dengan menumbangkan kekuasaan Saturn.

Jupiter juga melepaskan para Cyclop dan Centimani dari Tartarus untuk membantunya melawan Saturn dan para titan. Sebagai tanda terima kasihnya para Cyclop kemudian membuatkan senjata-senjata untuk Jupiter dan saudara-saudaranya, yaitu petir untuk Jupiter, trisula yang dapat mengguncang bumi dan lautan untuk Neptune, dan dwisula yang dapat membelah bumi dan helm yang membuat pemakainya menjadi kasat mata untuk Pluto.

Perang melawan para titan berkobar sepuluh tahun lamanya. Namun akhirnya keunggulan Jupiter dengan sekutu-sekutunya terbukti. Para titan yang kalah kembali dijebloskan ke dalam Tartarus, dirantai dengan rantai berlian dan dijaga oleh para Centimani. Atlas, saudara Prometheus dan Epimetheus yang membantu para titan dihukum memanggul langit di pundaknya selamanya, sedangkan Saturn melarikan diri ke Italy.

Jupiter naik tahta menggantikan Saturn. Dia membagi-bagikan kekuasaan kepada saudara-saudarinya. Neptune menjadi penguasa lautan, Pluto merajai Hades (kerajaan orang mati), Juno menjadi ratu langit dan permaisurinya. Namun Jupiterlah yang paling berkuasa atas mereka semua. Kehendak dan kata-katanya menjadi hukum yang harus dipatuhi. Memang seluruh makhluk memandangnya sebagai Bapa Semesta Alam karena dialah yang menyelamatkannya dari cengkeraman Saturn. Dari istananya yang berselimut awan di Gunung Olympus Jupiter memerintah dunia dibantu oleh dewa-dewi lainnya.

Jupiter kerap dilukiskan sebagai pria tua berambut dan berjanggut keperakan memakai jubah putih. Di tangannya tergenggam senjatanya yang tak terkalahkan, yaitu petir, dan tongkat kerajaan ::king:: di tangannya yang lain sementara bola dunia di bawah telapak kakinya. Di sampingnya Aquila yang perkasa mengepakkan sayapnya. Image Tuhan Allah dalam seni Kristen diilhami oleh figur Jupiter.(HPK doc.)

The Greek names of the classical deities:
Jupiter: Zeus
Juno: Hera
Minerva: Pallas Athena
Mars: Ares
Venus: Aphrodite
Vulcan: Hephaestus
Mercury: Hermes
Diana: Artemis
Latona: Leto
Aesculapius: Asclepius
Meditrina: Epione
Juventus: Ivy/Hebe
Lucina: Eileithyia
Ceres: Demeter
Vesta: Hestia
Neptune: Poseidon
Pluto/Dis: Hades
Proserpine: Persephone/Kore
Mors: Thanatos
Somnus: Hypnos
Morpheus: Oneiros
Cupid: Eros
Hermione: Harmonia
Discordia: Eris
Sol: Helios
Luna: Selene
Aurora: Eos
Lucifer: Phosphor
Vesper: Hesperus
Bacchus: Dionysus
Saturn: Chronos
Cybele: Rhea
Caelus: Uranus
Terra/Tellus: Gaia/Gea
Amor: Agape
Dia: Emera
Justitia: Themis
Pax: Irene
Victoria: Nike
Fortis: Bia
Fury: Eumenides/Erinnies
Parcae/Fata: Moirae
Grace: Charites
Felicitas/Fortuna: Tyche
Ver: Thallo (Tunas)
Aestas: Auxo (Tumbuh)
Autumna: Karpo (Masak)
Hyem: Chionia (Salju)
Aquilo: Boreas
Favonius: Zephyr
Eurus: Argestes
Auster: Notus
Catamite: Ganymede
Hercules: Heracles/Alcides
Arianna: Ariadne


(Sumber:Forum KG _Legenda Dewa&Dewi Yunani/Hansel)

Read more.....

Senin, 22 Oktober 2007

A Little Secret Between Moon and Earth - Part 2


A Little Secret Between Moon and Earth-Part 2
Ditulis oleh : JupieZee
Pada tanggal : 22 Oktober 2007


Di atas sana, sosok jelita itu terus saja melesat tinggi. Tak perduli dengan sang bayu dan kegelapan malam yang mulai menghajarnya. Dia harus bisa sampai ke bulan. Setelah hampir satu windu menghilang, malam ini juga, Bunny harus segera di antarkan kembali ke bulan! Itu tekadnya.

Malam merangkak, pelan. Dinginnya angin mulai menusuk tulang. Dirapatkan sang kelinci ketubuhnya. Wajahnya beku ditampar dinginnya malam. Dia mulai kelelahan. Berkali-kali dia terpental akibat melaju kencang melawan arah angin. Berkali-juga dia tergelincir dari sapunya karena menahan kantuk yang mulai menyerang.

Bersamaan dengan mengganasnya sang penguasa malam, titik-titik embun mulai bermunculan. Jemarinya yang menggenggam erat tangkai sapu, perlahan mulai menjadi kaku dan mati rasa. Pipinya terasa menebal. Pakaian gipsy yang membaluti tubuhnya tidak sanggup lagi menahan rembesan embun dini hari dan membuatnya lembab. Ia mulai menggigil hebat, kedinginan.

"Aku harus bisa..." desisnya lirih namun penuh dengan rona keputus asaan. Dibungkukkan tubuhnya kedepan merapat pada tangkai sapunya. Ia kembali menerjang angin dan pekatnya malam. Tapi kali ini dia terpental lebih jauh. Sesaat dia mulai putus asa. Dengan terbang yang mulai terseok-seok, dia kembali berusaha untuk mencari arah, yang sempat mengabur. Tiba-tiba dia berhenti di udara. Mulai terisak. Ditatapnya bulan yang tenggelam di balik selubung kelam. Tak ada lagi cahaya bulan yang menuntun arah terbangnya. Diangkatnya sang kelinci tinggi-tinggi.

"Lihat! Bahkan sang Empunya malampun enggan bersahabat dengan kita!" lengkingnya seraya menunjuk ke arah bulan yang tersaput kabut.
"Aku rasa, aku tidak sanggup lagi, Bunny... Aku lelah... Letih sekali." Bunny hanya balas menatap dengan mata polosnya. Si gadis gipsy terenyuh melihat tatapan kelinci yang seolah mengerti segala keputus asaannya itu, dipeluknya kelinci putih tersebut erat-erat.

"Jangan khawatir, Bunny. Kita pasti bisa! Tapi sekarang kita harus istirahat dulu, tubuhku mulai membeku. Aku butuh kehangatan dan tempat untuk sekedar berbaring." ujarnya seraya mengamati pemandangan yang terhampar di bawah.

Perlahan dia mulai terbang lagi, tatapannya mencoba mencari-cari. Tapi tidak satu kehangatan pun, yang dijumpainya. Rasa kalut mulai menghampirinya. Ketika kepanikan mulai memuncak, perlahan kabut dibawah sapunya mulai terkuak. Si gadis gipsy terpekik gembira sambil melepaskan pegangannya dari sapu. Hampir saja dia jatuh terjungkal kalau tidak cepat-cepat menyambar tangkai sapunya kembali. Dimantapkan hatinya. Pandangannya tertuju pada satu tanda kehidupan yang masih bersinar di bawah sana. Satu-satunya tanda kehidupan yang masih terlihat. Dia mulai tersenyum.

"Nah, Bunny! Ada kehangatan dibawah sana!" Ia melesat bak anak panah yang dilepaskan dari busurnya, menukik turun. Mendekap erat kelinci, menyipitkan mata dan menajamkan penglihatan. Dinginnya angin yang kembali menampar wajah dan tubuhnya dengan membabi buta, tidak lagi dihiraukan. Harapannya cuma satu, segera sampai di tempat yang dituju.

"Wah! Harusnya tadi aku pinjam kaca mata pilotnya bibi Gwendollin, Bunny!" selorohnya keras melawan lajunya deru sang Bayu.

Tanda kehidupan itu semakin terang. Terang bagaikan bintang timur yang menghiasi langit malam. Tanda kehidupan yang berasal dari sebuah kamar yang terletak di lantai dua rumah tersebut.

Sang gipsy bersembunyi diantara rimbunnya daun pepohonan. Matanya tak berkedip, mengamati setiap gerak gerik yang ada. Sepi. Kembali diarahkan pandangannya ke sumber cahaya tersebut. Pikirannya dipenuhi oleh kehangatan. Kehangatan sehelai selimut dan seonggok bantal. Dari balik jendela yang terbuka lebar, dia melihat seseorang yang bertampang macho tengah tenggelam dalam bola kristalnya. Dia heran melihat bola kristal yang di miliki orang tersebut. Bola kristalnya berbentuk kotak, tidak bulat seperti milik bibi Gwen. Jari jemari si pemilik kotak kristal tersebut menari-nari di atas sebuah papan yang aneh.

"Pasti dia sedang merapal mantra!" desisnya menduga-duga. Beberapa saat kemudian dia terpana dengan sesuatu yang muncul di kötak kristal tersebut. Seorang wanita cantik mulai memamerkan berbagai macam gaya, di iringi sebuah senandung merdu yang mengalun dari bibirnya. Sekejap si gadis gipsy terpesona mendengar alunan merdu tersebut. Laksana terhisap aliran magnet, tanpa sadar dirinya mulai melayang melewati jendela dan masuk ke dalam ruangan yang penuh dengan kehangatan itu.

Dengan anggun, dipijakan kakinya di karpet hijau ruangan tersebut. Udara hangat langsung menerpa pori-pori kulitnya. Sambil menghela nafas lega, diletakkannya Bunny di dalam keranjang yang kelihatan sangat pas untuknya. Setelah menyembunyikan sapu terbangnya, kemudian si gadis gipsy mulai melangkah mendekati pembaringan yang sejak di atas tadi begitu di idamkannya. Perlahan dia mulai merebahkan tubuhnya di balik selimut tebal yang terhampar di atas pembaringan tersebut. Sekejap aliran darah di tubuhnya mulai terasa lancar kembali Rasa lelah dan kantuk yang hebat kembali menyerang. Senandung merdu yang mengalun menambah rasa nyaman, dia terbuai. Beberapa detik kemudian dengkuran halus mulai keluar dari bibir tipis gipsy jelita tersebut.

Kent tersentak kaget, ketika telinganya mendengar suara aneh dari arah belakang tubuhnya. Serta merta dia menyambar pemukul baseball yang terletak di dekatnya. Penuh keheranan, dia mulai mengedarkan pandangan seraya menajamkan pendengaran.

Pandangannya tertuju pada sesuatu yang teronggok di balik selimutnya. Perlahan-lahan dia mulai melangkah sambil mengacungkan tongkat pemukul. Ditariknya pelan selimut tersebut sambil mulai mengayunkan tongkat pemukul yang ada di genggamannya, tiba-tiba satu makhluk putih kecil melesat, menabrak ayunan tangannya. Gubrak! Seketika tongkat pemukulnya terpental mengeluarkan suara berisik di ruangan tersebut. Mendapat serangan yang tiba-tiba tersebut, Kent terkejut. Matanya melotot, ke arah makhluk putih berbulu lembut yang langsung lari menghilang di balik pintu. Belum sempat Kent meredakan kekagetannya, tiba-tiba dari balik selimut satu sosok jelita menguap lebar di hadapannya, Kent terpana.

to be contiued..

Read more.....

Sign by Dealighted

Sign by Dealighted